Buruh mengupas kulit bawang putih impor di Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (8/11). | ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO
20 Nov 2020, 04:15 WIB

Substitusi Impor Pangan Butuh Dukungan Ekspor

Indonesia tidak bisa kalau hanya menerapkan substitusi impor.

 

JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Indonesia Bayu Krisnamurthi menilai, strategi pemerintah melakukan substitusi produk impor dengan produk lokal tak lagi relevan dengan tantangan pasar global. Ia mengatakan, kampanye ekspor harus digencarkan untuk memacu kinerja perdagangan.

"Indonesia tidak bisa kalau hanya menerapkan substitusi impor. Kita harus seimbangkan dengan promosi ekspor," kata Bayu dalam dalam Jakarta Food Security Summit yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Kamis (19/11).

Ia mencontohkan, dengan disepakatinya perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) antara 10 negara ASEAN dengan lima negara mitra sangat membuka peluang bagi perluasan ekspor.

Terkait

Bayu menegaskan, jika pemerintah hanya fokus mengurusi substitusi produk impor dengan barang lokal, secara jangka panjang Indonesia hanya berkutat pada strategi bertahan. "Kita jadinya hanya defensif, seharusnya diseimbangkan juga dengan ofensif," katanya.

photo
Kapal kargo bersandar di PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur, Selasa (17/11). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2020 mencapai 14,39 miliar dolar AS atau meningkat 3,09 persen dibandingkan ekspor pada September 2020. - (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Menurutnya, jika pemerintah sudah berani untuk melakukan promosi ekspor dengan gencar, maka hal selanjutnya yang perlu difokuskan yakni daya saing produk nasional. Daya saing, kata Bayu, akan menjadi poin kritis bagi Indonesia untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan.

Ia pun mengingatkan itu tak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Perlu dukungan swasta baik perusahaan besar maupun kecil, serta dengan para petani yang menjadi produsen pangan pun harus terlibat. Kerja sama yang dilakukan wajib sama-sama saling memberikan keuntungan.

Kadin Indonesia menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan terhadap perekonomian Indonesia. Kondisi ini mendorong para pelaku usaha mengambil sejumlah langkah dan strategi termasuk mencari berbagai peluang pasar baru.

“Perlu ada dorongan agar pelaku usaha Indonesia dapat lebih berorientasi ekspor. Jadi tidak hanya berfokus memenuhi kebutuhan domestik,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani.

Sebelumnya, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memproyeksikan volume perdagangan dunia akan turun sebesar 9,2 persen pada 2020. Volume perdagangan global ada kemungkinan baru bisa pulih pada akhir 2021 dengan pertumbuhan sekitar 7,2 persen.

Seiring anjloknya transaksi perdagangan dunia, WTO memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2020 akan minus 4,8 persen. Lalu diprediksi kembali tumbuh 4,9 persen pada 2021.

Shinta mengatakan, peluang ekspor ke berbagai negara mitra dagang Indonesia tetap terbuka, meski berbagai negara di dunia sedang terpukul oleh pandemi Covid-19. Meski begitu, hambatan dagang berupa tarif dan nontarif masih menjadi tekanan tersendiri bagi komoditas ekspor utama Indonesia, terutama minyak kelapa sawit, karet, dan produk perikanan.

Shinta mengatakan, Kadin telah mengusulkan sejumlah cara kepada pemerintah untuk mewujudkan tujuan tersebut. Saran itu yakni meningkatkan produktivitas dan stabilisasi produksi dalam negeri serta reformasi sektor agrikultur dan perikanan dengan perbaikan iklim usaha. Kemudian, pembenahan ketidaksesuaian antara produksi pangan hulu dan kebutuhan industri makanan dan minuman serta pasar ekspor.

Selain itu, penguatan diplomasi dengan cara melakukan reformasi pada institusi publik dan swasta yang bertanggung jawab atas promosi, perdagangan, dan investasi melalui kajian-kajian dan penguatan riset pasar. 


×