Sejumlah pemain Persib Bandung menjalani sesi latihan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, sebelum pandemi Covid-19. | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Olahraga

15 Dec 2020, 04:22 WIB

PSSI tak Beri Kepastian Kelanjutan Kompetisi

Pihak federasi maupun operator belum juga memberikan kejelasan terkait kompetisi yang akan datang.

JAKARTA -- Tak tahan dengan ketidakpastian, itulah premis yang tepat disematkan kepada para pemain yang memutuskan hengkang dari klub-klub peserta kompetisi Liga 1. Belakangan ini, berbondong-bondong pemain asing yang telah memperkuat klub Liga 1 memilih pamit karena kelanjutan kompetisi musim ini belum jelas. Bahkan, ada juga pemain lokal yang menerima pinangan dari klub asing. 

Semua ini karena Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) ataupun PT Liga Indonesia Baru (LIB) tak kunjung memberikan kepastian soal kelanjutan kompetisi musim 2020 hingga akhir tahun ini.

Setelah beberapa kali gagal menjadwal ulang karena masalah izin dari pihak kepolisian, hingga kini pihak federasi maupun operator belum juga memberikan kejelasan terkait kompetisi yang akan datang. Kini, apakah mau melanjutkan musim 2020 atau memulai musim baru. Masih buram.

PSSI bersama LIB seharusnya bisa memberikan kepastian dan kejelasan soal masa depan kompetisi. Bahkan, mereka lebih arif untuk tak ragu menyatakan kompetisi musim 2020 dihentikan sejak awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Pasalnya, simpang siurnya hal ini sangat berdampak pada banyak hal. Ketidakpastian tentu membuat sponsor bingung, kemudian mengganggu kestabilan klub secara finansial, belum lagi kaitannya dengan kontrak para pemain. 

PSSI sebetulnya sudah mewacanakan agar kompetisi musim 2020 dilanjutkan pada Februari 2021 mendatang. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian terkait jadwal ataupun teknisnya. Di sisi lain, rata-rata kontrak pemain bersama klub akan berakhir pada Desember 2020. Belum lagi, pemain terpaksa harus menerima potongan besar terkait gaji mereka. Karena itu, wajar jika pemain memilih hengkang dan mengambil tawaran dari klub di negara lain yang lebih menjanjikan dari segi kualitas maupun nilai kontrak. 

Arema FC telah melepas empat pemain asingnya, yakni Jonathan Bauman, Oh In-kyun, Matias Malvino, dan Elias Alderete. Masih dari klub di provinsi yang sama, Jawa Timur, David da Silva undur diri dari Persebaya Surabaya. Selanjutnya, pemain asal Mali, Makan Konate, juga pamit dari tim berjuluk Bajul Ijo tersebut.

“Jujur, keputusan ini sulit. Saya sudah telanjur menjanjikan trofi juara pada Persebaya. Tetapi, situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Saya harus lanjutkan perjalanan. Insya Allah, suatu saat saya kembali,” ujar Konate, akhir pekan kemarin.

Selain itu, Sylvano Comvalius bahkan sudah pamit dari Persipura Jayapura sejak Agustus lalu dan kini telah bermain untuk klub Malta, Sliema Wanderes. 

Bahkan, klub promosi Liga 1 2020, Persiraja Banda Aceh, harus kehilangan Adam Mitter yang sudah mengumumkan kepergiannya. Lalu, ada nama-nama, seperti Vanderlei Francisco, Bruno Dybal, dan Samir Ayass hanya tinggal menunggu waktu untuk mengucapkan pamit. Di kubu Persik Kediri, mereka telah melepas Ante Bakmaz, Nicola Asceric, Gaspar Vega, dan Jefferson Alves Oliveira. 

Sementara itu, pemain lokal seperti Ryuji Utomo dan Todd Ferre menerima pinangan dari klub asing. Ryuji menerima tawaran menjadi pemain pinjaman di Liga Super Malaysia bersama Penang FC, sementara Todd Ferre menjalani masa pinjaman di Liga 2 Thailand bersama Lampang FC. 

Presiden klub Persija, Mohamad Prapanca, mengatakan, Penang FC merupakan salah satu dari sejumlah klub yang serius mendekati Ryuji. Tawaran dari juara Malaysia Premier League 2020 itu dinilai paling baik untuk bek Macan Kemayoran ini dibandingkan tim-tim lainnya. “Proses kepindahan Ryuji ke Penang FC sudah rampung," kata Prapanca, awal bulan ini.

Masih banyak lagi nama-nama yang akan menambah daftar pemain hengkang demi mencari waktu bermain di sebuah kompetisi resmi.

Kendati demikian, PSSI maupun LIB tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas ketidakpastian ini. Pasalnya, pada penundaan terakhir, yakni November lalu, kompetisi kembali dibatalkan karena tidak turunnya izin dari pihak kepolisian. Padahal, pihak penyelenggara sudah membuat regulasi sedemikian rupa agar kompetisi bisa tetap berjalan dengan tertib dan aman serta mematuhi protokol kesehatan. 

Hingga saat ini pun, kabar PSSI melanjutkan kompetisi musim 2020 pada Februari 2021 mendatang masih sebatas wacana. Pasalnya, kepolisian bisa saja kembali tidak memberikan izin dengan alasan tertentu. Seperti pada Desember ini, pasukan korps Tri Brata lebih memfokuskan pada pengamanan pilkada. Masyarakat akhirnya hanya bisa menikmati tontonan yang disediakan, yakni kampanye dan debat kandidat yang disiarkan di televisi.


×