Petugas gabungan mengevakuasi korban yang tertimbun longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Ahad (10/1). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
14 Jan 2021, 03:00 WIB

BPBD Mitigasi Longsor Susulan Sumedang

Proses pencarian korban yang diduga masih tertimbun longsor terus dilakukan.

BANDUNG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang telah mendirikan enam tenda pengungsian untuk warga Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pendirian tenda pengungsian ini sebagai langkah mitigasi adanya longsor susulan.

Kepala BPBD Sumedang Ayi Rusmana mengatakan, tenda itu didirikan untuk sekitar 125 jiwa yang lokasi rumahnya dekat dengan lokasi longsor. "Kami siapkan ada enam tenda, yang bantuan dari BPBD provinsi, pemda, maupun dari polres. Satu tenda ini kami harapkan bisa nampung 25 warga sampai 28 warga," kata Ayi, Rabu (13/1).

Pemerintah Kabupaten Sumedang mencatat ada sekitar 1.020 jiwa dari 267 kepala keluarga yang terdampak longsor yang menerjang Desa Cihanjuang itu. Hingga Rabu sore, longsor telah menewaskan 19 orang. Menurut Ayi, sebagian warga pun ada yang melakukan evakuasi mandiri ke tempat saudara maupun kerabatnya di wilayah yang aman dari bencana longsor.

Dengan adanya seratusan warga yang diungsikan itu, menurut dia, keamanan dan kewaspadaan bakal lebih terjamin apabila hujan kembali turun. Pasalnya cuaca hujan dapat meningkatkan potensi adanya longsor susulan berdasarkan kajian dari Badan Geologi. "Memang sudah siap kalau ada hujan lagi. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi memakan korban," kata Ayi.

Terkait

photo
Anggota Basarnas, TNI, Polri dan relawan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1/2021). - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Herman Suryatman menyebut, 200 lebih kepala keluarga di sekitar lokasi longsor diungsikan sebagai langkah mitigasi menghindari potensi longsor susulan. Adapun 200 lebih KK itu terdiri dari 125 KK dari kompleks perumahan berada di atas lokasi longsor, yakni Komplek SBG, kemudian ada 54 KK dari area sekitar longsor, dan ada 24 KK tambahan yang ikut diungsikan. 

Menurut dia, 200 lebih KK yang diungsikan itu dimobilisasi ke posko pengungsian yang terletak di beberapa tempat. Ia pun memastikan, suplai logistik serta air bersih bakal segera tersedia di posko pengungsian.

Penemuan korban

Sementara, proses pencarian korban yang diduga masih tertimbun longsor terus dilakukan. Meskipun, terkadang proses pencarian dihentikan sementara akibat hujan yang mengguyur daerah sekitar longsor. Hingga Rabu sore, tim SAR berhasil menemukan 19 korban meninggal.

Tiga jenazah kembali ditemukan kemarin. Satu jenazah ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB, yakni laki-laki dewasa atas nama Ahmad Yani (32 tahun).

Sementara dua jenazah lainnya ditemukan pada pukul 14.30 WIB. Kepala Kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah menuturkan, satu jenazah berjenis kelamin laki-laki dewasa berhasil dievakuasi. Sedangkan, satu jenazah lagi masih dalam proses pengangkatan.

"Satu jenazah sudah berhasil diangkat. Jenis kelamin laki-laki. Satu lagi masih dalam proses. Sepertinya akan memakan waktu lama," ujar dia.

photo
Foto udara bencana tanah longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1).  - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Sementara, Kapolsek Cimanggung Kompol Herdis Suhardiman mengatakan, cuaca di lokasi kejadian dalam kondisi mendung. Meski demikian, kata dia, pencarian masih terus dilakukan. "Cuaca mendung. Kalau hujan, pencarian akan dihentikan karena sangat riskan," kata dia.

Penyebab

Tim Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) melakukan survei geologi di kawasan bencana longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Senin (11/1). Survei dilakukan untuk menganalisis struktur geologi di kawasan permukiman tersebut.

Dosen Fakultas Teknik Geologi Unpad Dr Dicky Muslim,  mengatakan, berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan Pusat Riset Kebencanaan Unpad, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, serta sejumlah alumni FTG Unpad ditemukan bahwa wilayah yang terjadi longsor tersebut memiliki kontur lahan yang curam.

“Tadinya wilayah ini bekas tambang batu dan tanah urugan, lalu kemudian diratakan dan dijadikan perumahan,” ujar Dicky dalam siaran persnya, Selasa (12/1).

Secara geologi, kata dia, struktur tanah dan batuan di wilayah Perumahan SBG Desa Cihanjuang termasuk ke dalam bagian batuan vulkanik Qyu. Dalam Peta Geologi yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM, batuan vulkanik Qyu merupakan produk batuan vulkanik muda yang belum bisa dipisahkan, sehingga masih bercampur antara lapisan keras dengan yang halus.

photo
Petugas PMI Kabupaten Sumedang mengevakuasi jenazah korban bencana tanah longsor kedalam mobil ambulans di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (12/1).  - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Karena termasuk batuan vulkanik muda, kata dia, lapisan tanah dan batuan ini cukup rentan. Kerentanan ini sudah terlihat sebelumnya di beberapa titik. Dicky menjelaskan, batas bagian tenggara perumahan tersebut berhadapan dengan tebing yang dibatasi dengan saluran air. Diduga, ketika hujan besar tiba saluran air ini terjadi peresapan atau infiltrasi, sehingga membentuk bidang gelincir yang memungkinkan terjadinya longsor.

Menurutnya, sejumlah rumah yang berbatasan dengan tebing tersebut juga terlihat ada yang retak. Hal ini sudah mengindikasikan bahwa wilayah itu berpotensi terjadi pergeseran tanah yang akan memicu terjadinya longsor.

Hal ini, kata dia, diperparah dengan adanya proyek permukiman baru yang dibangun di atas tebing bagian utara dan tenggara perumahan SBG. Adanya aktivitas lalu lintas alat berat di tebing tersebut turut menjadikann potensi longsor semakin besar

“Secara geoteknik aktivitas tersebut melemahkan ikatan butir tanah di situ, sehingga berpotensi longsor. Apalagi memang sebelumnya wilayah longsor tersebut merupakan sengkedan yang ditanami pohon, kemudian ditebang dan di bagian bawahnya dijadikan perumahan,” papar Dicky.

photo
Petugas gabungan bersama anjing pelacak melakukan pencarian korban yang tertimbun tanah longsor di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Ahad (10/1). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Dicky mengatakan, di wilayah utara dari perumahan SBG  ada bekas galian tambang yang dibangun menjadi kawasan perumahan. Berdasarkan penuturan warga sekitar, di lokasi tersebut ada air terjun. Secara geologi, keberadaan air terjun tersebut menandakan adanya sesar atau patahan di wilayah tersebut. “Sehingga kalau ada hujan besar, gempa, akan ada pembebanan berlebih yang kemungkinan akan terjadi longsor,” katanya.

Dilihat dari jenis tanah dan retakannya ditambah dengan curah hujan yang tinggi, Dicky khawatir akan terjadi longsor susulan di daerah tersebut. Ini terlihat dari masih adanya pergerakan tanah di sekitar mahkota longsor. Selain itu, ditambah dengan adanya kemungkinan terjadi infiltrasi di saluran air yang berada pada sisi utara perumahan.

Karena itu, Dicky meminta warga maupun pemerintah daerah waspada terhadap kemungkinan bencana susulan yang akan terjadi di kawasan tersebut. Retakan-retakan yang terjadi pada beberapa tebing harus diwaspadai.

Menurutnya, ada beberapa mitigasi jangka panjang yang bisa dilakukan. Yakni, pengetatan izin pembangunan di kawasan tersebut perlu dilakukan. Selain itu, penanaman pohon keras pada tebing yang berpotensi longsor perlu dilakukan sebagai bentuk pencegahan.  

Sumber : Antara


×