Petugas kesehatan menyiapkan vaksin saat simulasi pelayanan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tingkat Kota Bandung di Puskesmas Balai Kota Bandung, Babakan Ciamis, Kota Bandung, Rabu (23/12). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
26 Dec 2020, 03:00 WIB

Uji Sinovac dan Harapan pada Vaksin

Akan sia-sia saja jika nanti izin penggunaan sudah keluar, vaksin sudah didatangkan, tapi masyarakat masih enggan divaksinasi.

Kabar gembira datang dari Turki. Hasil uji coba tahap akhir vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac Biotech di Turki diklaim memiliki efektivitas mencapai 91,25 persen. Dengan data tersebut, Turki pun menyatakan bakal menggunakan vaksin Sinovac untuk program vaksinasi Covid-19.

Apa hubungannya dengan Indonesia? Vaksin Covid-19 buatan Sinovac merupakan salah satu dari enam vaksin yang akan digunakan Indonesia untuk program vaksinasi Covid-19. Pada Ahad (6/12), Indonesia pun telah mendapatkan 1,2 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk jadi yang kini tengah menunggu persetujuan penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Turki merupakan salah satu negara yang jadi tempat uji klinis tahap III vaksin Sinovac. Selain Turki, uji klinis dilakukan di Indonesia dan Brasil. Para periset di Brasil yang juga tengah menjalani fase III uji coba vaksin pada Rabu (23/12) mengatakan, vaksin Sinovac memiliki efektivitas di atas 50 persen. Sesuai ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka efektivitas vaksin Covid-19 minimal 50 persen. 

 
Memang hingga kini belum ada laporan resmi hasil akhir uji klinis di Turki. Namun, paling tidak kita punya harapan bahwa vaksin yang sudah dibeli tak sia-sia.
 
 

Turki pada Kamis (24/12) menyebutkan, tak ada efek samping serius yang muncul pada masa uji coba. Hanya ada satu orang yang menunjukkan reaksi alergi. Uji coba di Turki dimulai pada 14 September dengan melibatkan lebih dari 7.000 relawan. Adapun data tingkat efektivitas yang diumumkan didasarkan pada data dari 1.322 relawan.

Terkait

Memang hingga kini belum ada laporan resmi hasil akhir uji klinis di Turki. Namun, paling tidak kita punya harapan bahwa vaksin yang sudah dibeli tak sia-sia.

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum berhenti, vaksinasi adalah harapan utama. Program vaksinasi ini diharapkan bisa benar-benar mampu menanggulangi pagebluk ini.

Namun, kita harap-harap cemas dengan program vaksinasi ini. Pertama, kendati vaksin sudah berhasil didatangkan, kita harus menunggu persetujuan penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hingga kini izin penggunaan darurat dari BPOM belum juga keluar.

Kedua,  untuk mendatangkan vaksin bagi 107 juta orang sesuai dengan target pemerintah, bukanlah perkara yang mudah. Saat ini Indonesia sudah mendapatkan 1,2 juta dosis vaksin Sinovac dalam bentuk jadi. Ke depannya akan ada 1,8 juta dosis vaksin Sinovac dan 15 juta dalam bentuk bahan baku (bulk).

 
Akan sia-sia saja jika nanti izin penggunaan sudah keluar, vaksin sudah didatangkan, tapi masyarakat masih enggan divaksinasi.
 
 

Selain Sinovac, Menko Ekonomi Airlangga menyebut, pemerintah juga mendorong pengadaan vaksin Astra Zeneca, Pfizer, Moderna, sesuai dengan jadwal yang diberikan ke Indonesia. Menurut dia, vaksin selain dari Sinovac akan masuk pada kuartal II 2021. Artinya, vaksin tidak bisa cepat datang sesuai dengan kebutuhan. 

Ketiga, adalah sikap masyarakat yang masih belum sepenuhnya bisa menerima vaksin. Banyak yang masih belum percaya bahwa vaksin merupakan salah satu solusi menanggulangi pandemi Covid-19.

Dari tiga persoalan itu, saat ini persoalan ketiga harus mendapat perhatian yang paling besar. Akan sia-sia saja jika nanti izin penggunaan sudah keluar, vaksin sudah didatangkan, tapi masyarakat masih enggan divaksinasi.

Dalam kaitan ini hasil uji coba tahap akhir vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac Biotech di Turki menjadi kabar gembira. Kita bisa berharap pada vaksin untuk menanggulangi pandemi ini.


×