Sejumlah pengungsi erupsi gunung berapi Ili Lewotolok berdiam di tenda pengungsian di halaman Kantor Perpustakaan Daerah Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT, Senin (1/12/2020). Pemerintah berupaya mencegah Covid-19 di pengungsian. | ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
05 Dec 2020, 08:48 WIB

Cegah Covid-19 di Pengungsian

Penanganan bencana alam di tengah kondisi pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat bagi pemerintah.

 

Di tengah melonjaknya kasus positif Covid-19, bencana banjir dan tanah longsor melanda sejumlah daerah di Tanah Air. Sebanyak 2.773 rumah tersebar di tujuh kecamatan di Kota Medan, Sumatra Utara, terendam air pada Jumat (4/12). Sebanyak enam orang dilaporkan hilang dan 5.965 jiwa terdampak banjir yang disebabkan tingginya curah hujan dan meluapnya air pada sejumlah sungai di Kota Medan.

Bencana banjir juga dilaporkan melanda Deli Serdang, Sumatra Utara. Sebanyak tiga warga Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang, dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian hingga kemarin. Sebelumnya, banjir yang menerjang ratusan rumah pada Jumat (4/12) dinihari itu menyebabkan delapan warga hilang. Tim gabungan menemukan lima di antaranya sudah meninggal. Banjir di wilayah itu menyebabkan 140 rumah terendam air.

Badan Nasional Penanggulang Bencana (BNPB) juga melaporkan ada lima kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh dilanda bencana banjir pada Kamis (3/12) akibat curah hujan dan meluapnya sejumlah sungai. Tak hanya menyebakan banjir, curah hujan dengan intensitas tinggi juga membuat 10 hektare lahan persawahan tertimbun longsor di Desa Cesewu, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat pada Jumat (4/12) pukul 11.00 WIB.

Terkait

Sebelumnya, banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Banyumas. Hujan deras yang terjadi sejak Rabu (2/12) malam hingga Kamis (3/12) dini hari telah menyebabkan Sungai Serayu dan anak sungai yang bermuara di sungai tersebut meluap. Akibatnya, ratusan rumah warga yang berada di sepanjang bantaran sungai terendam. Ratusan warga terpaksa diungsikan di lokasi yang aman, seperti ke masjid-masjid, balai desa, dan mushala.

Pada Kamis (3/12), ratusan warga di sejumlah desa di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, juga mengungsi akibat banjir di daerah itu setelah air Sungai Cimoyan meluap. Di Kota Bandar Lampung, Rabu (2/12) sore, hujan juga menyebabkan sejumlah wilayah terendam. Air dari sungai dalam kota meluap menggenangi jalan dan permukiman penduduk. Banjir menggenangi kawasan protokol kota, seperti Jalan Sultan Agung, Kedaton, Jalan Teuku Umar, dan Jalan Kartini.

Kian meluasnya bencana banjir dan tanah longsor di Tanah Air tentu membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah. Terlebih, bencana hidrometeorologi ini terjadi dalam situasi pandemi Covid-19. Yang paling penting dilakukan adalah menyelamatkan warga yang terdampak bencana. Mereka harus segera dievakuasi ke tempat yang aman. Tak hanya sekadar aman, masyarakat korban bencana ini harus ditempatkan pada tempat-tempat yang layak dan memenuhi standar protokol kesehatan Covid-19.

Tempat penampungan sementara para korban bencana tentu harus memungkinkan warga menjaga jarak. Ini penting untuk dipertimbangkan guna mencegah munculnya klaster baru di tempat-tempat pengungsian. Tempat yang layak penting disediakan agar para korban bencana yang mengungsi bisa beristirahat dengan baik. Sebab, apabila mereka tak bisa beristirahat dengan baik, dikhawatirkan daya tahan akan melemah dan mudah tertular penyakit, salah satunya Covid-19. Tentu saja, kita berharap hal itu tak terjadi.

Pemerintah pusat dan daerah juga perlu memastikan para pengungsi mendapat asupan nutrisi yang baik. Dengan begitu, imunitas tubuh mereka bisa tetap kuat meski tinggal di pengungsian. Pasokan air bersih serta sarana sanitasi juga perlu diperhatikan. Dan yang lebih penting lagi, pemerintah menyediakan masker bagi para pengungsi korban banjir dan tanah longsor.

Penanganan bencana alam di tengah kondisi pandemi bencana non-alam memang menjadi tantangan berat bagi pemerintah pusat dan daerah. Biaya dan tenaga yang dikerahkan juga menjadi dua kali lebih besar. Karenanya, pemerintah daerah dan masyarakat harus selalu waspada terhadap potensi bahaya hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang.

Peringatan dini cuaca yang dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) perlu dicermati secara baik. Dengan terus memantau peringatan dini dari BMKG maka seluruh pihak bisa lebih waspada. Ini sangat penting demi mencegah jatuhnya korban jiwa akibat bencana. Bukankah keselamatan masyarakat adalah hukum yang tertinggi?


×