Penumpang pesawat berjalan menuju pintu keluar di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Kulonprogo, Rabu (23/12). PT Angkasa Pura I memprediksi kenaikan jumlah penumpang pada liburan Nataru 2021 sebesar 25 persen. | Wihdan Hidayat / Republika
24 Dec 2020, 03:00 WIB

Batasi Mobilitas di Tempat Liburan

Sejumlah pemerintah daerah memutuskan untuk menutup tempat wisata guna menekan risiko penularan Covid-19.

JAKARTA -- Antusiasme masyarakat untuk bepergian di masa libur panjang tetap tinggi meskipun peningkatan kasus positif Covid-19 terus terjadi. Pada Rabu (23/12), arus pergerakan penumpang di berbagai moda transportasi umum bahkan mengalami lonjakan. 

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat untuk dapat membatasi mobilitas pada masa libur Natal dan tahun baru. Sebab, mobilitas yang tinggi berpotensi menambah kasus positif Covid-19. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi mengatakan, tingkat kasus positif di Indonesia masih tinggi, yaitu mencapai 18 persen. 

"Positivity rate Indonesia sudah di angka 18 persen dan sebetulnya itu menjadi sebuah alarm. Agar penularan tidak semakin tinggi, maka mobilitas harus dikendalikan," kata Sonny dalam konferensi pers virtual BNPB, Rabu (23/12).

photo
Calon penumpang duduk di ruang tunggu Terminal Bungurasih, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (23/12/2020). - (Umarul Faruq/ANTARA FOTO)

Sonny mengatakan, masyarakat harus belajar dari lonjakan kasus Covid-19 pada periode libur panjang sebelumnya. Ia mengungkapkan, dua pekan setelah libur panjang hari raya Idul Fitri, kasus Covid-19 naik sekitar 69 hingga 93 persen. Kemudian pada libur HUT RI Agustus lalu, kasus Covid-19 meningkat sekitar 58 sampai 118 persen. 

Terkait

"Bahkan yang paling baru di akhir Oktober 2020 kemarin, walaupun kami sudah membangun narasi jangan berlibur atau libur aman, nyaman, tanpa kerumunan ternyata kasusnya masih naik 17 hingga 22 persen," katanya. 

Menurut pengamatan Satgas Covid-19, kata dia, setiap libur panjang selalu terjadi penurunan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Masyarakat cenderung tidak bisa menjaga jarak. Padahal, kerumunan-lah yang membuat potensi penularan Covid-19 tinggi. Apalagi, penderita Covid-19 lebih banyak yang tidak menunukkan gejala. 

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat yang bepergian untuk selalu mengenakan masker saat berada di tempat umum dan transportasi massal. Lalu, sebisa mungkin menjaga jarak dan tidak mengobrol saat makan bersama orang lain maupun keluarga. "Saat makan kita harus membuka masker. Tapi, harus jaga jarak dan jangan berbicara karena itu berpotensi menularkan virus," ujar dia. 

Imbauan untuk selalu menjaga protokol kesehatan penting dijaga saat bepergian karena penularan dan orang tanpa gejala (OTG) bisa ada dimana-mana. Buktinya, PT KAI Daop 1 Jakarta mendapatkan ada 109 orang yang positif Covid-19 dari 23.400 calon penumpang KA yang menjalani tes cepat antigen di Stasiun Gambir dan Pasar Senen, Jakarta Pusat. 

Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa mengatakan, sebanyak 6.700 calon penumpang menjalani rapid test antigen di Stasiun Gambir dan Pasar Senen pada 21 dan 22 Desember 2020. Sedangkan pada Rabu  (23/12), hingga pukul 12.00 WIB, tercatat 16.700 calon penumpang yang menjalani tes cepat antigen. 

"Sebanyak 109 orang positif. Selanjutnya, kami berikan arahan khusus kepada mereka (untuk penanganan selanjutnya)," kata Eva ketika dikonfirmasi Republika, Rabu (23/12). 

KAI Daop 1 memastikan calon penumpang yang positif Covid-19 tidak dibolehkan berangkat. PT KAI pun akan mengembalikan tiket yang sudah dibeli penumpang. 

Puncak arus mudik 

Terkait arus penumpang, Eva mengatakan ada sebanyak 16.700 penumpang yang berangkat dari Daop I. Ini merupakan volume keberangkatan tertinggi pada periode libur Nataru sejauh ini.  Eva mengatakan, 11.300 penumpang berangkat dari Stasiun Senen dan 5.400 penumpang berangkat dari Stasiun Gambir. 

photo
Calon penumpang kereta api menunggu giliran tes cepat antigen Covid-19 di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (22/12). Ribuan calon penumpang mengikuti tes cepat antigen Covid-19 sebagai syarat untuk melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan kereta api selama libur Natal dan Tahun Baru yang diberlakukan mulai tanggal 22 Desember hingga 8 Januari 2021. - (Republika/Thoudy Badai)

PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) Tbk memperkirakan puncak arus mudik Nataru di Bandara Soekarno-Hatta berlangsung hingga Kamis (24/12). VP of Corporate Communication AP  II Yado Yarismano mengatakan, jumlah penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu kemarin diperkirakan sebanyak 846 penerbangan.  "Untuk penumpang pesawat, diperkirakan mencapai sekitar 83.500 orang," kata Yado, kemarin. 

Yado memastikan, seluruh staf di Bandara Soekarno-Hatta meningkatkan kesiapan dan kesigapan personel untuk mengantisipasi peningkatan trafik penumpang dan penerbangan. Dia mengimbau, calon penumpang pesawat untuk memperhatikan persyaratan penerbangan termasuk yang berlaku di tengah pandemi demi mendukung kelancaran proses keberangkatan penerbangan.

Sementara itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk juga memprediksi puncak arus mudik Nataru terjadi pada Kamis (24/12). Sedangkan puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Ahad (27/12). 

Operation and Maintenance Management Group Head Jasa Marga Pratomo Bimawan Putra mengatakan, Jasa Marga memprediksi jumlah kendaraan yang keluar dari wilayah Jabotabek pada periode libur Natal mencapai 842 ribu kendaraan. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 15,4 persen dari arus lalu lintas normal pada November 2020. "Angka tersebut juga menunjukkan peningkatan 0,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu," kata dia. 

Berdasarkan catatan Republika dari data Jasa Marga, jumlah kendaraan yang meninggalkan Jakarta pada libur panjang sebelumnya, yaitu libur panjang Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah sebanyak 317 ribu kendaraan. Sementara itu, pada libur panjang Idul Adha, jumlah kendaraan yang meninggalkan Jakarta pada 30-31 Juli tercatat sebanyak 345.575 kendaraan.

Untuk mengantisipasi kepadatan saat periode libur panjang, Jasa Marga telah menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya, lanjut Pratomo, berupa antisipasi kepadatan lalu lintas di gerbang tol utama, di antaranya dengan peningkatan layanan transaksi melalui mobile reader. 

Tutup tempat wisata 

Sejumlah pemerintah daerah memutuskan untuk menutup tempat wisata guna menekan risiko penularan Covid-19 di masa libur panjang. Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, misalnya, bakal menutup semua objek wisata selama tiga hari sejak 31 Desember 2020 hingga 2 Januari 2021. 

"Ini dilakukan demi mencegah melonjaknya kasus Covid-19. Mmaka diputuskan ditutup selama tiga hari," kata Pelaksana Tugas Bupati Kudus Hartopo di Kudus, Rabu.

Ia mengingatkan objek wisata yang dimaksudkan, yakni desa wisata, semua daya tarik wisata, serta kolam renang. Sementara pada 31 Desember, kata dia, Pemkab Kudus juga menginstruksikan pembatasan operasional tempat usaha mulai dari pasar modern, rumah makan, warung makan, restoran, cafe, tempat bermain anak, tempat rekreasi dan olahraga serta pedadang kaki lima. "Khusus tempat usaha tersebut, tutupnya mulai pukul 20.00 WIB," ujarnya.

Kebijakan serupa dilakukan Pemprov DKI Jakarta. DKI menutup sejumlah tempat wisata, salah satunya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). 

Manajemen TMII menayatakan bakal mengikuti perintah Pemprov DKI untuk menutup seluruh operasional wahana saat Natal 2020 dan tahun baru 2021 demi mengantisipasi potensi penularan COVID-19. "Kami sudah umumkan bahwa TMII tutup selama total tiga hari, yakni pada Jumat (25/12) saat perayaan Natal dan Rabu (31/12) hingga Kamis (1/1)," kata Kasi Humas TMII Novera Mayangsari di Jakarta, Rabu. 

Sumber : Antara


×