Pesepeda yang tergabung dalam Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng (PSBB), melewati kawasan Gedung Sate, saat berkeliling Kota Bandung, dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional, Rabu (25/11). | Edi Yusuf/Republika
26 Nov 2020, 02:00 WIB

Guru Diminta Berinovasi

Mendikbud minta guru menjadikan pandemi Covid-19 sebagai laboratorium budaya berinovasi.

JAKARTA—Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meminta semua guru menjadikan pandemi Covid-19 sebagai laboratorium untuk menempa mental dan budaya inovasi. Menurut Nadiem, pada peringatan Hari Guru Nasional 2020, pemangku kepentingan pendidikan bisa mengembangkan diri di tengah pandemi yang masih terjadi.

 

"Pandemi telah memberikan kita momentum untuk memetik pelajaran berharga dalam mengakselerasi penataan ulang sistem pendidikan guna melakukan lompatan dalam menghasilkan SDM unggul untuk Indonesia maju," kata Nadiem, saat menyampaikan sambutan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2020, Rabu (25/11).

 

Terkait

Nadiem menambahkan, pandemi juga mengajarkan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan saling bergotong-royong. Menurut Nadiem, orang tua begitu aktif terlibat mendampingi anaknya, bahu-membahu memotivasi dan menemani belajar serta turut menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah. Jutaan guru dan orang tua giat dalam ribuan webinar dan pelatihan daring, mencari solusi terbaik yang menunjang pembelajaran.

 

 

"Sikap-sikap positif ini, semangat pantang menyerah dan gotong-royong adalah sebuah keteladanan untuk anak-anak kita, murid-murid kita, para penerus bangsa. Kepada semua pihak, lanjutkan kolaborasi yang telah terbentuk dengan baik," kata dia. Mendikbud menjanjikan untuk memperjuangkan hak para pendidik. Mulai dari rekrutmen guru menjadi aparatur sipil negara (ASN), mengembangkan pendidikan, meningkatkan profesionalisme, dan meningkatkan kesejahteraan guru. 

 

Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) menilai masih ada sejumlah pekerjaan rumah besar pemerintah terkait guru Indonesia. Koordinator P2G Satriwan Salim mengatakan, hal pertama yang harus dipikirkan adalah kesejahteraan bagi guru honorer.

 

"Sebagai organisasi guru, P2G banyak diisi guru-guru honorer, yang upahnya hanya Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu per bulan. Di sisi lain, mereka tetap dituntut sempurna dan profesional dalam melaksanakan tugas. Kami sangat sedih honor guru honorer ini horor, ini sangat tidak manusiawi," kata Satriwan, Rabu (25/11). 

 

Walaupun demikian, P2G mengapresiasi kebijakan membuka lowongan seleksi guru honorer pada 2021. Namun, P2G juga memandang perlunya pembenahan dalam rekrutmen guru. P2G juga menilai pemerintah bertanggung jawab untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi guru. Satriwan mengatakan, pihaknya sangat kecewa melihat fakta masih banyak daerah yang anggaran pendidikan dalam APBD jauh di bawah 20 persen.

 

Jika anggaran di daerah kecil, dana untuk pelatihan guru tidak akan memadai. Masalah lain yang perlu diberikan perhatian adalah kompetensi guru di era digital. Kabid Advokasi Guru P2G, Iman Z. Haeri mengatakan, keterampilan digital bagi guru saat ini merupakan sebuah kebutuhan. "Kami berharap guru-guru terus meningkatkan kemampuan dalam menggunakan perangkat teknologi digital dalam pembelajaran," ujarnya.

 

 

Terima kasih guru

Presiden Joko Widodo mengunggah pesan untuk memperingati Hari Guru. Jokowi menceritakan bagaimana zaman terus berubah, tapi semangat para guru dalam mendidik muridnya tak pernah surut. Ia menyebutkan, tantangan zaman terus berubah.

Termasuk tantangan yang dihadapi para guru dalam mengajar anak didiknya. Seperti yang terjadi selama pandemi Covid-19 melanda, dengan murid yang hanya bisa belajar dari rumah dengan memanfaatkan komputer dan telepon pintar.

Guru pun demikian, harus menyampaikan materi dengan cara yang tak biasa. "Zaman boleh berganti, tantangan bisa berbeda, tapi satu yang tak berubah: kegigihan, ketangguhan, dan semangat para guru untuk mengajar dan mendidik anak-anak Indonesia tak pernah surut barang sejengkal. Terima kasih guru," kata Presiden Jokowi. 


×