Siswa di SMAN 30 Kabupaten Garut menggelar KBM tatap muka, Selasa (1/12). KBM tatap muka di sekolah yang terletak di Kecamatan Cihurip itu telah dilakukan sejak satu bulan lalu setelah diberikan izin dinas pendidikan dan kecamatan. | Bayu Adji P/Republika
02 Dec 2020, 03:00 WIB

Melihat Kepatuhan Siswa Tatap Muka

Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya melakukan penelusuran terhadap mereka yang memiliki riwayat kontak erat.

OLEH BAYU ADJI P

Di wilayah selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, sejumlah sekolah telah diizinkan menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Salah satunya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 30 Kabupaten Garut di Kecamatan Cihurip.

Republika mengunjungi sekolah itu pada Selasa (1/12) pagi. Di sekolah itu, para siswa telah masuk untuk menggelar KBM tatap muka seperti biasa. Mereka terlihat antusias dalam mengikuti pelajaran yang diberikan gurunya.

Salah seorang siswa kelas XI SMAN 30 Kabupaten Garut, Silvani Nur Aini, mengaku sangat senang dapat kembali belajar di sekolah. Sebab, ia menilai, pembelajaran yang dilakukan secara daring tak efektif. “Senang rasanya bisa masuk ke sekolah lagi,” kata dia, Selasa (1/12).

Terkait

Tak hanya Silvani yang merasa senang. Mutiara, teman sekelasnya, juga bahagia bisa kembali belajar di sekolah setelah lebih dari enam bulan belajar secara daring. Menurut dia, materi yang disampaikan ketika belajar secara tatap muka lebih mudah dipahami dibandingkan belajar sendiri di rumah.

photo
Siswa di SMAN 30 Kabupaten Garut mencuci tangan sebelum mengikuti KBM tatap muka, Selasa (1/12). KBM tatap muka di sekolah yang terletak di Kecamatan Cihurip itu telah dilakukan sejak satu bulan lalu setelah diberikan izin dinas pendidikan dan kecamatan. - (Bayu Adji P/Republika)

“Di sekolah juga bisa ketemu teman. Jadi mending di sekolah belajarnya,” kata perempuan yang juga berusia 17 tahun itu.

Salah seorang guru SMAN 30 Kabupaten Garut, Encep Mamay, mengatakan, sudah sejak Oktober 2020 sekolahnya kembali menggelar KBM tatap muka. SMAN 30 Kabupaten Garut telah mendapat izin menggelar KBM tatap muka dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan aparat Kecamatan Cihurip.

Menurut dia, seluruh syarat untuk kembali menggelar KBM tatap muka telah dipenuhi oleh pihak sekolah. Mulai dari izin dari orang tua siswa hingga penyediaan sarana dan prasarana terkait protokol kesehatan, seperti menyediakan tempat cuci tangan, thermogun, dan mengatur jarak meja siswa.

“Kita juga bagikan masker ke setiap siswa. Guru-guru di sini juga sudah menjalani tes swab,” kata dia.

Berdasarkan pantauan Republika di lokasi, penerapan protokol kesehatan di sekolah itu masih cenderung diabaikan. Masih ada sejumlah siswa yang terlihat tak mengenakan masker ketika belajar di dalam kelas.

Selain itu, jumlah siswa di kelas juga terlihat sangat padat. Sebab, ketika itu seluruh siswa masuk sekolah. Tak ada pembatasan kapasitas jumlah siswa.

photo
Siswa di SMAN 30 Kabupaten Garut menggelar KBM tatap muka, Selasa (1/12). KBM tatap muka di sekolah yang terletak di Kecamatan Cihurip itu telah dilakukan sejak satu bulan lalu setelah diberikan izin dinas pendidikan dan kecamatan. - (Bayu Adji P/Republika)

Silvani mengakui, untuk dapat menerapkan protokol kesehatan memang masih sulit dilakukan. Tak jarang, ia pun lupa menjaga jarak, cuci tangan, atau mengenakan masker. “Karena nggak biasa juga pakai masker seperti ini,” kata dia.

Bukan hanya dirinya, kata dia, banyak juga teman-temannya yang lupa menerapkan protokol kesehatan. Namun, para siswa yang ketahuan tak menerapkan protokol kesehatan akan dikenakan sanksi oleh guru. 

Tracing kontak

Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya melakukan penelusuran terhadap mereka yang memiliki riwayat kontak erat dengan 36 siswa SMP yang dinyatakan positif Covid-19. Kesemua siswa tersebut dinyatakan positif Covid-19 setelah mengikuti uji usap massal yang diselenggarakan Pemkot Surabaya sebagai persiapan pembelajaran tatap muka.

“Satgas Covid-19 Surabaya langsung melakukan tracing pada siswa tersebut,” kata Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara.

Febri mengaku belum berani menyimpulkan asal mula virus korona yang memapari 36 pelajar tersebut. Menurutnya, tim tracing perlu mendalami aktivitas mereka selama 14 hari terakhir sebelum menjalani uji usap pada Rabu (25/11). 


×