Ilustrasi dinamika Islam di Cina | Ahn Young-joon/AP Photo
10 Jan 2021, 06:22 WIB

Melacak Jejak Islam di Cina

Berbagai fakta sejarah yang menarik disajikan terkait hubungan Cina dan Islam.

Dalam sebuah ceramah di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta, pada tahun 2013 lalu, presiden ketiga RI Prof Bacharuddin Jusuf Habibie (1936-2019) mengungkapkan peran bangsa Cina dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Menurut ketua pertama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) itu, Islam datang ke Indonesia dan diperkenalkan pertama kali melalui bangsa Cina, khususnya misi Laksamana Cheng Ho.

“Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam,” ujar Habibie, seperti dikutip pemberitaan Republika 27 September 2013.

Pesan yang disampaikan sang guru bangsa menyiratkan makna bahwa kedatangan Islam ke Tanah Air tidak semata-mata berkat sumbangsih bangsa Arab, Persia, atau India. Para dai dari arah barat Kepulauan Nusantara itu jelas berjasa besar dalam syiar tauhid di negeri tercinta. Akan tetapi, Muslimin di Indonesia hendaknya tidak melupakan juga kontribusi saudara seiman dari Negeri Tirai Bambu, seperti tercatat dalam sejarah.

Buku Islam in China karya Mi Shoujiang dan You Jia merupakan salah satu karya yang mengulas peranan kaum Muslimin dalam sejarah negeri Asia Timur tersebut. Tak ketinggalan pula, bagaimana tokoh-tokoh Islam setempat berperan dalam mensyiarkan agama ini ke luar Cina, termasuk Asia Tenggara.

Terkait

Shoujiang dan Jia merupakan dua orang akademisi Republik Rakyat Cina (RRC) yang banyak mengulas tentang relasi agama dan negara serta jejak historis Muslimin di negeri setempat. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

photo
Buku karya dua akademisi, Mi Shoujiang dan You Jia, menguraikan dengan begitu bernas aspek kesejarahan syiar Islam di Negeri Tirai Bambu. - (DOK PRI)

Oleh Penerbit LKiS, risalah tersebut dialihbahasakan menjadi Islam in Cina: Mengenal Islam di Negeri Luluhur. Istilah “negeri leluhur” itu secara tersirat senapas dengan pandangan Habibie di atas. Sebab, sejarah Nusantara memang sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di kawasan sekitar, termasuk Cina.

Ada banyak teori hingga perbedaan pendapat di kalangan sejarawan terkait masuknya Islam ke nusantara. Dalam buku ini, dijelaskan bahwa Islam masuk ke Nusantara sebenarnya melalui orang-orang Tiongkok pada abad ke-15 dan 16. Pionirnya disebut-sebut sebagai seorang laksamana Muslim yang berasal dari Suku Hui, yakni Cheng Ho (1371-1433).

Setelah berlabuh di sejumlah pulau di nusantara, Cheng Ho bersama anak buahnya kemudian sampai di pesisir Jawa. Mereka lalu menikahi perempuan-perempuan setempat. Sesudah itu, terjadilah interaksi dan bahkan asimilasi budaya antara Cina dan Jawa. Keduanya terikat oleh kesamaan agama, yakni Islam. Padahal, kala itu Jawa masih kental akan pengaruh agama Hindu-Buddha.

Setelah itu, Islam disebarkan secara luas oleh para wali songo. Beberapa di antara mereka juga merupakan keturunan Cina. Sejarawan Prof Slamet Muljana (1929-1986) dari Universitas Indonesia bahkan menyatakan, Sunan Ampel sebenarnya bernama asli Bong Swi Hoo. Tak lama setelah kedatangan Cheng Ho di Nusantara, cukup banyak dai berdarah Tionghoa di Tanah Jawa.

Misalnya, Syekh Hasanuddin alias Syekh Quro yang mengajarkan Alquran di Rengasdengklok, Karawang, sejak 1410. Prabu Siliwangi awalnya sangat marah begitu mendengar ada seseorang menyebarkan agama baru di wilayah kekuasaannya. Namun, sesampainya di Rengasdengklok raja Pajajaran itu justru terpesona akan keindahan Alquran, yang dibacakan para santri didikan Syekh Quro.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh kediDAYI-大羿畫貓 (leichuanyi)

Belakangan, Prabu Siliwangi menikah dengan seorang santriwati setempat, Nyai Subang Larang. Syarat pernikahan ini ialah, sang raja harus masuk Islam terlebih dahulu dan hal itu dipenuhinya. Dari pasangan tersebut, lahirlah tiga orang anak yang akhirnya berperan besar dalam sejarah Islam di Nusantara.

Mereka adalah Prabu Kian Santang, Somaddullah atau Abdullah Iman, dan Rara Santang atau Syarifah Mudaim. Putri Prabu Siliwangi itu lantas menikah dengan seorang habib asa Gujarat, Abdullah Ahmad Khan. Dari pernikahan keduanya, lahirlah Syarif Hidayatullah—sosok yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Dengan berbagai fakta sejarah tersebut, penerjemah buku ini menganggap Cina sebagai negeri leluhur (sebagian) kaum Muslimin di Indonesia. Bahkan, pernah suatu ketika presiden keempat RI KH Abdurrahaman Wahid atau Gus Dur menyatakan, dirinya memiliki darah Tinghoa dari jalur Tan Kim Han, seorang tokoh Muslim Tionghoa pada abad ke-15 dan 16. Karena itu, tidak selayaknya masyarakat Indonesia, apalagi umat Islamnya, mengidap sinofobia, yakni ketakutan yang tak mendasar terhadap orang atau hal-hal yang berhubungan dengan Cina.

Buku yang ditulis Mi Shoujiang dan You Jia ini memuat tentang sejarah dan perkembangan Islam di Cina, pergolakan sejarah dan perkembangan Islam di Cina, serta pergolakan sejarah dan kondisi sosial masyarakat Muslimin di Cina. Buku ini semakin menarik dibaca karena ditulis langsung oleh penulis asal Cina tersebut.

Menurut keduanya, Islam diperkenalkan ke Cina pada pertengahan abad ketujuh. Bermula dari Dinasti Tang yang berkuasa periode 618-906. Rajanya gemar membangun hubungan dagang dengan negeri-negeri di barat, termasuk Persia dan Arab. Shoujiang dan Jia menulis, selama 148 tahun kaisar Wangsa Tang mengundang tak kurang dari 37 orang Arab ke istananya.

Dinasti Tang kemudian lemah akibat pecahnya pemberontakan An-Shi pada pertengahan abad kedelapan. Kaisar saat itu bahkan meminta bantuan Dinasti Abbasiyah untuk memadamkan kup tersebut. Sultan Abbasiyah mendirikan barak-barak militer sebagai hunian pasukan Muslimin di wilayah Dinasti Tang. Di sana, mereka banyak berinteraksi dengan penduduk lokal. Itulah dimulainya syiar Islam di kawasan barat Cina.

Adapun wilayah Cina bagian selatan tak luput dari dakwah agama ini. Apalagi, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, banyak pelaut Arab yang singgah di pesisir Laut Cina Selatan untuk berdagang. Masjid Huaisheng, salah satu masjid tertua di Cina, menjadi saksi bisu penyebaran agama ini di Guangzhou.

Fakta menarik lainnya adalah keberadaan Kampung Najiahu di Provinsi Ningxia, RRC. Di desa tersebut, para keturunan Rasulullah SAW menetap selama hampir seribu tahun lamanya.  Mereka disebut-sebut memiliki nasab hingga Nabi SAW melalui jalur Husein, putra kedua Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW.

Kedua penulis buku ini mengungkapkan, dari total 56 kelompok etnis di Cina, sebanyak 10 etnis di antaranya menjadikan Islam sebagai agama mayoritasnya. Sepuluh suku yang dimaksud adalah Hui, Uighur, Kazak, Dongxiang, Khalkha, Sala, Tajik, Uzbek, Bao’an, dan Tatar. Ada juga sejumlah komunitas Muslim di suku etnis Mongol, Tibet, Bais, dan juga Dais.

Faktanya, kini umat Islam adalah kalangan minoritas di RRC. Mereka pun mempunyai tantangan tersendiri. Setelah Dinasti Qing digulingkan dalam Revolusi 1911, rezim-rezim selanjutnya cenderung bersikap bias terhadap pemeluk agama Islam. Kecenderungan itu tampak baik di pihak nasionalis maupun komunis.

Faktor politik ini menyebabkan diskriminasi terhadap Muslimin, semisal suku etnis Hui. Bentuk diskriminasi itu baik secara lisan maupun publikasi. Dalam situasi ini, umat Islam pun bangkit untuk mengklarifikasi masalah.

Dengan membaca buku ini, pembaca juga akan mengetahui secara singkat tentang sejarah Muslim Uighur. Suku bangsa itu memang dalam beberapa tahun belakangan ini selalu ramai diperbicangkan, termasuk oleh masyarakat Muslim Indonesia. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui tentang sejarah umat Islam di Cina, yang dulunya pernah membawa Islam ke nusantara.

 

 

Data buku

Judul: Islam in Cina: Mengenal Islam di Negeri Luluhur (terjemahan dari Islam in China)

Penulis: Mi Shoujiang dan You Jia

Penerjemah: Kurnia NK

Penerbit: LKiS

Tebal: xii + 154 halaman


×