Pengusaha Rintisan | pixabay

Inovasi

16 Sep 2019, 13:31 WIB

Membuka Jalan Para Pengusaha Rintisan

Banyak individu di Indonesia yang terdorong menjadi pengusaha rintisan, tapi bingung memulainya.

Indonesia sebagai negara berkembang, dinilai memiliki banyak potensi, terutama dalam hal pengembangan bisnis digital. Berubahnya pola dan kebiasaan konsumsi masyarakat, menjadikan bisnis usaha rintisan kini makin dilirik.

Munculnya perusahaan rintisan yang berpredikat unicorn dari Indonesia menjadi secercah harapan di industri rintisan di Tanah Air. Hal itulah yang membuat Antler, salah satu generator rintisan dunia dan perusahaan pendanaan tahap awal untuk mencari bakat-bakat pendiri perusahaan rintisan di Indonesia.

"Waktu kita di Singapura, kita bisa menyimpulkan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan perusahaan start-up. Terlebih banyak perusahaan unicorn datang dari Indonesia," ungkap salah satu pendiri dan Managing Partner Antler, Jussi Salovaara, saat konferensi pers di Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, banyak individu di Indonesia yang terdorong menjadi pengusaha, tapi tak mengerti bagaimana cara memulainya. Oleh sebab itu, dia melihat adanya potensi bantuan yang bisa dilakukan oleh Antler kepada mereka, para calon pengusaha itu sendiri.

photo
pixabay

Selain itu, Antler juga melihat pasar domestik di Indonesia sangat besar dan memiliki beragam peluang di dalamnya. Sayangnya, masih banyak kekurangan pada wadah dan eksosistem bagi para individu yang ingin membangun perusahaannya dari awal. "Antler ingin menjembatani kesenjangan itu," ungkap Jussi.

Orang-orang Indonesia, disebutnya, juga sangat berpotensi dan memiliki keinginan untuk memiliki perusahaan. Untuk itu, dia mempersiapkan enam tim untuk membangun Antler di Indonesia.

Salah satu kunci utama untuk membuat usaha rintisan di Jakarta, kata Jussi, adalah tidak hanya fokus untuk pasar domestik. Tetapi, juga fokus kepada pasar global. "Tapi ya, sebenarnya memang harus memulainya dari pasar lokal terlebih dahulu. Kemudian, harus menampung aspirasi yang lebih luas," katanya.

Di Indonesia, Antler akan melakukan investasi dan membantu mendirikan sebanyak 20 perusahaan rintisan di Indonesia setiap tahunnya. Mereka akan memberikan wadah dan dukungan kepada para pendiri perusahaan rintisan ini untuk membentuk tim yang tepat dan memberikan pendanaan bagi mereka sejak hari pertama atau fase awal.

Selanjutnya, mereka juga akan memberikan akses kepada jaringan penasihat bisnis global. Hingga, pada akhirnya perusahaan akan bisa tumbuh di Indonesia.

Menurut Jussi, setidaknya orang-orang yang bisa disebut founder atau pendiri yang dapat menjalankan program dari Antler bukan dilihat dari latar belakang pendidikannya. Lebih tepatnya, Antler mencari orang yang berkeinginan khusus membangun usaha rintisan untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini.

Hal itu bisa dilihat dari cara demonstrasi para calon pendiri kepada Antler. Para calon pendiri itu juga biasanya memiliki kualifikasi menjadi seorang pendiri dan mampu menyelesaikan masalah.

Selain itu, Antler juga membebaskan jurusan yang ada pada latar belakang pendidikan. Sebab, dalam programnya, Antler membebaskan para pendiri untuk membuat usaha rintisan di berbagai bidang.

Sebab, selama ini, selama melaksanakan program di Singapura, Jussi malah menadapatkan orang-orang yang memang ahli di bidangnya. Mulai dari ahli bio botani, ahli pengelolaan busnis, ahli AI, dan juga ahli robotika. Sebagai awalan, Jussi menargetkan 10 perusahaan akan bisa berdiri pada paruh awal pertama 2020

Saat yang tepat

CEO dari perusahaan start-up Indonesia, Sampingan, yaitu Wisnu Nugrahadi membenarkan, kondisi start-up di Indonesia saat ini tengah menggiurkan dan memiliki potensi bisnis sangat besar. Oleh sebab itu, saat ini, merupakan saat yang tepat bagi para individu untuk bergerak dan mengembangkan bisnisnya lewat usaha rintisan.

"Saat ini, bisnis start-up memang sedang sangat potensial sekali. Terlebih, perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat untuk membeli sesuatu itu sudah berubah sekali," jelas Wisnu.

Mulai dari, membeli makanan sampai pergi kemanapun. Adanya perubahan konsumsi, kebiasaan, dan perilaku masyarakat itu, kata dia, menjadi potensi bagi perusahaan rintisan untuk dikembangkan. Dan perubahan ini tentu akan terus berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Wisnu yang merupakan salah satu peserta yang mengikuti program Antler sempat merasa ingin membuat perusahaan rintisan, tapi sulit mewujudkannya. Ide awalnya, adalah dia ingin membantu untuk menyediakan pekerjaan sampingan bagi masyarakat yang masih membutuhkan tambahan penghasilan.

Kendala sulit untuk mewujudkan mimpinya ini, dirasa oleh Wisnu, disebabkan oleh masih sedikitnya perusahaan start-up yang ada saat ini. Hal itu membuat tak adanya wadah ataupun orang-orang yang bisa diajak belajar dan berbagi mengenai pembuatan usaha rintisan di Indonesia.

Bersama Antler, Wisnu telah membantu lebih dari 150 ribu orang Indonesia di seluruh negeri mendapatkan pekerjaan sampingan melalui aplikasi yang dia garap. Ia pun telah menerima pendanaan awal untuk mengembangkan bisnis dan membangun timnya agar lebih kuat lagi.

Selain Sampingan, Antler juga membantu membangun perusahaan rintisan lainnya. Di antaranya adalah Base yang berfokus pada kecantikan, Robin yang bergerak di bisang sumber daya manusia, dan Bubays fokus kepada pembuatan makanan bayi untuk membantu para ibu-ibu memberikan gizi terbaik bagi anaknya. N ed: setyanavidita livikacansera

';

×