Petugas kesehatan melakukan tes usap (swab test) kepada seorang guru di Puskesmas Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Rabu (26/8). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
25 Nov 2020, 03:00 WIB

Tekanan Dihadapi Guru Selama Pandemi

Selama pandemi, siswa mengalami kendala, demikian juga dengan guru.

Pandemi Covid-19 membuat pemerintah sempat melarang proses belajar-mengajar tatap muka. Interaksi siswa-guru dibatasi, komunikasi dan sistem pembelajaran dilakukan daring. Namun, di tengah kondisi ini, di beberapa daerah muncul program guru kunjung. Meski serbaterbatas, program tersebut diapresiasi sejumlah pihak karena dapat memastikan target pembelajaran siswa tetap tercapai meskipun dilakukan daring.

Wartawan Republika Inas Widyanuratikah berbincang dengan Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Fahriza Marta Tanjung terkait proses belajar-mengajar selama pandemi. Berikut petikannya. 

Bagaimana model pembelajaran selama pandemi?

Model pembelajaran selama pandemi ini kan satu dengan sekolah lainnya berbeda. Tidak bisa kita sama ratakan semua sekolah itu pembelajarannya dengan model yang sama. Nah, persoalannya memang pada bagaimana melakukan interaksi antara guru dan siswa itu yang tidak terjadi. Jadi, komunikasi antara guru dan siswa tidak terjadi. 

Terkait

Siswa mengalami kendala, demikian juga dengan guru. Kita walaupun ada relaksasi persoalan pencapaian kurikulum, tapi kadang banyak juga sekolah yang tetap meminta guru untuk mencapai ketuntasan kurikulum itu.

Sedangkan, persoalan lainnya, tidak semua siswa bisa mengikuti proses pembelajaran sehingga banyak guru yang stres menghadapi persoalan siswanya dan tidak tahu bagaimana mencari pemecahan masalahnya. Juga misal tugas siswa banyak yang tidak dikumpul karena sepertinya memang tidak bisa ada pembelajaran yang lain, ini berorientasi tugas semua di PJJ ini. 

Di daerah yang sulit akses internet, muncul guru kunjung. Bagaimana Anda melihat hal ini?

Saya kira sangat baik guru kunjung. Namun, ini kan tidak bisa tiap hari. Beberapa kali dalam satu pekan saja. Saya kira ini model yang sangat bagus untuk diterapkan dari guru untuk memastikan bahwa siswanya belajar dan memastikan juga ketercapaian materi pembelajaran seperti apa. Kemudian, guru juga bisa memberikan tambahan pengalaman belajar jika memang model pembelajaran yang utamanya tidak mencapai target pembelajaran. 

Apakah era pandemi membuat kompetensi guru meningkat?

Dari sisi penggunaan metode pembelajaran, kemudian penggunaan media pembelajaran, saya rasa iya. Saya kira guru-guru mau tidak mau dituntut untuk meningkatkan kompetensinya. Upaya ini dilakukan pemerintah dan organisasi guru walaupun memang kebanyakan peran organisasi guru lebih dominan daripada peran pemerintah yang saya lihat.

Menjelang Hari Guru Nasional, apa harapan FSGI?

Pemerintah kan sudah menetapkan bahwa pembelajaran secara tatap muka tahun depan dengan berbagai persyaratan. SKB empat menteri yang ketiga ini relaksasi izin (buka sekolah) dari Satgas Covid-19 tidak lagi menggunakan zonasi peta risiko itu.

Yang ingin kami tekankan adalah persoalan keselamatan dan kesehatan para guru. Saya kira itu yang jadi mispersepsi di publik ketika Mendikbud mengumumkan SKB Empat Menteri yang ketiga ini, seolah-olah proses pembelajaran dengan serta-merta bisa dibuka, padahal masih ada persyaratan berjenjang. 

Kita khawatir pemda yang diberikan kewenangan utama dalam proses pembukaan sekolah ini tidak taat terhadap aturan. Di pantauan kami, dari isian daftar periksa masih banyak sekolah belum melakukan pengisian. Ada 57 persen lagi yang belum melakukan pengisian kesiapan belajar itu. Kita sangat menyayangkan, Mendikbud seperti lepas tangan terhadap persoalan ini. 

Yang kami lihat dari penjelasan Mendikbud sendiri ketika pengumuman SKB empat menteri ternyata masih ada zona merah yang buka sekolah. Ada 8 persen sekolah di zona merah dan 12 persen di zona oranye tatap muka.


×