KH Zainul Arifin Pohan, tokoh Nahdliyin yang pada masa pendudukan Jepang pernah dijuluki sang panglima santri. | DOK WIKIMEDIA
29 Nov 2020, 09:11 WIB

KH Zainul Arifin Pohan, Sang Panglima Santri

Tak hanya menjadi komandan Laskar Hizbullah, pahlawan nasional ini juga turut berjuang melalui PDRI.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Hari Pahlawan yang jatuh pada bulan November merupakan momen yang tepat untuk kembali menumbuhkan semangat perjuangan. Para pejuang telah mengorbankan harta, tenaga, dan bahkan nyawa mereka demi kedaulatan negeri tercinta. Sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim, kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran serta umat Islam, termasuk kaum ulama dan santri.

Terkait

Dalam fase sejarah menjelang proklamasi Republik Indonesia, kekuatan kalangan pesantren terpusat di berbagai laskar, utamanya Hizbullah dan Sabilillah. Ada banyak tokoh yang muncul dalam pendiriannya. Di antara mereka adalah KH Zainul Arifin Pohan.

Ia lahir pada 2 September 1909 di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Putra pasangan Tuanku Ramli dan Boru Pohan ini sempat menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya itu sebelum hijrah ke Kerinci. Menurut EK Siahaan dalam buku KH Zainul Arifin (1984), tokoh berstatus pahlawan nasional itu sempat menempuh pendidikan dasar di Hollands Indische School (HIS) dan sekolah menengah calon guru, Normal School. Dirinya juga memperdalam pengetahuan agama di surau dan pelatihan bela diri pencak silat.

Zainul Arifin berhasil lulus dari Normal School saat usianya 17 tahun. Berbekal sertifikat pengangkatan menjadi guru, ia pun menjalani profesi sebagai pengajar di Barus. Selanjutnya, ia pindah ke Batavia (Jakarta). Di daerah rantau itu, dirinya tidak hanya bekerja sebagai guru. Untuk menambah pendapatan, kadang kala ia berjualan kacang goreng, koran, dan lain-lain.

Beberapa bulan kemudian, Zainul Arifin mendapatkan pekerjaan sebagai guru di Taman Kemajuan, bilangan Master Cornelis yang kini menjadi Jatinegara, Jakarta Timur. Pekerjaan itu dijalaninya selama sekitar dua tahun. Kemudian, antara tahun 1926 dan 1942, ia menjadi pegawai pada sebuah perusahaan air minum milik pemerintah daerah setempat. Terimbas resesi global, perusahaan itu pun gulung tikar.

Dalam menekuni profesinya sebagai guru, Zainul Arifin juga mencurahkan perhatian untuk perkembangan budaya, terutama Melayu dan Betawi. Ia terlibat aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi, Samrah. Bahkan, ia sempat mendirikan kelompok kesenian bernama "Tonil Zainul".

Di luar itu, Zainul yang fasih berbahasa Belanda juga aktif sebagai “pokrol bambu”. Istilah itu merujuk pada profesi semacam pengacara meskipun tanpa latar belakang pendidikan formal. Banyak masyarakat Betawi yang meminta jasanya sebagai pemberi bantuan penerangan hukum.

 
Zainul yang fasih berbahasa Belanda juga aktif sebagai “pokrol bambu”.
 
 

Semasa di Jakarta, Zainul mulai bergabung dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada awalnya, ia terlibat dalam aktivitas Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Pergerakan itu memang sangat aktif dalam merekrut tenaga-tenaga muda pada 1930-an.

Pengetahuan agama dan keterampilannya dalam berdakwah semakin meningkat selama menjadi anggota GP Ansor. Kepiawaian Zainul Arifin dalam berpidato kemudian menarik perhatian tokoh-tokoh senior NU, seperti KH Abdul Wahid Hasyim, KH Mahfudz Shiddiq, KH Muhammad Ilyas, atau KH Abdullah Ubaid.

Hanya dalam waktu beberapa tahun, reputasi KH Zainul Arifin semakin dikenal warga Nahdliyin, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, dirinya didaulat menjadi ketua cabang NU Jatinegara dan kemudian ketua Majelis Konsul NU Batavia pada 1936. Bersama teman-teman seperjuangannya, ia pun mulai mengadakan berbagai aksi untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Belanda tidak dapat menahan kedatangan Jepang pada 1942. Pada zaman pendudukan Dai Nippon, KH Zainul Arifin sebagai perwakilan NU menjabat kepala bagian umum dari Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Organisasi tersebut didirikan pada 1943. Fungsinya sebagai gabungan dari berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam yang masih diperbolehkan pemerintah Jepang.

Di kancah Perang Dunia II, Jepang semakin tersudut. Di Indonesia, Dai Nippon mulai mulai melunak dan terus merangkul tokoh-tokoh nasional. Di antara mereka ialah para sosok Nahdliyin yang memiliki jaringan hingga ke kawasan perdesaan.

Kiai Zainul Arifin sendiri diminta untuk membentuk model kepengurusan tonarigumi, cikal bakal rukun tetangga, di Jatinegara. Setelah berhasil, model yang dikembangkannya itu kemudian dibentuk di pelosok-pelosok desa se-Pulau Jawa.

Secara penampilan, Kiai Zainul Arifin berperawakan gagah. Karena itu, dirinya terpilih untuk mengikuti pelatihan kemiliteran yang diselenggarakan pemerintah pendudukan Jepang. Tiga bulan lamanya  program itu diikutinya.

Setelah latihan selesai, ia diangkat menjadi panglima Laskar Hizbullah seluruh Indonesia. Tugas utamanya ialah menerapkan koordinasi laskar antarwilayah. Dirinya juga bertanggung jawab menggelar pelatihan-pelatihan semimiliter di Cibarusa, dekat Bogor.

Laskar Hizbullah merupakan barisan pasukan militer umat Islam yang dibentuk pada zaman penjajahan Jepang. Barisan ini terdiri atas unsur-unsur kiai, santri serta pemuda Indonesia. Dalam pandangan Jepang, keberadaan Hizbullah berguna untuk memusatkan tenaga pribumi Muslim Indonesia demi mendukung upaya Dai Nippon dalam melawan Sekutu.

Padahal, para pemimpin bangsa dan rakyat umumnya memahami Laskar Hizbullah—serta berbagai organisasi bentukan Jepang lainnya—sebagai ajang mempersiapkan diri demi menyongsong kemerdekaan Indonesia.

photo
KH Zainul Arifin Pohan bersama Bung Karno dalam sebuah kunjungan kenegaraan. - (DOK WIKIPEDIA)

Memimpin Hizbullah

Pada 8 Desember 1944, pemerintah militer Jepang secara resmi mengumumkan pembentukan Laskar Hizbullah. KH Zainul Arifin ditunjuk sebagai pemimpinnya. Julukannya waktu itu ialah panglima santri dari seluruh Indonesia.

Hairus Salim dalam buku Kelompok Paramiliter NU menjelaskan, tugas Kiai Zainul Arifin pada periode itu cukup berat. Dirinya harus meyakinkan kaum pemuda Muslim untuk turut serta dalam Laskar Hizbullah.

Tentunya, bukan untuk menuruti kemauan Jepang. Sebab, berbagai pelatihan kemiliteran yang diselenggarakan laskar tersebut sangat penting diikuti generasi muda demi berjuang membela agama dan bangsa Indonesia. Artinya, ada semangat patriotik yang terus ditanamkannya kepada mereka.

Pada 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno dan Mohammad Hatta di Jakarta. Inilah fajar baru bagi perjuangan nasional. Sejak saat itu, tekadnya bukan lagi merebut, tetapi mempertahankan kedaulatan negeri.

Presiden Sukarno kemudian mengeluarkan ketetapan untuk mempersatukan laskar-laskar yang ada ke dalam Tentara Kemanan Rakyat (TKR), yang lantas berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sudirman kemudian ditetapkan sebagai jenderal TNI. Utamanya sejak 1947, peleburan laskar-laskar pejuang itu ke dalam TNI berlangsung secara bertahap dengan berbagai dinamika yang ada.

Ketika Laskar Hizbullah dilebur ke dalam TNI, Kiai Zainul Arifin pun diangkat sebagai sekretaris pada pucuk pimpinan TNI. Jabatannya setingkat sekretaris jenderal pertahanan keamanan pada masa sekarang.

 
Ia sempat prihatin karena cukup banyak anggota Hizbullah yang tidak lolos seleksi untuk masuk TNI.
 
 

Waktu itu, ia sempat prihatin karena cukup banyak anggota Hizbullah yang tidak lolos seleksi untuk masuk TNI. Padahal, ia menilai, mereka terbilang paling gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan sejak sebelum 1945.

Kiai Zainul menggelar pembicaraan dengan para aktivis laskar yang tidak diterima masuk TNI. Ia menyampaikan, sejatinya perjuangan mempertahankan Tanah Air dapat dilakukan di bidang kehidupan mana saja, tidak harus melalui militer resmi. Apalagi, kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan susah payah kini telah diraih atas ridha dan pertolongan dari Allah SWT.

Karena itu, ia mengingatkan, para santri yang tidak lolos seleksi masuk TNI agar ikhlas. Hendaknya mereka kembali ke pesantren untuk mendidik generasi muda Muslimin dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Ia sendiri memilih mundur dari jabatan sekretaris pimpinan TNI.

Khususnya bagi generasi ’45, sosok KH Zainul Arifin dikenal tangguh dan totalitas dalam perjuangan. Sebagai contoh, ketika Belanda berhasil merebut ibu kota RI, Yogyakarta, dalam agresi militer. Presiden Sukarno, Bung Hatta, dan Sjahrir bahkan sempat ditangkap dan diasingkan pihak yang ingin kembali menjajah Indonesia itu. Untungnya, mereka terlebih dahulu berhasil mengirimkan kawat kepada para tokoh nasional yang sedang berada di luar Jawa untuk mendirikan pemerintahan darurat.

Terbentuklah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), antara Desember 1948 hingga Juli 1949. Dalam masa itu, Kiai Zainul pun turut mempertahankan negara bersama PDRI yang berpusat di Bukittinggi, Sumatra Barat. Dirinya waktu itu sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Djawa (KPPD).

 

 

Tertembak Saat Sedang Shalat

 

KH Zainul Arifin Pohan tidak hanya dikenal sebagai seorang tokoh Nahdliyin yang aktif dalam dunia kemiliteran. Dirinya pun menekuni dunia politik nasional, terutama sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Kariernya berawal dari Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). Di lembaga cikal-bakal DPR-RI itu, dirinya mewakili fraksi Partai Masyumi.

Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Kiai Zainul Arifin menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS). Peran itu dijalaninya hingga Agustus 1953. Setelah itu, ia diangkat menjadi wakil perdana menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo.

Unsur-unsur Nahdliyin lantas membentuk partai baru di luar Masyumi. Dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1955, Partai NU berhasil masuk empat besar. Kiai Zainul duduk sebagai wakil ketua DPR, di samping juga menjadi anggota Majelis Konstituante.

Presiden Sukarno termasuk yang menaruh respek pada tokoh kelahiran Barus, Sumatra Utara, itu. Sebab, sang proklamator mengetahui betul bagaimana perjuangan ulama Nahdliyin ini khususnya pada zaman pendudukan Jepang, yakni dengan memimpin Laskar Hizbullah.

Melalui Keputusan Presiden Nomor 156 Tahun 1960, Bung Karno mengangkat 283 anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (DPR-GR). Hingga tahun 1963, Kiai Zainul menjadi ketua lembaga tersebut. Menjelang akhir masa jabatannya, sebuah insiden terjadi.

Pada Rabu pagi, 14 Mei 1962 tokoh berjulukan “panglima santri” itu ikut melaksanakan shalat Idul Adha berjamaah di halaman Istana Merdeka, Jakarta. Awalnya, acara tersebut berlangsung lancar. Para pejabat dan tokoh penting lainnya bersama-sama hadir untuk melaksanakan ibadah tersebut.

Kiai Zainul Arifin menempati saf paling depan bersama Jenderal AH Nasution, Presiden Sukarno, dan Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. Shalat Id terlaksana dengan penuh khidmat.

Namun, setelah rukuk pada rakaat kedua tiba-tiba terdengar pekik takbir dari arah belakang jamaah. Begitu pula dengan suara letusan pistol yang terjadi beberapa kali. Di saf terdepan, Kiai Zainul Arifin terjatuh di atas sajadah. Bajunya berlumuran darah.

 
Di saf terdepan, Kiai Zainul Arifin terjatuh di atas sajadah. Bajunya berlumuran darah.
 
 

Dengan kondisi demikian, ia tetap menggumamkan zikir. EK Siahaan dalam buku KH Zainul Arifin (1984) mengatakan, pelaku penembakan itu sebenarnya menyasar Bung Karno. Namun, tembakannya meleset sehingga mengenai Kiai Zainul Arifin yang berada dekat dengan RI-1. Dengan luka cukup parah, sang kiai pun dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Setelah dirawat selama tiga bulan, ia akhirnya diperbolehkan pulang ke rumahnya yang beralamat di Jalan Cikini Raya No 48 Jakarta. Meskipun sempat pulih, kondisinya kemudian menurun drastis. Bahkan, dirinya sempat koma dan kritis di rumah sakit.

Tepat pada 2 Maret 1963 pukul 07.20 WIB, Kiai Zainul meninggal dunia dalam usia 53 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Presiden Sukarno bertindak selaku inspektur upacara pemakaman itu. Setahun kemudian, Kepala Negara menetapkan KH Zainal Arifin sebagai pahlawan nasional.

 


,
×