Petugas keamanan Kerajaan Arab Saudi berjaga di depan Kakbah, Makkah, Selasa (5/5/2020). Umat Islam pada masa kini dan mendatang terus berusaha, pantang menyerah, dan tidak mudah tercerai-berai. | Saudi Press Agency/Handout via Reuters
06 Dec 2020, 03:00 WIB

Nostalgia Masa Keemasan Islam

Buku ini memaparkan bagaimana masa keemasan Islam di Baghdad dan Andalusia.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Sejarah merupakan rekonstruksi masa lalu. Dengan mempelajari sejarah, generasi kini dapat mengambil ilham dan hikmah dari berbagai peristiwa yang pernah terjadi. Maka dari itu, umat Islam sudah sepantasnya memperhatikan sejarah perkembangan syiar agama ini.

Terkait

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, dakwah dan kedaulatan Islam terus berdinamika. Bahkan, dalam periode yang panjang Muslimin pernah memimpin dunia dengan peradaban yang tinggi.

Di antara berbagai karangan terbaru yang membahas tentang sejarah Islam adalah karya Supriyadi, berjudul Renaisans Islam (2015). Terminologi renaisans sesungguhnya merujuk pada periode tertentu dalam sejarah Eropa abad ke-15 hingga 16. Dalam bahasa Prancis, renaissance berarti ‘kelahiran kembali'.

Maknanya, masyarakat Eropa kembali bangkit usai lepas dari berbagai krisis pemikiran, ekonomi, politik, dan bahkan wabah penyakit sejak Abad Kegelapan. Zaman Renaisans ditandai dengan munculnya penghargaan terhadap etika, estetika, dan rasionalitas.

Supriyadi menghubungkan pemaknaan renaisans itu dengan Islam sebagai upaya untuk menemukan kembali faktor-faktor kunci di balik kegemilangan Muslimin pada masa lalu. Buku tersebut dibagi ke dalam tiga bab. Pada bagian pertama, penulisnya menguraikan inspirasi Islam dalam membangun peradaban di berbagai kawasan global.

Selanjutnya, ia menjelaskan berbagai kemajuan yang diraih Baghdad antara abad kedelapan dan kesembilan. Kota yang dibangun pada masa Kekhalifahan Abbasiyah itu merupakan pusat perkembangan budaya, ilmu pengetahuan, sains, kesenian, perekonomian, irigasi, dan pertanian pada masanya. Karena bersifat kosmopolit, cahayanya tidak hanya menyinari kaum Muslimin, melainkan juga berbagai umat agama lain dari penjuru dunia.

 
Karena bersifat kosmopolit, cahayanya tidak hanya menyinari kaum Muslimin, melainkan juga umat agama lain.
 
 

 

Adapun bagian ketiga buku tersebut membicarakan tentang pelbagai kemajuan yang diraih Muslimin di Andalusia (Spanyol). Semenanjung Iberia kala itu menjadi rival bagi Baghdad. Dengan dukungan penguasa Muslim setempat, Andalusia menjadi tempat bagi para sarjana untuk berkarya dan mengembangkan macam-macam ilmu pengetahuan dan sains.

Mereka tidak hanya berasal dari umat Islam, tetapi juga agama-agama lain. Karena itu, sejumlah pemikir dan sejarawan modern menegaskan, Renaisans Eropa justru bermula sejak kejayaan Muslimin atas Spanyol pada abad ke-10, bukan pada abad ke-15 atau 16 yang di dalamnya kaum sekuler bermunculan di Benua Biru.

photo
Buku karya Supriyadi ini menelaah sejarah kejayaan Islam, terutama di Baghdad dan Andalusia pada abad pertengahan. - (DOK Pribadi)

Mengembalikan semangat

Supriyadi mengutip pendapat sejarawan Inggris-Amerika, Bernard Lewis. Menurutnya, sejarah itu diingat, ditemukan kembali, dan pada akhirnya ditemuciptakan.

Dengan demikian, umat Islam pada masa sekarang pun sudah seharusnya menemukan kembali semangat renaisans Islam. Sebab, ada begitu banyak pencapaian Muslimin dalam berbagai bidang yang terjadi di masa lalu. Bahkan, hasil rintisan dan penemuan mereka menjadi modal utama bagi generasi-generasi sesudahnya untuk memasuki zaman modern.

Islam pernah menguasai separuh wilayah muka bumi. Tidak hanya berdaulat secara politik dan pertahanan, kaum Muslimin pun berkontribusi besar dalam menghadirkan peradaban yang unggul.

Bermula dari sosok Nabi Muhammad SAW. Pada awalnya, dakwah Rasulullah SAW di Makkah menemui berbagai penolakan dari penguasa setempat yang masih berpaham paganisme. Setelah berhijrah ke Madinah—sebelumnya bernama Yastrib, beliau mulai membangun negeri yang aman, tenteram, dan kuat. Beberapa tahun sebelum sang khatamul anbiya wal mursalin wafat, kedaulatan Islam tak hanya meliputi Haramain, tetapi juga seluruh Jazirah Arab.

Perjuangan beliau kemudian diteruskan para sahabat. Dalam periode Khulafaur Rasyidin, Islam bertransformasi menjadi kekuatan yang sangat disegani di Mediterania Timur. Dua adidaya kala itu, Persia dan Romawi (Bizantium), semakin melemah. Pascakekhalifahan empat sahabat utama, Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus (Suriah) muncul. Dimulailah era kepemimpinan monarki dalam sejarah Islam.

Bani Umayyah kemudian dapat dikalahkan Dinasti Abbasiyah. Berpusat di Baghdad (Irak), Kekhalifahan Abbasiyah membuka jalan bagi renaisans Islam yang berwawasan global sekaligus kosmopolitan. Masa keemasan itu utamanya dimulai sejak kepemimpinan Sultan Harun al-Rasyid (786-809). Terjadilah rekonstruksi besar-besaran dalam masyarakat Islam.

 
Terjadilah rekonstruksi besar-besaran dalam masyarakat Islam.
 
 

 

Para bangsawan Umayyah yang tersingkir dari Jazirah Arab kemudian mendirikan negara mandiri di Iberia. Itulah awal kemunculan Andalusia sebagai pesaing kemajuan Islam di Baghdad. Kota terbesarnya, Kordoba, menjadi salah satu mercusuar peradaban yang bersifat metropolis dan unggul pada masanya.

Para cendikiawan yang berpengaruh bermunculan. Sebut saja, Ibnu Sina, al-Biruni, al-Razi, al-Kindi, dan beberapa tokoh lainnya. Mereka menjadi simbol kebangkitan intelektual di Baghdad. Sementara itu, negeri Andalusia menjadi tempat banyak ilmuwan Muslim mendedikasikan ilmunya. Misalnya, Ibnu Rusyd, Ibnu Thufail, atau al-Zahrawi. Bahkan, kaum Yahudi pun mengalami kebangkitan peradaban tatkala tinggal di Andalusia yang dikuasai Muslim.

Supriyadi mengatakan, kegemilangan yang tercatat dalam sejarah dengan tinta emas itu hendaknya menjadi pendorong untuk generasi Muslim kini. Waktu itu, negeri-negeri Barat masih kolot, terbelakang, dan saling berkonflik satu sama lain. Sementara itu, umat Islam sudah menampilkan kehebatan dan berbagai pencapaian luar biasa.

Alquran dan Sunnah

Melalui bukunya ini, Supriyadi mengingatkan umat Islam untuk selalu merapatkan barisan agar dapat merebut kembali kejayaan. Caranya dengan kembali kepada sumber utama agama ini, Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai ayat Alquran, Allah SWT mengingatkan hamba-Nya untuk menggunakan akal dan pikiran.

Hal itu mengisyaratkan bahwa iman pun harus diiringi dengan kemauan untuk berilmu. Dalam surah al-Mujadalah ayat 11, Allah berfirman, yang artinya, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Pengembangan ilmu pun harus selaras dengan contoh yang diberikan Rasulullah SAW. Islam mengajarkan, beliau merupakan suri teladan utama. Proses membangun peradaban tentu tidak terjadi secara instan. Hal itu membutuhkan waktu dan perjuangan yang panjang dan dinamis.

Karena itu, umat Islam pada masa kini dan mendatang terus berusaha, pantang menyerah, dan tidak mudah tercerai-berai. Ukhuwah Islamiyah yang selama ini digaungkan pun harus segera diwujudkan.

 
Umat Islam pada masa kini dan mendatang terus berusaha, pantang menyerah, dan tidak mudah tercerai-berai.
 
 

 

Dengan membaca buku karya Supriyadi ini, kita tidak semata-mata diajak untuk bernostalgia tentang masa lalu yang indah. Sebab, di dalamnya ada berbagai perenungan tentang visi ke depan yang seyogianya menjadi penyemangat kaum Muslimin untuk terus maju. Buku ini dapat dibaca untuk menumbuhkan semangat para generasi muda Muslim.

Buku ini juga menjadi salah satu referensi penting untuk memperkaya khazanah pengetahuan tentang sejarah Islam di abad pertengahan, di mana Islam mencapai puncak kejayaannya. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, buku ini menjadi motivasi bagi pembacanya.

Renaisans Islam bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga pelajaran yang sangat berharga. Terlebih lagi, Islam sebagai salah satu agama terbesar dunia kini tampaknya sedang dirongrong para pengadu domba—entah itu sebagian masyarakat Barat atau kalangan orientalis—yang berusaha untuk membenamkan Islam ke dalam lumpur kehancuran.

Menurut penulis buku ini, para musuh Islam terus menyuarkan fitnah yang menstigmakan Islam sebagai “agama kekerasan” atau “tidak manusiawi". Bahkan, pada akhirnya Islam dituding sebagai “tidak layak ada di dunia modern".

Tidak ada cara untuk melawan kampanye-kampanye jahat ini selain mengamalkan Islam sesuai tuntunan Alquran dan Sunnah Nabi SAW, termasuk di dalamnya anjuran untuk berilmu pengetahuan.

 

DATA BUKU

Judul: Renaisans Islam

Penulis: Supriyadi

Penerbit: Quanta (PT Elex Media Komputindo)

Tebal: 344 halaman


×