masalah Kulit | dermatologyadvisor.com

Sehat

16 Sep 2019, 13:31 WIB

Kenali Masalah Lain dari Gatal Kulit

Tujuan terapi pengobatan dermatitis atopik adalah mengontrol penyakitnya, bukan menyembuhkan.

Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis yang sebenarnya cukup banyak ditemukan di tengah masyarakat. Akan tetapi, tak sedikit dari masyarakat yang belum memahami cara penanganan DA yang benar.

DA dapat dikenali dari gejala utamanya, yaitu rasa gatal dan ruam kemerahan pada kulit. Oleh karena itu, DA juga dikenal sebagai atopic eczema ataupun asma kulit. Gejala lain dari DA adalah penebalan kulit akibat proses menggaruk yang berulang oleh penderita DA.

Penderita DA cenderung memiliki kulit yang kering. Selain itu, kulit dari penderita DA juga lebih sensitif, rentan, dan reaktif terhadap faktor eksternal, seperti cuaca, keringat, ataupun debu. "Sehingga, secara awam sering disalahartikan dengan istilah alergi," kata CEO Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Pramudia dr Anthony Handoko SpKK FINDV menjelaskan dalam seminar media, di Jakarta, belum lama ini.

Gejala-gejala DA bisa muncul dalam derajat keparahan yang berbeda. Gejala DA yang ringan berupa gatal, kulit kering, dan ruam kemerahan. Gejala DA yang berat berupa gatal, ruam merah agak basah, dan krustasi. Sedangkan, gejala DA yang kronis berupa gatal, penebalan kulit, serta warna area kulit yang terdampak lebih gelap.

DA bukan penyakit kulit yang menular, melainkan diturunkan secara genetik. DA sering kali disertai oleh kondisi lain, seperti asma paru maupun rinitis alergi.

Kasus DA cukup banyak ditemukan pada anak, khususnya pada lima tahun pertama kehidupan. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2018 mengungkapkan bahwa prevalensi kasus DA pada anak berkisar antara 15 sampai 30 persen. Sedangkan data di Indonesia, prevalensi kasus DA pada anak mencapai sekitar 23,67 persen.

Diperkirakan ada sekitar dua juta kasus DA pada anak per tahun yang ditemukan di Indonesia. "Tidak ada perbedaan rasio antara laki-laki dan perempuan," ujar Anthony menjelaskan.

Pada saat kambuh, terapi yang perlu diberikan adalah pengobatan. Namun, pada saat kondisi kulit dalam keadaan baik, langkah yang dapat diberikan adalah terapi perawatan atau maintenance. Oleh karena itu, pasien tidak boleh mengulang resep terapi pengobatan untuk digunakan sebagai terapi perawatan pada saat kondisi kulit sudah membaik.

Terapi pengobatan DA cukup bervariasi, mulai dari terapi topikal, terapi oral, dan juga terapi penyinaran yang dikenal sebagai phototherapy. Pemilihan jenis terapi untuk anak penderita DA akan disesuaikan dengan kondisi dan derajat keparahan yang muncul.

Terkait terapi topikal, pilihan utamanya adalah kortikosteroid dan pelembap. Pemberian kortikosteroid harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis kulit dan kelamin. Alternatif lain untuk terapi topikal adalah tacrolimus dan pimecrolimus. Namun, harga kedua terapi ini lebih mahal.

Terapi oral pada anak penderita DA bisa diberikan dalam kondisi khusus, salah satunya adalah pada saat terjadi infeksi. Terapi oral saat infeksi diberikan seperti kortikosteroid oral dan antibiotik. Dapat pula dilakukan pemberian antihistamin oral untuk mengurangi rasa gatal dan immunomodulator oral untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

photo
mountsinai.org

Hal yang tak kalah penting adalah faktor pencetusnya pada tiap anak berbeda-beda. Untuk itu, orang tua pasien anak DA perlu mengenali faktor-faktor pencetus ini. Mereka juga dituntut lebih waspada pada gejala-gejalanya dan lokasi yang khas munculnya DA pada anak.

Ketika menemukan kondisi yang dicurigai sebagai DA, orang tua perlu segera memeriksakan anak mereka ke dokter spesialis kulit dan kelamin. "Sering kali mendapat (pasien) shopping dokter beberapa kali, tapi bukan ke dokter kulit. Saat ke dokter kulit bentuknya sudah tidak khas dan sudah cukup terlambat untuk dikembalikan atau diperbaiki lagi. Jadi, segera konsultasikan," kata Anthony menjelaskan.

DA pada usia dewasa

DA tidak hanya dapat ditemukan pada kelompok anak, tetapi juga pada kelompok dewasa dan lansia. Pada kelompok dewasa dan lansia, prevalensinya di dunia pada 2018 mencapai 2,1 sampai 4,9 persen. Insiden ini diperkirakan semakin meningkat seiring bertambahnya harapan hidup manusia.

Gejalanya sama dengan kelompok anak, yaitu gatal, ruam merah, penebalan kulit, serta kulit kering. Namun, lokasinya berbeda dibandingkan anak-anak. Gejala tambahannya adalah lingkaran gelap di seputar mata (dark circle), kulit seperti kulit ayam (atopic skin), bercak kasar pada lengan dan paha (keratosis pilaris), bercak putih pada wajah (pytiriasis alba), garis telapak tangan dan kaki yang berlebih, distribusi pembuluh darah yang tidak rata, serta sifat dermografism.

Penyakit DA pada lansia cenderung lebih sulit ditangani dibandingkan pada kelompok dewasa. Soalnya, lansia secara alami kulitnya lebih tipis dan daya pertahanan kulitnya lebih rendah dengan regenerasi kulit yang lebih lambat. Lansia juga cenderung memiliki penyakit penyerta yang menyebabkan kondisi DA-nya menjadi lebih buruk karena kontraindikasi obat dengan terapi obat rutinnya.

"Pada umumnya kulit penderita DA mudah terjangkit penyakit kulit lain, yaitu infeksi virus, bakteri, dan jamur," kata spesialis kulit dan kelamin senior dr Ronny Handoko SpKK menjelaskan.

Karena DA berkaitan dengan faktor genetik, terapi pengobatannya tidak hanya diperlukan saat kambuh. Tujuannya adalah mengontrol penyakitnya, bukan menyembuhkan. "Karena pada hakikatnya, penyakit DA adalah penyakit kulit kronis yang sering berulang bila dipicu oleh faktor pencetus," tutur Ronny.

Karena itu, opsi terapi pengobatan DA pada dewasa dan lansia tidak jauh berbeda dari anak, yaitu terapi topikal, terapi oral, maupun penggunaan obat-obatan pendukung lain. Namun, terapi pengobatannya perlu melibatkan pihak lain, seperti penjaga atau pengasuh untuk kesuksesan pengobatan DA, selain peran dokter spesialis dan kepatuhan pasien. "Diperlukan kerja sama yang baik," ucap dia.

DA juga dapat meninggalkan bekas ruam pada kulit, seperti hiperpigmentasi (warna kulit lebih gelap), hipopigmentasi (warna kulit lebih putih), maupun kemerahan akibat pelebaran kapiler darah yang menetap. Perubahan struktur kulit menjadi jaringan parut juga mungkin terjadi akibat kedalaman luka yang muncul dari garukan saat kulit gatal.

Untuk menghilangkan ruam ini, kata dia, ada beberapa pilihan terapi, seperti obat topikal, obat oral, injeksi, tindakan bedah, dan laser. "Keberhasilan pengobatan sangat bervariasi, tergantung jenis dan derajat kondisi kelainan pasien."

Hanya, Ronny masih menyayangkan pasien yang malas berkonsultasi rutin ke dokter. Hal itu menjadi pemicu mereka mengulang resep tanpa dokter. Jelas masalah ini berdampak buruk bagi kesehatan pasien ke depannya. Ronny mencontohkan, penggunaan kortikosteroid oral yang tidak dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis berisiko kulit menipis dan memicu efek sistemik, seperti katarak prematur, diabetes melitus, osteoporosis, glaukoma, dan gangguan ginjal.

Penting pula bagi pasien DA dewasa, lansia, maupun anak untuk mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang baik agar terhindar dari faktor-faktor pencetus DA. Bila memungkinkan, pasien DA dewasa atau lansia juga perlu berada pada lingkungan kerja yang baik. n ed: dewi mardiani

Lokasi DA Menurut Kelompok Usia Penderita

1. Bayi: Wajah, siku, lutut, dan kulit kepala.

2. Anak-anak: Lipat siku, lipat lutut, leher, seputar mata, dan seputar bibir.

3. Dewasa dan Lansia: Siku, lutut, leher, sekitar mata, dahi, dada, punggung, bibir atau sekitar mulut, tangan, kaki, dan sekitar puting susu.

Contoh Faktor Pemicu Atau Faktor Pencetus DA:

1. Riwayat keluarga

2. Daya tahan menurun

3. Debu, serbuk kayu, serbuk gipsum, semen

4. Bulu hewan peliharaan

5. Cuaca dengan suhu terlalu panas atau terlalu dingin, serta perubahan cuaca yang ekstrem

6. Stres emosional

7. Gigitan serangga

8. Zat iritan atau detergen

Sumber: Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Pramudia


×