Tenaga kesehatan menunjukkan pesan singkat penerima vaksin di RSIA Tambak, Jakarta, Selasa (5/1). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mulai mengirimkan pesan singkat atau SMS kepada penerima vaksin Covid-19 gelombang pertama yang dikhususkan untuk te | Republika/Putra M. Akbar

Nasional

07 Jan 2021, 03:00 WIB

PPNI: Perhatikan Kesehatan Perawat

PPNI mengkhawatirkan makin banyak perawat yang jadi korban Covid-19 seiring pandemi tak kunjung usai.

JAKARTA -- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) meminta pemerintah memperhatikan kondisi kesehatan perawat selama pandemi Covid-19. PPNI mengkhawatirkan makin banyak perawat yang jadi korban Covid-19 seiring pandemi tak kunjung usai.

Ketua Umum PPNI Harif Fadhillah menekankan pentingnya peran perawat dalam penanganan Covid-19. Mereka bekerja keras demi menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Sebagai timbal balik, ia meminta pemerintah tak mengabaikan nasib perawat.

"PPNI mengimbau pemerintah untuk memperhatikan kondisi kerja perawat agar tidak kelelahan dan stres," kata Harif pada Republika, Rabu (6/1).

Harif juga berharap agar perawat mendapat akses lebih banyak terhadap tes PCR, sehingga perawat yang tertular Covid-19 dapat segera ditangani sekaligus mencegah penularannya. "Pemerintah perlu terus meningkatkan test PCR periodik kepada perawat," ujar Harif.

Dari data dari Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memperlihatkan, hingga akhir Desember 2020 terdapat 504 tenaga kesehatan (nakes) yang wafat akibat Covid-19. IDI juga mencatat, angka kematian tenaga medis di Indonesia paling tinggi di Asia dan masuk lima besar di seluruh dunia.

Tenaga medis yang wafat terdiri atas 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, tujuh apoteker, dan sepuluh tenaga laboratorium medik.

Menurut pernyataan yang diterima di Jakarta pada Sabtu (2/1), para dokter yang meninggal itu terdiri atas 101 dokter umum yang di antaranya empat guru besar, 131 dokter spesialis dengan, antara lain, tujuh guru besar serta lima residen. Semuanya berasal dari 25 IDI wilayah (provinsi) dan 102 IDI cabang (kota/kabupaten). 

Hingga Selasa (5/1), jumlah kasus Covid-19 di Indonesia bertambah 6.753 kasus, berarti total sementara mencapai 772 ribu kasus. Adapun total penderita sembuh di angka 639 ribu orang. Sedangkan yang meninggal dunia sebanyak 22.911 orang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, para tenaga kesehatan saat ini sudah semakin letih menangani dan menghadapi pandemi Covid-19. Kondisi perkembangan kasus yang semakin meningkat saat ini membuat kapasitas rumah sakit semakin penuh dan tenaga kesehatan semakin bekerja keras.

Even sebelum mulai liburan kondisi rumah sakit sudah lumayan penuh. Beberapa sangat penuh dan tenaga kesehatan kita juga sudah cukup lama dan cukup letih menangani pandemi Covid-19 ini,” ujar Budi Gunadi saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (6/1).

Ia menjelaskan, setelah masa libur panjang, kasus aktif tercatat selalu mengalami kenaikan 30-40 persen. Semakin tingginya kasus aktif ini memberikan tekanan kepada rumah sakit dan tenaga kesehatan yang ada.

Apalagi, saat ini tercatat sudah lebih dari 500 tenaga kesehatan meninggal dunia selama pandemi Covid-19. Karena itu, ia meminta agar masyarakat dan seluruh pihak turut membantu menjaga kondisi ini dengan menerapkan protokol kesehatan dan juga mengurangi mobilitas kegiatan.

“Saya minta tolong. Kita bantu mereka, lindungi mereka. Kita jaga mereka dengan mengurangi mobilitas dalam dua minggu mulai 11 Januari. Sudah cukup 500 orang wafat, jangan lebih banyak lagi,” tambah Budi.

Pemerintah pun telah menerapkan pembatasan kegiatan sosial secara terbatas di Jawa dan Bali mulai 11 hingga 25 Januari. Pembatasan meliputi pengetatan kegiatan di tempat kerja, kegiatan belajar mengajar secara daring, pembatasan jam operasional di tempat umum, pembatasan kapasitas di tempat ibadah, hingga pengaturan kapasitas dan jam operasional moda transportasi.


×