Warga merawat dan menata tanaman hias di salah satu tempat penjualan tanaman hias/ilustrasi | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
23 Nov 2020, 10:09 WIB

Nyaman Berkat Tanaman Hias

Kekuatan tanaman ada pada bentuknya.

Esha Mahendra merasa sangat lega dan damai ketika dia bersentuhan langsung dengan tanah dan tanaman yang berada di kebun kecilnya di depan rumahnya. Baru-baru ini, dia sibuk memilih banyak tanaman sebagai pemanis sudut-sudut rumahnya dan mengaturnya sebagai pelampiasan dari emosinya selama ini.

Sebelumnya, laki-laki yang merupakan seorang pembuat podcast atau siniar kondang bertajuk “Babibu” itu sempat menyesal karena salah melampiaskan emosinya kepada anak semata wayangnya, Kion Kelana yang masih balita.

Gue orangnya emosian banget dan itu menjadi masalah internal keluarga gue karena dampaknya ke anak gue. Ada suatu momentum gue ini marah dan teriak ke Kion, dan dia jadi takut,” ungkap Esha saat berbincang bersama Republika melalui sambungan telepon.

Pada awalnya, dia mencoba mencari penyaluran emosinya itu kepada kegiatan lain. Dia menemukan, memasak merupakan solusi dari permasalahannya itu. Banyak orang mengatakan hasil masakannya pun enak.

Terkait

Hanya, karena kesibukan siaran siniarnya di sebuah studio mungil di rumahnya itu, dia pun tak bisa memasak lagi. Pada akhirnya, dia mencoba menyalurkan energinya itu untuk menata tanaman dan berburu tanaman hias, karena melihat taman depan rumahnya yang dirasanya kurang elok.

“Ternyata ketika gue lagi bersentuhan dengan tanaman, bersentuhan dengan tanah, gue menanam, dan gue membaca syahadat pada setiap pohon yang gue tanam, itu memberikan ketenangan bagi diri gue,” kata Esha.

Selain mendapatkan ketenangan, dia juga mengaku menjadi lebih fokus. Rasa amarahnya juga lebih bisa dia kontrol dari pada waktu sebelumnya.

Setelah menemukan solusi dari masalah amarahnya dan menjadikannya sebagai hobi, laki-laki yang populer dengan nama Baba itu lalu rajin mengulik tanaman-tanaman yang dijual di Indonesia. Dia merasa sangat cocok dengan tanaman hias karena dia memiliki visi untuk memperindah rumah dan ruangan-ruangannya.

Secara spesifik, dia menata tanaman-tanaman hiasnya di berbagai tempat di rumahnya, tepatnya pada bagian dalam rumah dan bagian luar rumah. Pada bagian luar rumah, dia memelihara jenis tanaman yang membutuhkan sinar matahari atau tanaman landscape.

Misalnya seperti pandan bali, anting putri, talas hitam, kaktus, melati, sikas, beringin korea, dan promelia. Sementara, pada bagian dalam rumahnya, dia memelihara tanaman jenis anthurium, gelombang cinta, patah tulang, dan monstera.

“Kekuatan tanaman ini ada pada bentuknya. Bentuknya unik. Landscape pun memiliki prestise bagi yang punya. Semakin bentuknya unik, maka harganya semakin mahal,” jelas Esha.

Esha mengatakan, karena dia baru benar-benar memulai hobinya itu pada saat pandemi, dia pun menyebut dirinya sebagai amatir. Hal itu lalu menjadi kendala dan tantangan baginya saat menjalani hobi ini.

Proses mengulik dan memahami jenis-jenis tanaman masih terus dia lakukan. Sebab, selain dibedakan dari jenis tempat hidupnya, tanaman hias juga tak memiliki kesamaan dalam media tanamnya. “Kita tidak bisa menyamakan media tanamnya. Jadi tidak semudah kita tanam tanaman di tanah, lalu kita siram. Setiap tanaman itu jenisnya beda, habitatnya pun berbeda-beda,” ungkap dia.

Selain itu, tantangan berikutnya adalah dia harus mengerem bujet pengeluaran untuk membeli tanaman-tanamannya. Sebab, dia merasa jika hobinya ini telah sampai ke tahap mengkoleksi jenis tanaman. Suami dari seorang announcer bernama Anka Tama Ruyatna itu bahkan mengakui telah mencapai tahap ingin membeli tanaman-tanaman langka yang belum pernah dia miliki.

Dalam sekali waktu dia berbelanja tanaman, dia mengakui membutuhkan bujet sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Tak hanya tanaman, dalam bujet tersebut dia juga membeli pot, media tanam, bebatuan coral, serta pupuk.Satu tanaman, kata dia, berkisar antara Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu, bahkan lebih dari Rp 2 juta.

Rasa sayangnya pada tanaman-tanaman hiasnya itu sangat besar, hingga tanaman-tanamannya itu telah dia anggap sebagai anak sendiri. Dia pernah merasa sangat sedih saat dia menemukan salah satu tanaman yang dia pelihara, patah gara-gara kucing miliknya. “Gue nggak bisa marah, karena itu (pelakunya) kucing. Jadi tanamannya patah dan gue kasih lihat ke istri gue. Dan gue benar-benar sesedih itu,” jelas dia.

Hingga pada akhirnya, dia menyiasati letak tanaman-tanamannya itu agar tak diganggu oleh kucing. Misalnya, tanaman dengan pot kecil diletakkannya ke rumahnya di lantai bagian atas. Sementara, tanaman dengan pot besar, diletakkannya di lantai bawah. Dia juga merasa waktunya amat tersita saat dia berada di tamannya. Sementara permasalahan penyaluran energinya terselesaikan, dia saat ini masih berhadapan dengan manajemen waktu, agar dia tidak terus-menerus mengurus tanaman saja. 

Esha mengaku ada keinginannya untuk menjadikan hobinya itu menjadi ladang bisnis baginya. Akan tetapi, keinginan itu masih belum menjadi prioritas karena kesibukan lainnya yang harus dilakukannya. Hal itu disadarinya saat dia pernah mencoba untuk menjual salah satu tanamannya yang telah lama dia rawat dan dia pelihara sampai berbentuk sangat cantik. Karena bisa laku dengan harga mahal, dia merasa berjualan tanaman bisa menjadi ladang rezeki baginya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Esha Mahendra (@eshabons)

 

Cari Kesibukan di Tengah Pandemi

Pemilik gerai tanaman hias Eksaluvez Nursery di Jagakarsa, Jakarta Selatan,  Agustinus Gunawan Sri Utomo tak heran hobi merawat tanaman hias di masa pandemi ini sangat digandrungi masyarakat. Menurutnya, alasan yang pertama adalah karena pandemi itu sendiri.

“Karena pandemi, orang-orang berada di rumah mencari kesibukan. Merawat tanaman dan berkebun menjadi salah satu solusinya,” ungkap Agus saat dihubungi Republika.

Selain itu, maraknya penggunaan internet dan teknologi, membuat orang-orang melek informasi mengenai tanaman hias. Saat ini, orang-orang banyak mengetahui perkembangan tanaman hias melalui internet dan media. Hal itu pun menjadi faktor ketiga mengapa banyak orang semakin menggandrungi hobi ini.

Banyak wadah berkumpul juga menjadi faktor mengapa banyak orang minat dengan tanaman hias. Banyaknya grup lulusan sekolah masa SD, SMP, SMA, membuat orang membuat grup lagi yang khusus membahas tentang tanaman hias. Artis pun tak luput menyebarkan virus cinta tanaman hias.

“Jadi semakin banyak orang yang pada awalnya tidak tertarik jadi tertarik sampai cinta sungguhan. Lalu ada yang hanya orang tuanya aja awalnya yang suka lalu jadi ikut-ikutan. Mereka sekarang sudah ketagihan,” tutur Agus.

Laki-laki berusia 40 tahun itu menuturkan, setidaknya ada hal yang menjadi kendala bagi para pemula yang baru akan memelihara tanaman hias, yaitu mengenai cara pemeliharaan. Kebanyakan dari pembeli, kata Agus, bisa membeli tanaman namun belum bisa memeliharanya.

Oleh karenanya, dia menyarankan bagi pemula yang akan mencoba hobi baru ini, harus banyak bertanya dan mencari pengetahuan pada saat di awal. Sebab, biar bagaimana pun, tanaman adalah makhluk hidup yang membutuhkan perawatan yang khusus.

Seringnya, karena pemula hanya membeli satu atau dua jenis tanaman saja, maka pembeli biasanya terlalu sayang terhadap tanamannya. Akibatnya, tanaman-tanaman mereka menjadi mati karena terlalu banyak air saat menyiram dan terlalu banyak pupuk.

Laki-laki yang telah menggeluti bidang ini selama 20 tahun lamanya itu menekankan kepada para pembeli untuk tak menyerah dan terus belajar mencoba merawat tanaman hias. Pembelajaran yang dalam perlu dilakukan mengingat jenis-jenis tanaman yang berbeda-beda yang memiliki perlakuan yang berbeda-beda pula.

“Jadi ya trial and error saja. Nanti akan terbiasa merawat tanaman hias. Karena memang ada perlakuan khusus pada masing-masing jenis tanaman. Yang penting sistem akar kuat,” kata dia.

Saat ini, menurut pengamatannya, ada beberapa jenis tanaman hias yang diminati oleh orang-orang. Di antaranya adalah monstera, anthurium tangkai panjang, alokasia, homa lomena. Beberapa jenis itu memiliki bentuk yang bagus dan harganya pun lebih murah.

Menurutnya, bujet yang disiapkan untuk memulai hobi ini sangat bergantung kepada selera dan kesukaan masing-masing orang. Sebab, tanaman hias pun memiliki bujet yang beragam, dari mulai yang paling murah, sampai yang paling mahal.

Paling tidak, jika ingin mencoba, kata dia, pembeli dapat membeli tanaman yang berharga jauh lebih murah untuk belajar merawatnya. Selain itu penting bagi pembeli untuk mengetahui bagaimana perlakuannya dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang kesehatan tanaman.

Sementara, bagi penyuka tanaman hias yang ingin memulai bisnis pada hobi ini, dia menyarankan untuk menguasai pengetahuan yang lebih rinci mengenai tanaman. Selain pengetahuan mengenai tanaman dan perlakuan tanaman itu sendiri, seseorang harus mengetahui mengenai pasar dari tanaman hias.

“Misalnya mana yang paling laku, mana yang masih memiliki stok yang banyak, mana yang paling diminati, dan mana yang mudah dirawat, dan lain-lain. Selain itu, coba untuk berkolaborasi dengan orang yang sudah main tanaman sejak lama,” jelas dia.

photo
Warga merawat tanaman hias di halaman rumah komplek Perkebunan PTPN VIII Dayeuhmanggung, Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat/ilustrasi - (ANTARA FOTO/Candra Yanuarsyah)

 

Berawal dari Penelitian NASA

Penulis skenario film Swastika Nohara telah lama jatuh cinta pada tanaman hias. Bahkan, hobinya mengkoleksi tanaman hias telah dia geluti sejak 2016. Saat pandemi Covid-19, ketika dia harus lebih sering berada di rumah saja setiap hari. hobinya itu pun kian menjadi.

Tika pun menceritakan awal mula dia tertarik merawat tanaman-tanaman hias di rumahnya. Pada awalnya, dia membaca sebuah penelitian Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang tengah mempelajari tanaman-tanaman apa saja yang bisa mengurangi polutan dan memurnikan udara. Beberapa tanaman yang dinilai efektif adalah palem, spider plant, dan sansivera.

Dia pun bercerita kepada temannya mengenai hal itu. Tak disangka, temannya itu malah menawarkan tiga buah pot tanaman hias dengan jenis yang berbeda-beda.

Kini, Tika mengaku sangat menikmati saat merawat dan melihat pertumbuhan tanaman-tanamannya. “Tanamannya tambah besar, lalu muncul batang baru. Itu yang menyenangkan. Lama-lama karena suka, akhirnya beli lagi terus sampai harus dikontrol ini,” ujar Tika lantas tertawa.

Karena pandemi, dia merasa tanaman yang dipeliharanya benar-benar sampai beranak pinak. Waktu yang banyak karena di rumah saja, membuat dia banyak mengeksplorasi jenis-jenis tanaman, sampai dia menginginkan untuk membeli jenis-jenis tanaman yang belum pernah dia miliki.

Perempuan ramah itu menceritakan, ruangan di rumahnya yang memiliki luasan sekitar 8x6 meter itu saat ini semakin penuh dengan tanaman hiasnya. “Dulu saya masih bisa yoga di ruangan itu. Sekarang berjalan di tengah saja, kaki sudah kesenggol pot tanaman kalau tidak hati-hati,” ucapnya saat dihubungi Republika.

Baginya, tanaman merupakan makhluk hidup yang amat unik. Tak seperti kebanyakan orang yang hanya melihat tanaman sebagai barang yang hijau, namun dia lebih melihat tanaman memiliki karakter tersendiri.

Seperti pada daun, dia menyebut daun di setiap jenis tanaman berbeda-beda. Meskipun jenisnya sama-sama memiliki daun berbentuk hati, namun bentuk spesifiknya berbeda-beda. Ada yang lebih panjang, ada yang lebih lebar, dan ada yang memiliki tekstur yang berbeda.

“Memperhatikan tekstur daun itu ternyata sangat menyenangkan. Kebahagiaan itu dapat kita rasakan saat melihat ada kuncup daun muncul, sangat memuaskan,” ungkap Tika.

Menurutnya, ada satu tantangan yang cukup memusingkannya dalam merawat dan memelihara tanaman hias. Tantangan itu adalah ketika tanaman terserang hama penyakit.

Hama penyakit yang dapat merusak tanaman, biasanya datang dari tanaman yang baru saja dibeli. Oleh karenanya, dia menekankan penting sekali bagi pembeli untuk meneliti tanaman terlebih dahulu di setiap inci tanaman seperti di permukaan daun, ketiak daun, tangkai, dan bagian-bagian lain untuk berjaga-jaga adanya hama.

Setelah dibawa pulang, tanaman baru jangan sampai langsung digabungkan dengan tanaman kita yang lain yang ada di rumah. Pastikan tanaman baru benar-benar aman dan sehat, baru disatukan dengan tanaman lain.

Menurut pengalamannya, dia pernah kecolongan muncul hama spider mite di ketiak daun tanamannya. Dia pun melakukan sejumlah perawatan khusus untuk “menyembuhkan” tanamannya itu. “Spider mite itu laba-laba tapi kecil sekali seperti debu. Ternyata dia sudah membuat sarang di tanaman. Saya panik,” kata Tika.

Dia biasa menggunakan neem oil sebagai insektisida alami. Neem oil tersebut diletakkan di lap bersih, lalu dia menggunakan lap tersebut untuk mengelap daun-daun tanaman. Dia juga mengkarantina tanaman itu, atau memisahkan tanaman itu dari tanaman-tanaman yang lain.

Pemberian insektisida tersebut dilakukan sebanyak satu kali dalam dua hari atau tiga hari. Oleh karena insektisida tersebut adalah insektisida alami, maka hama tersebut baru mati secara perlahan.

Dia juga tak jarang memangkas daun-daun tanaman agar hama tak muncul lagi pada daun. Jika telah demikian, dia merasa harap-harap cemas saat menunggu daun baru muncul selama beberapa lama.

Memiliki tanaman hias juga seperti mempertanggungjawabkan komitmen yang telah dibuat pada awalnya. Karena menurutnya, memiliki tanaman itu sama saja dengan memiliki komitmen untuk menjaga agar tanaman untuk tetap sehat. Komitmen itu termasuk komitmen terhadap waktu, tenaga, dan uang. “Merawat itu mudah. Yang menantang itu kalau kena hama,” tutur dia.

Selama dia memiliki hobi ini, dia mengaku tak memiliki bujet khusus untuk membeli keperluan dan kebutuhan merawat tanaman hias. Namun, dalam satu kali dia pergi ke lapak tanaman, biasanya dia menghabiskan dana sekitar Rp 500 ribu.

Dalam satu pekan pun dia hanya pada akhir pekan pergi ke lapak tanaman. Namun, karena dia tergabung dalam sebuah komunitas bersama dengan teman-temannya, tak jarang dia pergi bersama mereka ke lapak tanaman untuk membeli tanaman baru.

Selain itu, dalam komunitas yang diberi nama “Geng Hejo” itu pula, dia sering mendapatkan informasi mengenai jenis-jenis tanaman hias langka nan unik untuk penambah koleksi. Tika sering juga mendapatkan ide-ide menarik untuk mempercantik tanaman, seperti dengan mengawinkan tanaman yang memang murah dengan pot yang cantik sehingga memiliki tampilan yang cantik.

photo
Swastika Nohara dan tanaman hiasnya - (Dokumentasi Pribadi)

 

Jika Beli Secara Daring

Penulis skenario film Swastika Nohara mengaku semakin sering membeli tanaman hias pada saat pandemi, dibandingkan saat sebelum pandemi. Dalam blog resminya, Lifetimejourney.me, dia mengaku sering membeli tanaman secara daring baik melalui instagram dan niaga elektronik lainnya.

Membeli tanaman secara daring pun tak melulu menggembirakan. Dia pernah mendapatkan tanaman yang berbeda dengan foto yang dipajang di niaga elektronik. Oleh karenanya, dia pun lebih selektif dalam berbelanja tanaman secara daring. Dia pun memberikan tip-tip bagaimana melihat toko daring tanaman yang baik dan terpercaya agar terhindar dari kerugian.

1. Tanaman harus dalam kondisi yang sehat dan baik.

"Penjual harus memfoto tanaman dengan jelas, termasuk jika ada daun yang sobek. Namanya makhluk hidup sangat mungkin kondisinya tidak sempurna, asal dikasih tahu,” jelas Tika dalam blognya.

2. Harga yang dipasang masih dalam kisaran wajar.

Meskipun saat ini secara umum harga tanaman hias sedang melejit, tetap penting bagi para penjual daring untuk memberikan harga yang masih masuk akal. Sebagai pembeli, lanjut Tika, penting untuk terus mengetahui harga terbaru dengan rajin bertanya. “Aku pun sering tanya dulu sama teman-teman kalau kurang yakin” kata dia.

3. Penjual yang cepat merespons

Tika menyarankan untuk memiliki penjual tanaman yang cepat dalam memberikan respons. Penjual yang ramah dan informatif juga perlu diperhatikan saat membeli tanaman secara daring.

4. Pengiriman dengan paket yang aman.

Tak perlu mewah dan rumit, pengemasan paket tanaman diharapkan dapat menjaga kondisi tanaman agar selamat sampai tujuan.

 

 


×