Pekerja memotong gedebog (batang pohon) pisang untuk diolah menjadi keripik di Desa Doko, Kediri, Jawa Timur, Kamis (19/11). Gedebog pisang yang biasanya dibuang oleh petani tersebut diolah menjadi keripik beraneka macam rasa dengan jumlah produksi mencap | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
20 Nov 2020, 02:00 WIB

Ekonomi Desa Dinilai Masih Tangguh Hadapi Pandemi

Pemberdayaan desa tetap harus dilakukan mengingat jumlah penduduk miskin di pedesaan yang tinggi.

BANDUNG — CEO Rumah Zakat Nur Efendi menilai ekonomi desa masih jauh lebih tangguh dibandingkan perkotaan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Hal itu dilihat dari paparan virus korona di pedesaan yang jumlahnya sedikit.

"Covid-19 di desa hanya 2 persen. Jadi, masih sangat kecil sekali. Mungkin karena interaksi tidak sepadat di kota dan alam terbuka udara masih sejuk sehingga tidak terlalu besar. Jadi kalau kita lihat desa-desa itu (ekonominya) lebih tangguh,” katanya di sela diskusi daring bertajuk "Membangkitkan Desa Berdaya di Kala Pandemi", Kamis (19/11).

Online talkshow tersebut digelar Republika Media Mandiri bersama Satgas Penanganan Covid-19 BNPB dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19. Kali ini, acara difokuskan pada penguatan kesehatan dan ekonomi bagi masyarakat di pedesaan.

Nur Efendi mengatakan, pandemi memang telah membuat perekonomian Indonesia mengalami resesi, seperti yang sudah diimumkan pemerintah. Namun, dampak tersebut di pedesaan tidak terlalu signifikan. Dilihat dari angka kemiskinan, kenaikannya 0,03 persen di desa, sementara di kota mencapai 0,06 persen. Ekonomi desa juga, kata dia, lebih bergerak dibandingkan perkotaan yang menunjukkan banyak industri atau perusahaan terpuruk. 

Ia memaparkan, ekonomi desa 87 persen bergerak di sektor pertanian. Pada saat pandemi, sektor komoditas pangan mengalami peningkatan baik dari konsumsi masyarakat maupun program bantuan pemerintah. Rumah Zakat sendiri memiliki program Desa Berdaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. 

photo
Wisatawan berkunjung ke kebun agrowisata buah naga di Desa Utera, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (19/11). Petani buah naga di desa itu membuka agrowisata memetik buah naga langsung dari pohonnya dengan tarif Rp 25 ribu per kilogram yang menjadi alternatif wisata edukasi di tengah pandemi Covid-19. - (ANTARA FOTO/Rahmad)

"Jadi, dengan sebagian besar desa adalah sektor petani dan dampak Covid-19 tidak besar dan lebih tangguh dilihat dari angka kemiskinan ini," tuturnya.

Meski demikian, pemberdayaan desa tetap harus dilakukan mengingat jumlah penduduk miskin di pedesaan tetap yang tertinggi. Menurut dia, melalui Desa Berdaya, Rumah Zakat juga concern membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan di sektor pendidikan, ekonomi hingga lingkungan.

“Masa depan kita ada di desa. Pangan semua ada di desa. Energi semua di desa. Bahkan, prediksi 2023-2025, akan terjadi, kalau sekarang pergeseran orang desa menuju kota, nanti akan terbalik orang kota berbondong-bondong ke desa karena di kota peluang sudah terbatas,” ujarnya.

Ia menyebutkan, penanggulangan dampak pandemi pedesaan saat ini dilakukan pada 1.687 Desa Berdaya yang dibentuk Rumah Zakat. Jumlah tersebut tersebar di 67 kota dan 212 kabupaten di seluruh Indonesia.

Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Nur Hasan Murtiaji, mengatakan, desa memiliki peran signifikan bagi perekonomian Indonesia. Namun, Covid-19 beberapa bulan terakhir memberi dampak bagi perekonomian di desa. “Kita berharap kondisi dua hal, dari sisi kesehatan masyarakatnya dan dari sisi ekonomi, tidak begitu tertekan,” katanya.

Ia pun berharap peran bersama pemerintah, masyarakat, dan lembaga, termasuk Rumah Zakat, bisa membantu memberdayakan desa. “Agar tidak terpuruk, tapi makin berdaya. Dari sisi kesehatan bisa kembali beraktivitas dan dari sisi ekonomi bisa pulih seperti sedia kala,” ujarnya. 


×