Pemain Persipura berselebrasi usai menjebol gawang PSIS Semarang pada pertandingan pekan pertama Shopee Liga 1 2020 di Stadion Klabat, Manado, Sulawesi Utara, Ahad (1/3/2020). | ANTARA FOTO

Kisah Dalam Negeri

08 Jan 2021, 03:05 WIB

Tim Sepak Bola Pun Berguguran

Belum ada kepastian liga sepak bola nasional kembali digelar.

OLEH AFRIZAL ROSIKHUL HILMI, HARTIFIANY PRAISRA

Seperti tak kurang-kurang saja masalah yang dialami warga Jayapura, Papua. Tak hanya terancam kesehatan dan perekonomiannya, pandemi Covid-19 disertai kabar buruk lainnya pada awal 2021 in juga menambah beban mereka.

Frenky Warer (38 tahun), seorang warga Jayapura, mengaku pertama kali mendengar kabar itu melalui kiriman pesan rekannya pada Rabu (6/1). Persipura Jayapura dibubarkan. “Aduuhhh. Masyarakat kecewa sekali. Persipura ini kan ikon kebangggaan bukan hanya masyarakat Kota Jayapura, melainkan semua orang Papua,” ujarnya berkeluh kesah kepada Republika, kemarin.

Kegembiraan dari kabar bahwa Persipura akan berlaga di Piala AFC beberapa waktu lalu habis tak ada bekasnya. Mengeklaim sebagai “penggemar sampai mati Persipura”, ia menuturkan bukan hanya kekecewaan yang ia rasakan, melainkan juga kemarahan.

Ia paham bahwa ada kesulitan perekonomian yang dialami Mutiara Hitam, julukan klub dengan prestasi mentereng tersebut. Terlebih, pada masa pandemi tanpa pertandingan seperti saat ini. Meski begitu, menurut dia, pembubaran tim bukan jalan terbaik yang harus diambil manajemen. “Kami dari kalangan suporter rencananya akan mencari dana. Entah dengan cara apa,” kata dia.

Yang terjadi pada Persipura menggenapi kabar buruk untuk persepakbolaan Indonesia pada masa pandemi. Liga sepak bola nasional yang ditunda pada Maret lalu tak kunjung bergulir, pelan-pelan merembet dampaknya ke berbagai sisi persepakbolaan nasional. "Kami putuskan Persipura hentikan seluruh aktivitas. Situasi finansial semakin sulit bagi kami untuk terus membayar gaji pemain, pelatih, dan seluruh ofisial," ujar Ketua Umum Persipura, Benhur Tommy.

Persoalan bertambah pelik dengan kepastian bahwa Bank Papua tidak dapat membayarkan sisa kontrak sponsor sebesar Rp 5 miliar. Dengan begitu, sejak Maret 2020 lalu, Persipura hanya disokong oleh PT Freeport, Kuku Bima, dan anggaran dari manajemen.

“Dengan ini kami tidak lagi punya sumber dana untuk beraktivitas," kata dia. Ia mengatakan, Persipura akan menghentikan aktivitas mereka hingga mendapat dukungan sponsor baru yang jelas dan pasti.

Selain Persipura, ada Madura United yang lebih dulu membubarkan tim. Direktur Madura United Haruna Soemitro mengatakan apa yang dilakukan manajemen adalah demi kebaikan klub agar tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian kompetisi. Direktur Madura United Haruna Soemitro lebih suka menyebut keputusan itu dengan 'tidak memperpanjang kontrak'.

photo
Pekerja menyiapkan Jersey Madura United Fc (MU) yang akan dikemas di Kantor Pojur, Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (18/4/). Sebanyak 50 Jersey MU eks tour Asia 2020 dijual guna didonasikan buat penanganan Covid-19. - (ANTARA FOTO)

Seperti diketahui, umumnya pelatih dan pemain sepak bola di Indonesia dikontrak selama satu musim. "Kita sudah komunikasi dengan PSSI dan LIB, tapi belum ada kejelasan, ya mau apa lagi. Gak ada kecewa-kecewanya, ini murni karena kontraknya sudah habis dan gak ada kepastian untuk kompetisi," kata Haruna kepada Republika.

Sementara itu, Direktur PT LIB Akhmad Hadian Lukita memaklumi kebijakan klub untuk membubarkan tim. Menurut dia, kesulitan finansial akibat liga tak berjalan pasti dirasakan oleh seluruh pihak, termasuk klub dan sponsor yang menyokongnya.

Ia menambahkan, pembubaran tim adalah cara klub mengurangi beban mereka menghadapi ketidakpastian kompetisi. Akhmad berkeyakinan, klub akan kembali menyiapkan tim ketika penyelenggaraan kompetisi sudah mendapatkan kepastian. "Mereka pasti sudah ada skenario ke sana," kata Akhmad kepada Republika. "Perlu dipahami bahwa saat ini memang kondisinya berat ya buat semua," ujarnya menambahkan.

Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi sebelumnya mengatakan, pihaknya akan menggelar rapat bersama Komite Eksekutif (Exco) PSSI dalam waktu dekat soal kelanjutan kompetisi. "Kami masih mengonfirmasi pada Ketum (PSSI Mochamad Iriawan) dan beberapa anggota Exco dulu. Mudah-mudahan bisa digelar sebelum pertengahan Januari," kata Yunus kepada Republika, Senin (4/1).

Yunus mengungkapkan, ada kemungkinan PSSI dan LIB tidak melanjutkan kompetisi musim 2020. Namun, dia tidak mau mendahului keputusan rapat yang masih dalam rencana itu.

Sementara itu, Koordinator Save our Soccer (SOS) Akmal Marhali menyarankan agar PSSI dan LIB fokus menyiapkan musim baru dengan regulasi baru dan aturan yang tegas plus protokol kesehatan yang ketat sesuai kebijakan pemerintah.

"Komunikasi intensif dengan pemerintah. Mulai dari Kemenpora, kepolisian, Satgas Covid, sampai Komisi X untuk mendapatkan dukungan agar kompetisi bisa bergulir kembali," ujar Akmal kepada Republika. "Proaktif jemput bola untuk memberikan argumentasi serta alasan mengapa sepak bola Indonesia harus bergulir kembali," katanya menambahkan.

Selain itu, kata dia, klub harus dilibatkan terkait aturan dan regulasi musim baru di tengah pandemi. Suporter juga perlu digandeng untuk mendorong agar kompetisi bisa kembali bergulir. "Kuncinya ada pada bagaimana kemampuan PSSI dan LIB meyakinkan pemerintah bahwa sepak bola media paling efektif mengembalikan psikologi masyarakat setelah diguncang pandemi," ujarnya.

Akmal menilai pembubaran klub seharusnya tidak terjadi di era kompetisi profesional, berbeda saat klub ditanggung oleh APBD. "Tapi, karena security bussiness yang tidak terjaga dan tidak jelasnya kapan kompetisi digelar untuk penghematan dan mencegah pailit, pilihannya bubar dulu sampai ada kepastian," katanya.

Sejauh ini, Persib Bandung menjadi tim yang masih bertahan tanpa satu pun pemain yang mundur. Namun, bukan berarti Persib tidak kesulitan. Direktur PT Persib Bandung Bermartabat, Teddy Tjahyono, menyebut Persib membutuhkan kepastian liga untuk membuat keputusan nasib tim.

photo
Gelandang Persib Bandung Febri Hariyadi (kiri) bersama penyerang Persib Bandung Geoffrey Castillion (kanan) menjalani sesi latihan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Selasa (25/8). Tim Persib Bandung kembali menggelar latihan untuk mengembalikan stamina dan kerja sama tim sebagai persiapan kompetisi Liga Indonesia jika dimulai kembali usai dihentikan sementara akibat pandemi Covid-19 - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

"Saya telepon ke LIB (PT Liga Indonesia Baru) itu tanggal 4 kemarin, dia bilang belum ada keputusan apa pun sudah //ketemu// Polri, tapi belum ada keputusan. Kabarnya pekan ini ada keputusan," ujar Teddy, Kamis (7/1).

Meski tidak membubarkan timnya, saat ini Persib tetap membebaskan pemain dan tidak membekali tim dengan program latihan. Teddy mengatakan, penggawa Persib baru akan dikumpulkan jika sudah ada kepastian liga.

Sementara itu, Pelatih Persib Robert Rene Alberts tampaknya sudah habis kesabaran terkait liga yang tak jelas kapan bergulirnya. Ia mengingatkan, di Asia Tenggara hanya Indonesia yang belum memastikan nasib kompetisi sepak bola.

"Kami adalah salah satu liga terbaik di regional ini, tapi saat ini kami jadi satu-satunya negara yang tidak bermain sepak bola," kata Robert. 


×