Ketua Umum MUI terpilih periode 2020-2021 Miftachul Akhyar menjawab pertanyaan wartawan usai penutupan Musyawarah Nasional X MUI di Jakarta, Jumat (27/11). | Republika/Thoudy Badai

Wawasan

28 Nov 2020, 02:00 WIB

KH Miftachul Akhyar: Jadilah Mereka yang Mau Belajar

Kalau kita nggak menjadi orang alim, jadilah mereka-mereka yang mau belajar.

KH Muftachul Akhyar terpilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025 melalui Munas ke-10 MUI di Jakarta, kemarin. Bagaimana kedepannya MUI bakal berperan di bawah kepemimpinannya? Bagaimana MUI akan mengambil peran pada masa-masa pandemi seperti saat ini? jurnalis Republika Nur Hasan Murtiaji mewawancarai beliau selepas munas kemarin. Berikut petikannya.

Mengenai jati diri keulamaan, akan seperti apa ke depan?

Ya, kalau sudah ulama akan lebih mudah karena sudah punya basis-basis. Sampai ada sebuah hadis, hindari terpelesetnya seorang alim. Nantikan dia akan segera kembali. Lha ini, kalaulah kita ndak fait accomply atau menganggap ulama sudah.... Cuma mungkin, tadi itu, di zaman-zaman yang semangat untuk memperdalam ilmu keislaman menurun, itu ada hal-hal yang belum tersampaikan. Nanti kalau diajak kembali pada basis-basis itu, akan segera jalan, saya yakin itu.

Apakah masalah utama keulamaan kita adalah kecerdasan, keilmuan?

Kecerdasan menyikapi dan menyadari bahwa kita ini diwujudkan, dilahirkan sebagai ulama adalah mengemban sebuah tugas. Tugas (ulama) itu sebuah pencerahan. Bagaimana kita untuk amar makrufnya, modelnya seperti apa. Kan di dalam al-makruf itu ada nilai-nilai dakwah. Dakwah kepada orang dekat, lain dengan orang yang jauh.

photo
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020 KH Ma'ruf Amin (kiri) berfoto bersama Ketua Umum MUI terpilih periode 2020-2021 Miftachul Akhyar (kanan) berfoto bersama saat penutupan Musyawarah Nasional X MUI di Jakarta, Jumat (27/11). - (Republika/Thoudy Badai)

Orang manggil saja kepada orang dekat, hai (suara tidak keras) ... tapi kalau kepada orang jauh, haaii (suara lebih keras) agar suara ini sampai. Intinya (suara itu) sampai. Tapi, tidak ada wajah-wajah yang kereng (galak), kasar, ada perbedaan. Itu harus dibedakan. Bukan yang dekat, yang jauh disamakan.

Yang masih umat-umat dakwah, umat yang masih perlu dilatih, perlu didewasakan dalam Islam, beda dengan umat ijabah. Hampir (mayoritas) hari ini kita umat dakwah. Walaupun dia Muslim, mungkin Muslim juga. Tapi karena situasi, semangat untuk memperdalam ilmu itu menurun, bisa jadi itu.

Berarti konkretnya mengembalikan nilai-nilai itu?

Nilai-nilai itu, ya dengan segala kebersamaan kita di sana. Bukan saya pribadi, kebersamaan itu.

Harapan untuk umat Islam di seluruh Indonesia seperti apa?

Harapan kita, kalau kita nggak menjadi orang alim, jadilah mereka-mereka yang mau belajar. Karena, Rasulullah sendiri membagi manusia hanya dua macam. Orang yang alim, yang sudah mendalami ilmu dan tahu, dan mereka yang masih dalam rangka untuk mengetahui. Kita antara itu. Tidak ada pembagian yang ketiga. Kalau ada, itu sudah ndak masuk lembaga ini. Harapan Islam itu masih jauh perlu kita dalami.

Tadi sudah saya gambarkan, andaikan di bumi ini ada pohon-pohon seluruhnya dibuat jadi pena. Lalu tintanya semua lautan, didatangkan dari lautan lain, alam lain lah katanya, semua itu akan kering, akan habis, tapi nilai Islam belum habis. Ini yang seharusnya bisa.

 

 
Makanya disebutkan ulama itu pewaris para nabi, sebagai ahli waris, karena terus mendalami dan kita tidak pernah selesai mendalami.
 
 

 

Makanya disebutkan ulama itu pewaris para nabi, sebagai ahli waris, karena terus mendalami dan kita tidak pernah selesai mendalami. Jangan merasa pernah selesai di dunia ini. Karena, masalah yang baru, baru kita kenal, akan didatangkan terus-menerus.

Wapres dalam sambutannya menyatakan mengenai imam kelembagaan. MUI bisa leading sebagai imam kelembagaan ini?

Memang masanya sekarang tadi, berhubung dengan ilmu. Makanya yang sekarang ini bisa diwujudkan, ya semacam kelembagaan, kolektif kolegial. Jadi, istilah ijtihad, mujtahid, itu semua menjadi sebuah lembaga. Cari orang per orang sudah sulit (sekarang). Ini cuma bahasanya tadi, imam kelembagaan.

Sebetulnya itu, ya katakanlah kalau ijtihad ya jama'i (bersama-sama). Kalau apa gitu ya, sebuah ittifak, ittifak jama'i. Kalau sebuah fatwa, ya fatwa dari hasil semuanya, ini serbakolektif. Ndak ada sekarang individu-individu, sekarang yang punya kemampuan, ya paling selisih dikit-dikit.

Tadi Wapres singgung soal sertifikasi halal vaksin sebelum digunakan?

Ya, di Nahdlatul Ulama sendiri kemarin kan sudah dibahas. Sebagai upaya untuk mencari jalan keluar musibah wabah yang mendunia ini. Kalau terus-menerus ekonomi, terutama usia muda lah. Ini yang terkena dampak. Vaksin ini salah satu ikhtiar, untuk bisa bagaimana mereka itu diperhatikan, ada semangat untuk memakmurkan. Karena, tugas kita untuk memakmurkan.

Target kita kapan untuk sertifikasi halal vaksin ini?

Kami kemarin minta di lembaga Bahtsul Masail. Segera garap sebebelum vaksin itu diedarkan.

Target sebelum diedarkan?

Ya, biar nggak kadung diedarkan, lalu (bila) timbul masalah.

Untuk sertifikasi halal, ada rencana menggandeng lembaga lain?

Semua yang kira-kira bisa mendukung untuk fokus kehalalan, itu akan kita ajak. Semuanya. Mungkin di lembaga lain, ada lembaga yang lebih pas, lebih kredibel, belum kita ajak, ya (nanti kita ajak). 


×