I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma sudah tertarik untuk mengenal Islam sebelum dirinya memperoleh hidayah dari Allah SWT. | DOK IST
03 Jan 2021, 03:00 WIB

I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma, Tergugah Surah al-Ikhlas

Nyoman Wisnu asal Bali ini cukup lama berkeinginan untuk memeluk Islam.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Wisnu berasal dari sebuah keluarga yang memiliki latar agama berlainan. Ayahnya memeluk kepercayaan Hindu. Adapun ibundanya merupakan penganut Islam. Jadilah pemilik nama lengkap I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma itu mengenal dua keyakinan yang berbeda sejak kecil.

Meskipun namanya mengisyaratkan kebudayaan Bali yang kental, Wisnu lahir dan tumbuh besar di Bandung, Jawa Barat. Sejak masa balita hingga memasuki usia 10 tahun, dirinya cenderung lebih dekat dengan sang ibu. Ayahnya hanya datang ke kediamannya setiap akhir pekan.

Keadaannya mulai berubah tatkala ia memasuki kelas V sekolah dasar (SD). Ia dan ibunya tinggal serumah lagi dengan sang ayah. Dan, sejak itu sebagai kepala keluarga ayahnya ingin agar Wisnu dibesarkan dengan ajaran Hindu. Segala pengajaran tentang Islam di dalam rumah harus dihentikan total.

Terkait

Wisnu kemudian memeluk Hindu hingga dirinya menjadi murid SMA. Diakuinya, menganut agama itu bukanlah sebuah keputusan yang datang dari kesadaran pribadi. Ia semata-mata mengikuti perintah ayahnya, tak kurang dan tak lebih. Ketika dirinya menginjak usia remaja, mulai timbul keraguan dalam batinnya.

“Saya tidak yakin dengan agama itu sehingga saya sejak SMA tidak beribadah agama apa pun meskipun KTP saya masih (mencantumkan agama) Hindu,” ujar dia saat berbincang dengan Republika baru-baru ini.

 
Saya tidak yakin dengan agama itu sehingga saya sejak SMA tidak beribadah agama apa pun meskipun KTP saya masih Hindu.
 
 

Hingga suatu hari, Wisnu memutuskan untuk kembali mempelajari Islam. Itu dilakukannya dengan dukungan sejumlah kawannya. Mereka bukanlah Muslim, tetapi memiliki ketertarikan untuk mengenal agama tersebut.

Bagaimanapun, Wisnu belum secara terbuka mengungkapkan hal itu kepada keluarganya, terutama sang ayah. Sebab, dirinya masih takut bila sewaktu-waktu bapaknya mengetahui. Kalau sampai demikian, yang ada hanyalah konflik antara anak dan orang tua.

Akhirnya, hanya teman-temannya yang kemudian menjadi mualaf. Wisnu saat itu belum siap menyatakan diri memeluk Islam. Ia masih menunda peralihan iman dan bahkan memutuskan untuk sementara tidak beragama.

“Ada rasa takut untuk mengutarakan pendapat saya untuk memeluk Islam. Akhirnya, saya pun mengurungkan niat (untuk memeluk Islam -- Red),” kata dia mengenang.

 
Ada rasa takut untuk mengutarakan pendapat saya untuk memeluk Islam.
 
 

Beberapa bulan kemudian, dirinya lulus SMA. Setelah melalui ujian seleksi masuk, Wisnu lolos sebagai calon mahasiswa di sebuah perguruan tinggi.

Selama beberapa bulan pertama menempuh studi, ia mulai merasa nyaman dengan lingkar pergaulan barunya. Kawan-kawannya semakin banyak. Terlebih lagi, perkenalannya mencakup banyak kalangan. Kebanyakan mereka adalah Muslim.

Ingin berislam

Rupanya, Wisnu masih menyimpan keinginan besar untuk memeluk Islam. Ia mengakui, saat itu dirinya bahkan merasa iri bila bersua dengan teman-temannya yang Muslim. Sebab, mereka tampak leluasa untuk menjalankan berbagai ibadah rutin tanpa perlu dirundung perasaan khawatir.

Saat melihat kawan-kawannya shalat, Wisnu semakin ingin menjadi seperti mereka, yang damai dan tenang beribadah kepada Tuhan, mengadukan segala beban di hati kepada Yang Mahakuasa.

Namun, sepanjang masa kuliahnya Wisnu tidak juga memeluk Islam. Masih saja ketakutan membayangi dirinya. Ia membayangkan akan berkonflik dengan ayahnya bila kedapatan menjadi Muslim. Hingga lulus dari universitas, pria berdarah Bali ini tetap pada kebimbangannya, antara menjadi niragama atau berislam, seperti yang diidam-idamkannya.

Setelah lulus kuliah, Wisnu dikenalkan oleh seorang temannya dengan sebuah komunitas Muslim. Perkumpulan ini bergerak dalam bidang sosial dan dakwah. Salah satu program andalannya ialah menggelar sedekah berjamaah untuk membantu orang-orang yang kesusahan.

Wisnu tertarik untuk mengikutinya. Dan, pihak komunitas itu pun tak keberatan sama sekali dengan ikutnya seorang non-Muslim dalam kegiatan-kegiatan mereka.

 
Saya kemudian menemukan ajaran Islam yang saya dapatkan dari komunitas ini, terutama tentang ilmu sedekah.
 
 

“Saya kemudian menemukan ajaran Islam yang saya dapatkan dari komunitas ini, terutama tentang ilmu sedekah. Saya membuktikan sendiri bahwa dengan bersedekah, harta kita tidak akan berkurang sedikit pun. Bahkan, harta kita akan semakin berkah, ditambah berkali lipat oleh Allah,” tutur dia.

Wisnu mengaku suka sekali dengan kegiatan sedekah rombongan yang diadakan komunitas itu. Suatu hari, seorang ustaz yang diundang dalam kajian menyampaikan topik keutamaan sedekah. Dikatakannya, Allah membalas setiap sedekah yang dilakukan Muslimin dengan sangat besar dan keberkahan.

Bagi Wisnu, nasihat-nasihat semacam itu membuatnya semakin jatuh cinta pada Islam. Apalagi, tatkala dirinya terlibat langsung dalam aksi penyaluran sedekah. Misalnya, ketika menyambangi panti asuhan. Melihat anak-anak yatim dan piatu bergembira menerima pemberian membuat hatinya damai. Bahkan, kadangkala air matanya menetes lantaran terharu.

 
Entah kenapa waktu itu saat mendengarnya seketika saya terharu. Hati saya bergetar hingga meneteskan air mata.
 
 

“Pernah komunitas kita membuat acara (di panti asuhan). Lalu, ada seorang anak panti yang tampil. Sebenarnya, sederhana saja dia hanya membacakan surah al-Ikhlas. Tapi, entah kenapa waktu itu saat mendengarnya seketika saya terharu. Hati saya bergetar hingga meneteskan air mata,” kata lelaki yang kini berusia 34 tahun itu.

Sesudah peristiwa tersebut, Wisnu belum juga berani untuk mengambil keputusan telak. Dirinya masih terkatung-katung dalam keadaan tanpa iman yang tetap.

Memantapkan hati

Cukup lama Wisnu dalam kondisi galau mengenai agamanya. Ingin menjadi Muslim, tetapi belum sanggup untuk menghadapi kemungkinan berkonflik dengan sang ayah. Tetap bertahan dalam kondisi sekarang, tetapi hatinya seperti merindukan iman dan Islam.

Tahun demi tahun berganti, ternyata Wisnu masih dapat mengingat dengan jelas momen mengharukan di panti asuhan itu, ketika seorang bocah membacakan surah al-Ikhlas. Waktu itu, ia belum mengerti atau memahami apa arti bacaan tersebut. Bagaimanapun, ketika surah pendek itu dibacakan, sanubarinya bergetar, air mata haru langsung menetes, membasahi pipinya.

Akhirnya, Wisnu menginjak usia kepala tiga. Suatu malam, ia merenung, betapa cepatnya waktu berjalan. Kalau mati dalam keadaan belum tetap imannya, ia merasa tentu dirinya akan merugi. Karena itu, semakin genting untuk lekas menentukan sikap.

Apalagi, 30 tahun bukanlah usia yang muda. Keputusan besar sudah sepantasnya diambil dengan penuh tanggung jawab pribadi. Tidak ada yang bisa menekannya, apalagi memaksakan kehendak. Keberanian mulai menguat dalam dirinya untuk mengambil keputusan besar, memilih ajaran agama yang akan dipegangnya hingga akhir hayat.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Wisnu pun memutuskan untuk memilih Islam. Sebab, dirinya merasa lebih yakin akan kebenaran yang diajarkan risalah Nabi Muhammad SAW.

photo
I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma mengaku bersyukur dengan kehidupannya kini sebagai seorang Muslim. - (DOK IST)

Banyak jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang ditemukannya pada agama ini, bukan yang lain-lain. Ia pun sudah membaca banyak buku dan mendengar beragam sumber tentang sosok Rasulullah SAW.

Berikutnya, Wisnu meminta seorang kawannya untuk mengantarkannya kepada seorang mubaligh. Dai ini dahulu sering mengisi pelbagai acara keagamaan di kampusnya. Ia pun mulai sering berdiskusi dengan sang mubaligh.

Ustaz tersebut mencontohkan tentang Alquran. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW itu diterima masyarakat Arab. Banyak dari mereka yang kemudian mendustakan beliau.

Padahal, Alquran bukanlah karangan Rasulullah SAW. Allah SWT sendiri menantang kaum kafir dan musyrik agar membuat ayat yang serupa dengan Alquran, tetapi tantangan itu tak sanggup dilakukan siapa pun—bahkan hingga kini.

Usai lama berdiskusi, sang ustaz menyarankan Wisnu agar banyak-banyak berdoa. “Saya diminta berdoa, redaksinya kira-kira seperti ini, ‘Ya Rabb yang menciptakan aku, tunjukkanlah kepadaku jalan kebenaran, dan jauhkanlah aku dari bisikan setan,” katanya.

Berbulan-bulan lamanya komunikasi dengan ustaz tersebut dilakukan. Wisnu bahkan saat itu sudah diajari tata cara shalat, termasuk gerakan dan bacaannya. Meskipun belum mengucapkan syahadat, ibadah itu coba dirutinkannya lima kali dalam sehari.

Memang, setelah sepekan mencoba, ada rasa malas untuk shalat. Namun, pada akhirnya timbul rasa gelisah bila dirinya hendak memutuskan untuk tidak shalat.

 
Saat menjalankan shalat merasa ada ketenangan yang luar biasa, sedangkan meninggalkannya justru hati jadi gelisah.
 
 

“Saat menjalankan shalat merasa ada ketenangan yang luar biasa, sedangkan meninggalkannya justru hati jadi gelisah. Berarti, ada yang benar dengan shalat ini. Tidak perlu lagi sebuah bukti,” ucapnya.

Akhirnya, pada Juli 2018 Wisnu untuk pertama kalinya mengikrarkan dua kalimat syahadat. Prosesi itu berlangsung di Masjid Istiqamah, Bandung, Jawa Barat. Dalam hal ini, dirinya dibantu tim Mualaf Center Bandung.

Beberapa hari usai bersyahadat, Wisnu mengunjungi ayahnya. Sempat cemas menunggu respons bapaknya, ternyata apa yang selama ini dikhawatirkan tak terjadi. Bahkan, pada akhirnya seluruh keluarga besarnya tak mempermasalahkan keputusannya berislam.

“Malah sebenarnya sejak 2012, ayah sempat bertanya tentang keyakinan saya. Tapi, waktu itu belum berani mengutarakannya. Mungkin jika saya mau mengakui pada tahun itu (ingin memluk Islam), sebenarnya ayah pun akan menerima,” katanya.

Sejak menjadi Muslim, ia terus berusaha mendalami Islam, termasuk memperlancar kemampuan membaca Alquran. Kini, Wisnu sudah berkeluarga. Ia menekuni profesi wedding organizer. Harapannya, dirinya dapat menjadi manusia yang selalu membawa kebaikan bagi banyak orang.


×