Carles Saragih kembali memantapkan imannya dalam Islam setelah merenungi makna kematian. | DOK IST
22 Nov 2020, 04:52 WIB

Carles Saragih, Hidayah Datang Kala Mengingat Mati

Dahulu sempat jauh dari agama, Carles Saragih kini menjadi aktivis dakwah.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Keimanan senantiasa naik turun. Tatkala iman seseorang naik, hidupnya akan lebih tenteram dan damai. Hatinya penuh tawakal. Pikirannya diliputi ketenangan.

Sebaliknya, hidup seseorang akan terasa penuh ketegangan bila iman dalam kondisi turun. Dirinya dihantui kekhawatiran terhadap perkara-perkara dunia. Kata-kata menjadi tidak terkontrol. Ibadah yang dilaksanakannya akan terasa sangat berat.

Bagi Carles Saragih, ketidaktetapan itu pernah terjadi cukup lama. Ada sebuah fase dalam hidupnya ketika kepercayaan terhadap Tuhan nyaris hilang sama sekali. Menengok masa lalunya, ia pun bersyukur karena kini hatinya teguh memeluk dan mengamalkan Islam. Semua berkat hidayah dari Allah SWT.

Terkait

Lelaki berusia 30 tahun itu menuturkan, dirinya lahir dari pasangan suami-istri yang berlainan agama. Ayahnya yang bersuku Batak menganut Kristen, sedangkan ibundanya adalah Muslimah berdarah Banjar-Bugis. Keluarga ini menetap di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kedua orang tua Carles memiliki penghasilan yang di atas rata-rata. Sang ayah bekerja sebagai kru pada kapal pengangkut minyak bumi. Tidak jarang, kepala keluarga ini harus menghabiskan waktu di luar negeri karena mengikuti pelayaran armada perusahaan. Sementara itu, sang ibu bekerja mengurus rumah tangga, di samping menekuni kegemarannya bermusik elektune.

Cobaan bagi keluarga ini datang ketika Carles masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Ayahnya mengalami kecelakaan kerja yang cukup parah. Bahkan, tangan sebelah kanannya patah. Sejak itu, sang ayah lebih sering beraktivitas di rumah. Penghasilan menjadi kurang menentu.

 
Cobaan bagi keluarga ini datang ketika Carles masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar.
 
 

Kedua orang tua Carles juga kerap bertengkar. Kira-kira dua tahun kemudian, mereka memutuskan untuk berpisah. Carles ikut ibunya. Sebagai anak broken home, tentu kurang mendapatkan kasih sayang penuh dari ayah ibunya.

“Sejak kecil, saya lebih sering diurus babysitter. Masa kecil saya kurang kasih sayang dari orang tua,” ujar pria yang memiliki nama Muslim Muhammad Syahril itu kepada Republika beberapa waktu lalu.

Karena tinggal bersama ibunya, Carles kecil otomatis menjalani keseharian sebagai seorang Muslim. Akan tetapi, lanjut dia, sang ibu tidak cukup optimal dalam memberikan pengajaran agama. Banyak ibadah wajib yang seharusnya dikerjakan rutin malah dilalaikannya begitu saja.

Carles pun lebih sering berada di luar rumah meskipun jam pelajaran di sekolah usai. Perangainya semakin nakal ketika menjadi murid SMP. Anak muda ini jarang masuk sekolah, lebih suka nongkrong dengan kawan-kawannya di pinggir jalan. Ibunya tidak bisa berbuat banyak.

Puncaknya, Carles harus putus sekolah saat masa SMA. Ia mengakui, pengaruh teman-teman seakan menggantikan kurangnya perhatian dari kedua orang tua. Akhirnya, dirinya waktu itu memiliki kepribadian yang buruk, tidak mau diatur. Waktunya habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti merokok atau pacaran.

Mulai berubah

Ketika banyak remaja sebayanya sibuk mencari tempat kuliah atau kerja, Carles justru terjebak pada dilema. Ia mau tidak mau harus menikah di usia 19 tahun. Karena berawal dari serba terpaksa, rumah tangga itu sangat rapuh pada mulanya. Berbagai masalah membelit sehingga dirinya semakin frustrasi.

“Saya merasa hidup saya terpuruk, dan Tuhan tidak berbuat apa-apa untuk kehidupan saya. Rasanya saat itu, percuma saja untuk mengingat-Nya,” tutur dia mengenang.

Untungnya, perempuan yang menjadi istri Carles cukup sabar. Pasangan suami-istri ini kemudian dikaruniai anak pertama. Peran barunya sebagai seorang ayah membuatnya terpanggil untuk berubah. Carles merasa harus memiliki rasa tanggung jawab.

Sebagai kepala keluarga, ia terus berusaha mencari penghasilan. Berbagai pekerjaan digelutinya demi menafkahi anak dan istri. Akan tetapi, kegigihannya itu belum seiring sejalan dengan kemantapan perilakunya sebagai Muslim.

Ya, kenang Carles, waktu itu dirinya masih sebatas “Islam KTP”. Islam tercatat sebagai agamanya di kartu identitasnya. Namun, orang-orang mungkin akan mengira dirinya non-Muslim karena jarang sekali muncul di masjid. Shalat lima waktu pun dengan ringan ditinggalkannya.

Carles saat itu masih menyimpan anggapan negatif tentang Tuhan. Baginya, Tuhan tidak perlu ada; agama hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Ketika mendengar itu, istrinya hanya bisa berucap istighfar. Dalam shalatnya, perempuan itu juga selalu berdoa, berharap agar Allah Ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada sang suami.

 
Carles saat itu masih menyimpan anggapan negatif tentang Tuhan.
 
 

Perubahan mendasar terjadi pada 2017. Carles masih mengingatnya dengan jelas. Dalam tahun itu, beberapa kali dirinya menerima kabar tentang wafatnya sanak saudara. Ada yang meninggal karena sakit atau faktor usia.

Hal itu menyadarkan Carles bahwa kematian bisa datang kapan saja. Dan, di alam kubur seseorang tidak membawa bekal apa pun kecuali iman dan amal perbuatan. Sekalipun sepanjang hayat berbuat baik, apalah gunanya bila tak disertai iman? Lebih parah lagi kalau kelakuan pun tidak baik, ditambah dengan ketiadaan iman.

Suatu malam, kegelisahan itu disampaikannya kepada sang istri. Perempuan itu lantas menyarankannya agar kembali memperbaiki hubungan dengan Allah (habluminallah). Sebab, Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Kesadaran ini adalah teguran halus dari-Nya agar lelaki ini berubah menjadi pribadi lebih baik.

“Ya, berita kematian beberapa anggota keluarga menjadi pengingat bagi saya untuk bertobat. Mendengar kabar dari beberapa keluarga saya yang kembali menghadap Allah SWT,” ucap dia.

Carles berterima kasih kepada istrinya. Ia pun berjanji untuk menjadi sosok yang lebih religius. Beberapa hari kemudian, ia iseng-iseng membuka media sosial. Matanya tertarik pada tautan (link) saluran YouTube yang berisi kajian.

Ternyata, channel itu tidak seperti anggapannya dahulu. Menyimaknya sangat tidak membosankan. Ustaz dalam video itu juga menyampaikan materi-materi tentang takdir Allah dan kekuatan akidah.

“Beliau membahas secara rinci konsep ketuhanan dan membuat saya yakin bahwa Allah adalah Tuhan, bahwa Allah Maha Esa. Saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar,” katanya.

photo
Carles Saragih (kedua dari kanan) berpose dengan para sahabat yang aktif dalam Mualaf Center Indonesia. Gerakan MCI diinisiasi seorang pegiat dakwah, Steven Indra Wibowo atau yang akrab disapa Koh Steven. - (DOK IST)

Ikut komunitas

Sang istri begitu senang menyaksikan perubahan prilaku Carles. Kini, lelaki itu menjadi lebih rutin beribadah wajib. Bahkan, tiap lima waktu pun diusahakannya selalu ke masjid.

Untuk lebih konsisten dalam menjalani ibadah, Carles memutuskan untuk bergabung dengan komunitas hijrah. Ia lantas mencari-cari di jejaring sosial Facebook. Satu grup menyita perhatiannya, yakni Mualaf Center Balikpapan.

Awalnya, Carles sebatas mengikuti sebagai netizen anggota grup. Belakangan, ia menyempatkan diri untuk silaturahim ke markas komunitas tersebut. Ternyata, para aktivis setempat menyambutnya dengan hangat. Tak perlu waktu lama, dirinya pun menjadi salah satu aktivis di sana.

Suatu hari, ada kesempatan untuk mengobrol empat mata dengan seorang ustaz. Kepadanya, Carles menceritakan pengalaman masa kecil dan remajanya yang penuh lika-liku. Disampaikan pula bahwa ada suatu masa dalam hidupnya ketika dirinya meninggalkan Tuhan.

Ustaz itu lantas menasihatinya bahwa Allah Mahapengampun. Insya Allah, tobatnya diterima oleh-Nya selama dilandasi keikhlasan dan komitmen untuk tidak berbuat kesalahan yang sama. Carles lantas kembali mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu untuk meneguhkan tekadnya dalam beriman dan Islam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by mualaf.com (mualaf.center.indonesia)

Mualaf Center Balikpapan merupakan cabang Mualaf Center Indonesia, organisasi yang diinisiasi pegiat dakwah Steven Indra Wibowo atau akrab disapa Koh Steven. Hingga kini, Carles terus aktif di sana. Ia bersyukur, pergaulannya di komunitas tersebut telah menumbuhkan semangatnya untuk terus menjadi Muslim yang taat.

Kini, Carles menjadi lebih sabar dalam menerima apa pun yang ditakdirkan Allah kepadanya. Berprasangka baik kepada Allah, itulah prinsipnya. Di samping bekerja, dirinya juga rutin mengikuti kajian. Beberapa gurunya adalah Ustaz Muqi, Ustaz Auliya Rahman, dan Ustaz Esa Taufik.

“Mereka sangat berjasa dalam hal menasehati saya dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam,” jelas dia.

Di Mualaf Center, Carles terlibat dalam berbagai program, termasuk membantu para mualaf yang terkendala berbagai soal. Menurutnya, setiap mualaf memerlukan pendampingan dari saudara seiman. Sebab, acap kali mereka menerima penolakan bahkan dari keluarganya sendiri. Yang jelas, jangan sampai orang-orang yang baru memeluk Islam merasa berjuang sendirian.

Tak hanya kajian Islam, Carles pun mengejar ketertinggalannya dalam pendidikan formal. Karena sempat putus sekolah, dia pun mengikuti ujian kejar Paket C. Di luar pekerjaannya sebagai juru marketing via media sosial, penggemar warna hitam itu juga menjabat sekretaris Mualaf Center Provinsi Kalimantan Timur.


×