Terkena PHK (ilustrasi) | Freepik
30 Nov 2020, 10:03 WIB

Bila Sang Tulang Punggung Kena PHK

Lakukan revisi pengeluaran seminimal mungkin.

Pandemi Covid-19 telah menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja. Hal itu memaksa semua orang bertahan dan beradaptasi di tengah krisis ekonomi dalam lingkungan keluarga.

Terlebih jika tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan akibat pandemi ini. Maka, mereka pun perlu mengatasinya dengan rencana keuangan dan keputusan yang tepat. Nia Risnawati (25 tahun) memilih mencari pekerjaan setelah suaminya dirumahkan dari pekerjaannya di sebuah pabrik di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Nia mengaku pada awalnya sang suami hanya diberhentikan sementara. Akan tetapi belakangan diputuskan ada pemangkasan pegawai sehingga harus kehilangan mata pencaharian. Alhasil Nia menjadi tulang punggung keluarga, tepatnya sejak Juni lalu. “Saya cari kerja dekat rumah saja, bantu pengusaha karet,” kata Nia.

Sedangkan sang suami, menurut Nia, saat ini masih bekerja serabutan. Terkadang suaminya berdagang ataupun menerima panggilan sebagai tenaga kerja lepas. Untuk sehari-hari, Nia mengaku sangat terbantu dari gaji hasil pekerjaannya. Nia juga masih bisa mencicil pembayaran produk elektronik, karena dibutuhkan untuk rumah yang dihuninya bersama anggota keluarga lain.

Terkait

Ibu satu anak itu juga mengaku sangat bersyukur saat ada bantuan dana dari pemerintah. Menurutnya, bantuan ini bisa dialokasikan terhadap pengembangan usaha kuliner yang baru dirintisnya sekaligus ditabung jika kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi. “Bantuan kan beda-beda ya, saya nggak dapat bantuan pendidikan, dapatnya ada uang sama sembako. Saya sama suami dagang kecil-kecilan di rumah karena suami di-PHK,” ujarnya.

Nia juga bercerita tidak sedikit yang mengalami nasib serupa di lingkungan rumahnya. Ada yang diberhentikan dari perusahaan di Jakarta ataupun pabrik di daerah Bogor. Soal dana darurat, Nia terus terang tidak punya banyak.

Namun saat mendapat kabar pemutusan hubungan kerja (PHK), ia juga langsung mengandalkan tabungan sebelum mendapatkan pekerjaan. Nia juga mendorong suaminya agar bisa mencari pekerjaan baru ataupun mendukung penuh bisnis yang dirintis saat ini. “Tetangga juga ada beberapa yang kena PHK, pada dagang saja (akhirnya),” tambah Nia.

 

 

photo
Terkena PHK (ilustrasi) - (Freepik)

Jangan Berpikir Investasi Dulu

Perencana keuangan Ahmad Gozali mengingatkan, untuk mengantisipasi mengalami PHK, maka kita perlu memiliki dana cadangan. Dana inilah yang akan kita gunakan untuk mengganti sementara penghasiilan yang hilang karena PHK. “Jangan berpikir investasi untuk menggantikan penghasilan yang hilang akibat PHK. Karena investasi yang memberikan hasil rutin pasti setiap bulan itu hanya deposito dan sukuk/obligasi,'' kata konsultan dari Zielts Consulting itu.

Menurut dia, dengan nilai suku bunga, kupon atau bagi hasil sekarang, maka diperlukan modal sekitar 200 kali lipat gajinya agar punya gaji dari bunga deposito. Alhasil, jika memaksakan diri ingin mencari penghasilan rutin yang bisa diandalkan seperti gaji, biasanya malah jadi mudah terjebak kepada investasi bodong yang memberikan hasil selangit.

Ahmad mencontohkan pernah ada kasus dengan gaji sebelumnya Rp 5 juta, lalu turun menjadi Rp 3 juta karena pindah kerja. Dengan tabungan Rp 25 juta, berpikir untuk investasi agar bisa menutupi Rp 2 juta penurunan gaji tersebut.

Padahal, Ahmad menjelaskan, untuk menutupi kekurangan per bulan dari bunga deposito, diperlukan dana setidaknya Rp 400 juta hingga Rp 500 juta. “Jauh sekali kan dari dana Rp 25 juta,” katanya.

Apabila punya dana Rp 400 juta, tentu akan lebih baik untuk membuka usaha dan bisa mendapatkan penghasilan Rp 2 juta setiap bulannya.

 

 
Jangan berpikir investasi untuk menggantikan penghasilan yang hilang akibat PHK. Karena investasi yang memberikan hasil rutin pasti setiap bulan itu hanya deposito dan sukuk/obligasi.
Ahmad Gozali, perencana keuangan
 

Maka jika mengalami PHK, yang harus dilakukan adalah merevisi pengeluaran sehingga bisa seminimal mungkin karena penghasilan sudah berhenti. Hal kedua adalah mencari penghasilan pengganti dari penghasilan yang hilang, baik itu dari bekerja kembali atau membuka usaha. ''Jadi, jelas bukan dari investasi, kecuali PHK menjelang pensiun dan mendapatkan pesangon sekaligus uang pensiunnya, maka itu masih memungkinkan. Akan tetapi kalau PHK biasa, pesangon hanya untuk beberapa bulan gaji,'' lanjutnya.

Kemudian investasi yang diperlukan adalah investasi untuk mengamankan uang pesangon tersebut agar tidak cepat habis, bukan investasi untuk diharapkan hasilnya sebagai penghasilan bulanan.

Untuk biaya hidup sementara saat mencari penghasilan atau sampai usahanya berjalan dengan baik, boleh saja menggunakan dana cadangan. “Makanya dana cadangan disarankan minimal tiga kali gaji, bahkan sampai 12 kali gaji karena perlu waktu sampai dapat pekerjaan lagi atau sampai usahanya menghasilkan,” jelas Ahmad.


×