Petugas medis beraktivitas di area Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet di Jakarta, Jumat (18/12). Keterisian tempat tidur rumah sakit di Jakarta hingga 14 Desember 2020 telah mencapai 73 persen, meningkat 13 persen dari akhir Oktober lalu akibat lonj | Republika
21 Dec 2020, 03:05 WIB

Rumah Sakit Makin Kewalahan

Rumah sakit makin kesulitan menyediakan kamar khusus penderita Covid-19.

JAKARTA – Penyebaran Covid-19 di Tanah Air setiap hari menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada Ahad (20/12), tercatat 6.982 kasus baru dari 48.134 pemeriksaan spesimen terhadap 28.837 orang dan 221 orang dilaporkan meninggal dunia alias mencatatkan rekor baru.

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mengakui, rumah sakit (RS) semakin kesulitan menyediakan kamar khusus penderita Covid-19, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Itu karena angka penularan Covid-19 yang tinggi dan sebagian pasien dengan gejala ingin segera dirawat di RS.

Sekretaris Jenderal Persi Lia G Partakusuma mengatakan, banyak RS yang sudah tidak bisa menyiapkan tambahan fasilitas lagi untuk pasien Covid-19. Bahkan, beberapa RS di Jawa Barat menggunakan fasilitas ICU untuk menampung sementara pasien Covid-19, padahal itu sebenarnya tidak boleh dilakukan.

“Namun, kondisinya makin hari makin sulit mencari ruang dan tempat tidur di rumah sakit bagi penderita Covid-19. Karena itu, kami mengimbau agar masyarakat tidak hanya bergantung ke tempat tidur RS, terutama bagi penderita dengan gejala ringan,” kata Lia kepada wartawan, Ahad (20/12).

Terkait

photo
Pasien beraktivitas di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet di Jakarta, Jumat (18/12). Menurut Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengungkapkan, keterisian tempat tidur rumah sakit di Jakarta hingga 14 Desember 2020 mencapai 73 persen, meningkat 13 persen dari akhir Oktober lalu. - (Republika)

Dia menegaskan, mau disiapkan seberapa banyak tempat tidur pun, dengan angka positif yang semakin tinggi akan tetap tidak cukup, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya serta Jawa Barat. Karena itu, Persi berharap masyarakat agar jangan terburu-buru ke RS bila Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan.

“Kita meminta kepada seluruh pemda, khususnya di wilayah DKI dan sekitarnya dan Jawa Barat, menyiapkan tempat isolasi yang layak dulu sehingga penderita Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan bisa isolasi diri untuk jaga diri dengan protokol kesehatan tanpa harus ke RS,” ujar dia.

Lia mengakui, pihak RS memang selalu diminta untuk menambah kapasitas, cuma kemampuan RS juga ada batasnya. Karena menambah fasilitas tidak mudah, bukan hanya sarana saja, tetapi juga ketersediaan tenaga medis perlu dipikirkan.

“Kondisi terakhir, di Jakarta ada RS yang sudah mencapai 80 persen keterisian pasien Covid-19. Bahkan, di Jawa Barat ada RS yg terpaksa menggunakan ruang ICU untuk pasien Covid-19, padahal kan sebenarnya tidak boleh, tapi lagi-lagi karena darurat,” ujar dia.

photo
Tim relawan menyiapkan ruang isolasi pasien Covid-19 di Asrama Haji, Komplek Islamic Center Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (17/12). Akibat ruang isolasi di RSUD Ciamis penuh, Pemerintah Kabupaten Ciamis memanfaatkan Asrama Haji sebagai ruang isolasi terpusat Covid-19 dengan menyediakan 30 tempat tidur untuk pasien positif yang bergejala ringan dan tidak bergejala. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Sampai saat ini, angka keterpenuhan RS masih cukup tinggi di Jakarta dan sekitarnya. Dengan momentum liburan sekarang, pihak RS juga semakin khawatir bila terjadi penambahan. Apalagi, katanya, masyarakat semakin kurang peduli dengan protokol kesehatan.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I Kolonel Marinir Aris Mudian mengatakan, pasien Covid-19 yang menjalani rawat inap di Tower 4, 6, dan 7 RSD Wisma Atlet tercatat 3.404 orang dan mereka mengisi 76,9 persen dari 4.424 tempat tidur pasien yang tersedia. Sementara itu, 1.132 dari 1.570 (72 persen) tempat tidur pasien di ruangan isolasi Tower 5 RSD Wisma Atlet juga telah terisi.

Rumah sakit rujukan Covid-19 di Sulawesi Barat juga dilaporkan penuh sehingga pasien diarahkan untuk isolasi mandiri. Anggota Satgas Covid-19 Sulbar, Muhammad Ichwan, mengatakan, ruang IGD, beberapa poliklinik, ruang isolasi, dan ruang karantina Rumah Sakit Regional Sulbar tidak lagi menerima pasien karena kamar sudah penuh. “Kalau ada penambahan pasien Covid-19, akan diarahkan isolasi mandiri,” ujar dia di Mamuju, Sulbar.

Surabaya penuh

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga menyatakan peningkatan kasus belakangan menyebabkan beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 di Surabaya hampir penuh. "Makanya saya sampaikan untuk sementara tolong kalau tidak terpaksa tidak ke luar kota dulu," kata Risma di Surabaya, Ahad (20/12).

photo
Warga menjenguk kerabat dari jarak jauh di kawasan isolasi mandiri untuk pasien Covid-19 di Balai Desa Merdikorejo, Tempel, Sleman, Rabu (16/12). Di halaman balai desa dibuatkan kawasan khusus untuk warga yang positif Covid-19. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Risma menegaskan, rata-rata pasien di rumah sakit di Surabaya terpapar usai bepergian dari luar kota. "RS Husada Utama itu kurang lebih masih 100 (bed), kemudian RSUD Soewandi penuh. Di beberapa rumah sakit lain kapasitasnya tinggal sekitar 10-20 persen," ujarnya.

Meski ruang isolasi di Hotel Asrama Haji kapasitasnya kosong, Risma menyatakan belum berani menggunakannya bagi pasien yang memiliki gejala klinis. Saat ini semua warga yang terpapar Covid-19 disertai gejala langsung dirujuk ke rumah sakit. "Hotel Asrama Haji sebetulnya masih kosong tapi kita tidak berani meskipun itu dia ada gejala-gejala. Sekarang ini semua kita rujuk ke rumah sakit," ujarnya.

Risma menyatakan bakal berdiskusi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Diskusi ini dinilai penting untuk mendapatkan masukan-masukan terkait pemanfaatan Hotel Asrama Haji (HAH) bagi pasien Covid-19 disertai gejala.

"Saya coba mungkin akan berdiskusi dengan IDI untuk bagaimana kami bisa dibantu backup Asrama Haji. Sehingga kalau gejalanya ringan itu mungkin bisa di Hotel Asrama Haji," ujarnya.

Risma berharap, warga kembali meningkatkan disiplin protokol kesehatan. Sebab, ia tak ingin ada lagi warga Surabaya yang terpapar hingga harus dirawat di rumah sakit. "Saya ingatkan lagi, bukan hanya agar tidak liburan (ke luar kota) tapi kalau setelah pulang kerja (dari luar kota) dia lama di sana bisa langsung swab," kata dia.


×