Pemerintah Provinsi Jabar terus berupaya mencapai terwujudnya satu hafiz dari total 5.312 desa yang ada, dengan target di Jabar memiliki minimal satu penghafal Alquran pada 2023. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ | ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
06 Dec 2020, 17:07 WIB

Tafsir dan Penafsir Alquran

Ilmu tafsir diperlukan untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan sebaik-baiknya.

OLEH HASANUL RIZQA

Allah SWT menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Rasulullah SAW menegaskan kitab suci itu sebagai sumber ilmu yang utama. Beliau bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah siapa yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya” (HR Bukhari).

Ilmu tafsir diperlukan untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran dengan sebaik-baiknya. M Quraish Shihab dalam Kaidah Tafsir menyebut definisi tafsir Alquran, “penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia.” Menurutnya, pengertian itu mengisyaratkan tiga hal penting bagi sang penafsir.

Kesungguhan

Terkait

Quraish Shihab mengatakan, berdasarkan definisi tafsir Alquran di atas, maka seorang penafsir harus memiliki kesungguhan hati dan pikiran. Ahli tafsir mesti bersungguh-sungguh dan terus berupaya untuk menemukan makna yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan tentang sebuah ayat Alquran. Dengan demikian, lanjut cendekiawan Muslim itu, penafsiran bukanlah semacam pekerjaan sampingan. Perlu totalitas untuk melakukannya.

Di samping itu, seorang mufasir tidak boleh bekerja tanpa dasar atau sekadar kira-kira. Sebab, yang ditafsirkannya adalah firman Allah. Hasilnya tentu akan berdampak besar dalam kehidupan orang banyak, utamanya Muslimin. Pertanggungjawabannya tidak hanya dituntut di dunia, tetapi juga akhirat.

Menerangkan

Seorang penafsir Alquran hendaknya tidak berhenti pada penjelasan makna atas ayat-ayat yang dipahaminya. Menurut Quraish Shihab, sang mufasir pun seyogianya juga berupaya menyelesaikan kemuskilan-kemuskilan atau kesamaran-kesamaran makna lafaz atau kandungan kalimat dalam sebuah ayat Kitabullah. Dengan demikian, pembaca karyanya akan mendapatkan pemahaman yang lebih terang.

Akan tetapi, sambung mantan menteri agama RI itu, penyelesaiannya pun jangan sampai dipaksakan. Biarlah makna lafaz dalam kesamaraan untuk penafsir yang bersangkutan, bahkan bisa jadi di sepanjang generasinya.

Mungkin suatu ketika, insya Allah, makna lafaz yang baginya samar itu akan terungkap. Faktanya, cukup banyak masalah-masalah yang dahulu belum terkuak mulai menemui titik terang atau penjelasannya pada masa kini.

photo
Seorang warga membaca Alquran digital Quran Best di gawainya usai acara Peluncuran aplikasi Quran Best di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukancana, Kota Bandung, Rabu (8/5). Aplikasi Quran digital yang diberi nama Quran Best tesebut dibuat untuk mendukung program Bandung Agamis - (Republika)

Pemeringkatan

Tafsir merupakan hasil upaya seseorang, sesuai dengan tingkat kemampuan dan kecenderungannya. Maka dari itu, peringkat-peringkat hasil karya penafsiran pun menjadi fakta yang tidak dapat dihindari. Masing-masing kitab tafsir dapat ditinjau, baik dari segi kedalaman uraian, keluasan penjelasan, maupun corak penafsiran.

Dalam menafsirkan Alquran, lanjut Quraish Shihab, ada karya mufasir yang bercorak hukum, filosofis, kebahasaan, sains, atau lainnya. Setiap ahli tafsir menimba dari Alquran. Mereka juga mempersembahkan apa-apa yang ditimbanya kepada pembaca.

Walaupun berbeda-beda, alumnus Universitas al-Azhar itu mengingatkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa semuanya benar.


×