Transformasi digital di masa pandemi | Freepik.com
08 Dec 2020, 15:33 WIB

Pandemi yang Berujung Transformasi

Semakin banyak bank datang untuk memulai inisiatif transformasi digital mereka.

Saat Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi, hal penting pertama yang dilakukan Bank Mandiri adalah menjaga produktivitas pegawainya dengan memberikan fleksibilitas bekerja dari rumah (WFH). Senior Executive Vice President Teknologi Informasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Toto Prasetio mengakui, Covid-19 sangat mengubah model kerja di Bank Mandiri.

Ia mengatakan, tantangannya tidak hanya menyediakan alat rapat virtual, serta berkolaborasi. Namun, juga menggeser budaya Bank Mandiri untuk bekerja secara efektif demi menjaga produktivitas. Budaya baru ini penting untuk diterapkan.

Hal kedua, adalah bagaimana meminimalkan gangguan dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Seiring dengan penerapan circuit operation, Bank Mandiri memisahkan tim TI Bank Mandiri menjadi ada di beberapa gedung perkantoran.

“Kami selalu memastikan, layanan IT Bank Mandiri selalu memuaskan meskipun dalam keadaan pandemi, meski dilakukan oleh Mandirian (sebutan pegawai Bank Mandiri-Red) yang bekerja di rumah menggunakan VPN,” ujar Toto dalam diskusi “Intelligent Banking & The New Normal” di Microsoft Cloud Innovation Summit 2020, beberapa waktu lalu.

Terkait

Toto mengungkapkan, Bank Mandiri juga memastikan ketersediaan dan keandalan dari saluran digital mereka, seperti isi ATM, mobile banking, internet banking, dan lain sebagainya.

Saat ini, lanjutnya, Bank Mandiri memiliki fokus utama untuk pembenahan aplikasi mobile banking modern online dengan pembuatan fitur-fitur baru, seperti digital warning dan biometric authentication untuk memberikan layanan self service digital channel.

“Dengan adanya artificial intelligence analytic di Mandiri, kami dapat mengidentifikasi perilaku pelanggan baru serta kebiasaan pelanggan setiap aktivitas perbankan,” katanya.

Langkah serupa juga disampaikan Director Indonesia Stock Exchange (IDX) Fithri Hadi. Ia menceritakan perjalanan transformasi digital di IDX, terutama di masa pandemi Covid-19.

Ia mengatakan pandemi Covid-19 memiliki dampak yang dahsyat. “Kalau di bursa, waktu itu kita berpikir harus tetap available di pasar. Bagaimana pun juga layanan kita sangat tergantung dengan teknologi,” kata Hadi.

Pada waktu itu, lanjutnya, tantangan terbesar adalah bagaimana kantor tetap beroperasi. Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI) merespon dengan mencarikan teknologi yang relevan, yakni yang bisa memindahkan semua aktivitas yang tadinya di kantor, menjadi di rumah masing-masing karyawan.

BEI memanfaatkan internet yang sudah diamankan terlebih dahulu, kemudian memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang bisa membantu karyawan tetap bekerja, berkoordinasi, serta berkolaborasi satu dengan lainnya. Hal ini dilakukan agar aktivitas kantor yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka tidak berkurang.

Pertemuan rapat yang bergantung dengan kehadiran orang-orang di ruang rapat, dipindahkan ke rumah masing-masing secara virtual. Tantangan lain yang dihadapi BEI, ada di perdagangan efek.

Tepatnya, bagaimana mengakomodir keterbukaan informasi dari semua perusahaan tercatat sampai ke investor. Dari dulu, kata Hadi, back office BEI tidak terhubung ke internet, namun sekuritas BEI memang sudah terhubung ke internet.

Hadi menjelaskan, tantangannya waktu itu adalah bagaimana menarik jaringan ke tempat yang BEI jaga betul, dibuka juga ke internet sehingga operator sistem perdagangan tidak harus berada di samping server-nya.

BEI pun merespon dengan menyediakan fasilitas ketika para perusahaan mau membuka diri ke investor. BEI mewajibkan untuk menggunakan aplikasi dari rumah masing-masing untuk kemudian tetap memperbarui di perusahaan masing-masing.

Evolusi Memanfaatkan Cloud

photo
Komputasi awan - (Pixabay)

Selanjutnya, Hadi menceritakan bagaimana teknologi bisa mendukung BEI di beragam aspek, seperti pelayanan internet, optimalisasi operasi dan lain-lain. Menurutnya, teknologi BEI sekarang sudah memungkinkan satu aplikasi saling berhubungan dengan aplikasi lainnya melalui internet dan ponsel cerdas.

Ada juga teknologi cloud computing yang memiliki konsep API dan pertukaran data antar informasi. Ini bisa mendorong sinergi sinergi dalam pertumbuhan secara anorganik.

Nantinya tidak menutup kemungkinan customer base bursa akan dapat dari customer base entitas lainnya yang sudah memiliki populasi juga, hanya dengan menghubungkan aplikasi mereka dengan aplikasi BEI. “Jadi kita melihat ke depan jadi opportunity yang besar untuk kita lebih luas cakupannya,” ujarnya.

Saat ini, BEI menggunakan Microsoft Teams untuk rapat-rapat virtual. Platform ini juga terintegrasi dengan surel Outlook, serta memungkinkan kolaborasi dan pembentukan kerja tim secara virtual.

BEI kemudian mencoba memikirkan untuk memindahkan semua sistem ke cloud agar terhindar dari trafik dan bisa diakses dengan mudah.“Kita pikirkan bagaimana memindahkan sistem kita yang cukup banyak itu satu per satu ke cloud. Nah kita sudah agendakan beberapa yang kita bisa pindah,” kata Hadi.

Hadi mengungkapkan, BEI memindahkan sistem yang kurang kritis terlebih dulu ke cloud Sebab biasanya, kalau memindahkan semuanya tanpa kesiapan yang kolektif, maka pasti membawa masalah juga.

BEI berharap pada 2021-2022 sudah mulai banyak yang pindah ke cloud karena manfaatnya, seperti pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan di kantor sudah bisa dikerjakan di rumah dan yang bisa dikerjakan dari rumah bisa dikerjakan di mana saja sepanjang ada internet. 

Kemampuan Beradaptasi

Pandemi Covid-19 memang memberi warna baru dalam upaya transformasi digital berbagai sektor industri. Industry Leader-Financial Services, Microsoft Asia Pacific Basudev Banerjee mengungkapkan pandemi Covid-19 sangat berdampak pada sendi-sendi ekonomi.

Microsoft telah melihat banyak bank datang untuk bermitra dengan perusahaan dan memulai inisiatif transformasi digital mereka. Pada fase awal, sekitar Januari dan Februari, ini adalah fase merespon apa yang terjadi, yakni bagaimana menanggapi karantina wilayah yang terjadi di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Pada Juni dan Juli, perlahan-lahan pasar mulai terbuka. Negara-negara membuka perekonomiannya untuk menopang kegiatan ekonomi jangka panjang. “Kami melihat bank-bank sedang dalam tahap atau semua organisasi dalam tahap mereka mencoba untuk pulih dari keterkejutan Covid-19,” ujar Banerjee.

Fase berikutnya, telah dimulai di beberapa pasar, contohnya seperti Singapura yang berada dalam tahap di mana bank dan setiap organisasi lain mengubah model bisnis mereka. Kemudian, masuk pula pada tahap mengubah model keterlibatan pelanggan untuk lebih banyak melayani secara digital.

Bank dan organisasi lainnya, kata Banerjee, dapat memilih Microsoft untuk memulihkan dan menata ulang bisnis mereka. Saat berbicara, bank dan organisasi akan melalui fase-fase tersebut dan masing-masing dari mereka mencoba yang terbaik untuk keluar dari masing-masing fase ini.

“Kami memahami teknologi sebagai platform akan membantu dalam pemulihan ekonomi ini dan seluruh proses bertahan. Inovasi sebagai budaya harus berakar dalam organisasi model bisnis dan model budaya,” katanya.

Menurutnya, digital dan pendidikan akan menjadi komponen penting untuk kesuksesan organisasi. Itu sangat banyak dialami oleh setiap organisasi ketika tiba-tiba karyawan mereka mulai bekerja dari rumah atau lokasi lain, tetapi tidak duduk di kantor. Dan akhirnya desain organisasi sebagai struktur yang tangguh harus diwujudkan. Jadi kami sangat yakin bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada hal ini.

 
Kami melihat bank-bank sedang dalam tahap atau semua organisasi dalam tahap mereka mencoba untuk pulih dari keterkejutan Covid-19.
Basudev Banerjee, Industry Leader-Financial Services, Microsoft Asia Pacific 
 
 

 


×