PPara petinggi bank syariah BUMN berfoto bersama seusai mengikuti penandatanganan Conditional Merger Agreement untuk Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN di Jakarta, Senin (12/10). | Dhemas Reviyanto ANTARA FOTO
12 Dec 2020, 03:00 WIB

Selamat Datang Bank Syariah Indonesia

Bank hasil merger bakal masuk ke sektor yang belum terpenetrasi maksimal perbankan syariah.

JAKARTA -- Proses merger PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah terus berjalan. Nama bank yang akan digunakan telah ditetapkan, yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Keberadaan Bank Syariah Indonesia diyakini dapat membangkitkan ekonomi dan keuangan syariah serta memajukan ekosistem halal di Tanah Air. Penetapan nama Bank Syariah Indonesia tertuang dalam ringkasan rancangan penggabungan usaha yang dipublikasikan pada Jumat (11/12).

Ringkasan tersebut juga memuat tambahan penjelasan mengenai struktur direksi dan logo perusahaan. Nama Bank Syariah Indonesia akan digunakan oleh BRI Syariah selaku entitas yang menerima penggabungan.

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN, Hery Gunardi, mengatakan, seluruh proses dan tahapan-tahapan merger akan terus dikawal hingga proses penggabungan selesai dilakukan.

Terkait

“Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, entitas baru ini memerlukan identitas yang kuat dan direksi yang berpengalaman untuk menjalankan operasionalnya," kata Hery dalam keterangan resmi, Jumat (11/12).

Bank Syariah Indonesia bakal memiliki susunan kepengurusan yang diisi 10 direksi. Susunan direksi terdiri atas direktur utama, dua posisi wakil direktur utama, dan masing-masing satu direktur wholesale and transaction banking, retail banking, sales and distribution, information technology and operations, risk management, compliance and human capital, serta finance and strategy.

Nama-nama susunan direksi, dewan komisaris, dan dewan pengawas syariah (DPS) akan dibahas dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang rencananya digelar pada Selasa (15/12).

Hery yang juga menjabat sebagai direktur utama Bank Syariah Mandiri mengatakan, direksi akan diisi orang-orang berpengalaman dalam bidangnya. "Oleh karena itu, visi untuk menjadi salah satu bank syariah terbesar di dunia akan semakin mantap dan bisa kita wujudkan,” ujarnya.

Direktur Utama BRI Syariah Ngatari mengatakan, disepakatinya identitas baru semakin memacu semangat untuk menuntaskan merger dan beroperasi. Kendati demikian, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilalui hingga penggabungan tuntas, termasuk memperoleh persetujuan dari regulator-regulator terkait.

Ngatari menjamin seluruh proses merger dilakukan dengan mengedepankan para karyawan, nasabah, dan mitra usaha. Ia menegaskan, merger saat ini belum efektif. "Kami masih menjalankan sejumlah proses agar dapat memperoleh semua persetujuan dari regulator. Hingga proses tersebut selesai, semua operasional dan layanan tetap berjalan normal dan optimal,” ujar Ngatari.

Direktur Utama Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan, Bank Syariah Indonesia akan sejalan dengan upaya pemerintah membentuk ekosistem halal serta mendorong perkembangan ekonomi syariah. Senada dengan Hery Gunardi, Firman menyebut pengelolaan bank oleh para profesional yang berpengalaman dalam bidangnya akan membantu mewujudkan salah satu tujuan dari penggabungan.

"Tujuan itu menjadikan Bank Syariah Indonesia sebagai jangkar dalam ekosistem industri halal dan mendukung visi untuk memosisikan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi syariah dunia,” kata Firman.

Bank Syariah Indonesia akan memiliki aset senilai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun. Jumlah aset dan modal inti tersebut akan menempatkan Bank Syariah Indonesia dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset dan 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam lima tahun ke depan.

Dengan besarnya jumlah aset dan jaringan yang dimiliki, Bank Syariah Indonesia diyakini mampu memberikan layanan finansial berbasis syariah, layanan sosial, bahkan spiritual bagi lebih banyak nasabah. Pada segmen ritel, bank ini akan memiliki ragam solusi keuangan dalam ekosistem Islami, seperti terkait keperluan ibadah haji dan umrah, zakat, infak, sedekah, wakaf (ziswaf), produk layanan berbasis emas, pendidikan, kesehatan, dan remitansi internasional.

Pada segmen korporasi dan wholesale, bank hasil merger bakal masuk ke dalam sektor-sektor industri yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan syariah. Bank juga akan dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur berskala besar. Selain itu, Bank Syariah Indonesia juga bakal menyasar investor global lewat produk-produk syariah.  

Sementara, pada segmen UKM dan mikro, Bank Syariah Indonesia dipastikan akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM. Bank hasil merger akan tetap berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BRIS.

Kepastian status

Rencana penggabungan bank syariah anak BUMN dinilai masih membutuhkan kepastian status terkait bank hasil merger tersebut. Saat ini, upaya merger telah menunjukkan langkah maju salah satunya dengan penetapan nama Bank Syariah Indonesia.

Pengamat Ekonomi Syariah STEI SEBI Azis Setiawan mengatakan, bank hasil penggabungan masih menjadi anak perusahaan bank BUMN konvensional. Menurut Azis, status tersebut akan menyulitkan Bank Syariah Indonesia dalam pengambilan keputusan yang lebih mandiri dan kuat. Selain itu, secara strategis, Bank Syariah Indonesia juga sulit dalam mencari pendanaan dari pemerintah.

"Karena bukan bank BUMN maka akan menyulitkan untuk bisa mengakses langsung Penyertaan Modal Negara (PMN) dan fasilitas-fasilitas pendanaan, seperti penempatan likuiditas dana pemerintah yang biasanya lebih diprioritaskan untuk bank BUMN," kata Azis, Jumat (11/12).

Azis menyarankan agar status bank syariah hasil merger bisa menjadi bank BUMN dan bukan anak perusahaan. Menurut Azis, rencana strategis ini perlu masuk dalam rencana jangka pendek proses merger tersebut.

Dilihat dari skala ekonomis, kata Azis, aset Bank Syariah Indonesia masih relatif kecil dibandingkan beberapa bank konvensional yang rata-rata sudah berada di atas Rp1.000 triliun. Sehingga, kompetisi jangka panjang antara bank syariah dan bank konvensional belum sepenuhnya ideal.

"Dengan demikian, penambahan modal serta peningkatan skala menjadi penting agar Bank Syariah Indonesia bisa naik kelas ke BUKU IV," tutur Azis.

Setelah merger, Bank Syariah Indonesia nantinya akan memiliki aset mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun. Modal inti ini masih membutuhkan peningkatan sekitar Rp 10 triliun untuk bisa tembus ke BUKU IV.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan jelang merger adalah terkait dengan desain transformasi bank hasil merger. Menurut Azis, proses integrasi budaya, sistem, bisnis, dan organisasi sebaiknya tidak dilakukan terlalu lama agar pertumbuhan dan ekspansi bank syariah bisa lebih cepat.

Kelanjutan proses merger bank syariah BUMN mendapatkan respons positif dari pasar. Pengumuman penetapan nama bank hasil merger pun mendongkrak saham BRI Syariah selaku bank yang menerima penggabungan. Pada Jumat (11/12), saham BRI Syariah menguat sebesar 19,80 persen ke level tertingginya, yakni Rp 1.785 per saham.

"Penyebab menguatnya lebih kepada kepastian dengan didapatnya pernyataan efektif dari OJK. Selain itu, nama juga resmi berubah menjadi Bank Syariah Indonesia," kata Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma.

Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia menilai rencana penggabungan atau merger bank syariah BUMN akan mendorong Indonesia memiliki satu bank syariah dengan aset yang besar. Direktur Riset CORE Piter Abdullah mengatakan, aset yang besar itu dapat membantu pertumbuhan porsi perbankan syariah terhadap industri.

“Dengan bank syariah yang besar, diharapkan akan mampu menarik institusi pengelola dana Islam global agar bisa masuk ke Indonesia untuk menanamkan dana,” ujar Piter.

Menurutnya, peluang tersebut juga akan semakin besar seiring langkah pemerintah yang mendirikan lembaga pengelola investasi atau sovereign wealth fund (SWF) Indonesia.

“Pemerintah bersama bank syariah hasil merger bisa menerbitkan sukuk global dengan dukungan proyek infrastruktur pemerintah. Ini akan sangat menarik bagi investor global yang berorientasi instrumen syariah,” ucapnya. 


×