Menristek/Badan Ristek dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro. | ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Wawasan

16 Nov 2020, 03:00 WIB

Menuju Kemandirian Vaksin Merah Putih

Pemerintah menempuh dua jalur, yaitu vaksin Merah Putih dan kedua jalur kerja sama dengan luar negeri.

Ada enam institusi di Indonesia yang kini sedang mengembangkan vaksin Covid-19. Selain Lembaga Eijkman, ada LIPI, UI, Unair, UGM, dan ITB, yang mengembangkan dengan platform yang berbeda-beda. Jika hasil penelitian satu di antara mereka berhasil dan siap diproduksi, impor vaksin akan dihentikan. Berikut wawancara wartawan Republika, Inas Widyanuratikah dengan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Apa latar belakang Indonesia ikut mengembangkan vaksin?

Banyak orang yang menanyakan ke saya bahkan ada wawancara langsung TV di Hong Kong. Ngapain Indonesia bikin vaksin, kan bisa beli. Jawab saya simpel. Tidak seperti negara Anda, negara kita itu 270 juta penduduknya dan kita ke-4 terbesar di dunia. Jadi sangat riskan kalau kita mengandalkan vaksin yang 100 persen dari luar negeri, kami tetap mengandalkan vaksin dari dalam negeri.

Kalau kita bicara public health ke depan, pendekatannya tidak hanya menyembuhkan, tapi kita harus sudah mulai bergerak jika kita ingin jadi negara maju, kita harus ke pencegahan. Salah satu instrumen penting dalam preventive medicine itu adalah vaksin.

Itu adalah alasan mengapa kita mengembangkan vaksin Merah Putih. Namun, kami juga menyadari, meskipun kita punya kemampuan untuk produksi vaksin, harus kita akui perkembangan teknologi di luar cepat, sehingga dari segi kecepatan mendapatkan vaksin kita tidak secepat nama-nama global.

 
Untuk vaksin Covid di Indonesia, pemerintah menempuh dua jalur, yaitu vaksin Merah Putih dan kedua jalur kerja sama dengan luar negeri. 
 
 
SHARE    

 

Bagaimana pengadaan vaksin Covid-19 di Indonesia?

Untuk vaksin Covid di Indonesia, pemerintah menempuh dua jalur, yaitu vaksin Merah Putih dan kedua jalur kerja sama dengan luar negeri. Namun, sesuai arahan Presiden, begitu vaksin Merah Putih siap (digunakan), kita hentikan semua kerja sama impor vaksin dari luar. Vaksin Merah Putih, ada 6 institusi mengerjakan dengan platform berbeda-beda, yaitu Lembaga Eijkman, LIPI, ITB, UI, UGM, dan Unair.

Kebetulan yang pertama memulai dan kemungkinan termasuk yang paling cepat nanti untuk didistribusikan itu dari Eijkman. Untuk Eijkman, kondisi terakhir saat ini namanya ekspresi sel mamalia untuk persiapan uji hewan. Karena sebelum nanti disiapkan ke Bio Farma harus dilakukan uji hewan. Jika sudah berjalan dengan lancar, baru bibit vaksin diberikan kepada Bio Farma.

Virus Covid-19 bermutasi, bagaimana efeknya terhadap pengembangan vaksin?

Terkait dengan whole genome sequencing. Pertama kita lihat konteks dunia, di konteks dunia virus korona baru itu memang sudah mengalami mutasi, dan mutasi itu ke dalam bentuk yang disebut sebagai D614G. Perubahan atau mutasi tidak membuat dia langsung jadi sesuatu yang lebih menyeramkan. Paling tidak itu yang terbukti.

 
Vaksin dibutuhkan dalam rangka kita mencapai herd immunity, itu adalah kekebalan massal.
 
 
SHARE    

Terkait vaksin, apakah ini akan mengganggu efektivitas vaksin yang sedang dikembangkan? Ternyata, D614G itu tidak mengganggu suatu area pengembangan vaksin. Jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir, sampai saat ini D614G belum menimbulkan masalah yang lebih berat.

Bagaimana vaksin ini nantinya akan diberikan kepada masyarakat?

Vaksin dibutuhkan dalam rangka kita mencapai herd immunity, itu adalah kekebalan massal. Vaksin itu dibutuhkan untuk herd immunity. Herd immunity-nya berapa orang? 180 juta penduduk Indonesia, harus divaksin dalam rangka mencapai herd immunity. Karena vaksin pertama itu dua kali, jadi dibutuhkan 360 juta dosis.

Bagaimana bentuk dukungan pemerintah dalam pengembangan vaksin ini?

Mengenai dukungan, kita berikan dalam bentuk anggaran untuk risetnya ataupun untuk infrastrukturnya. Kita sudah punya fasilitas di Serpong, yang akan kita jadikan pusat pengembangan vaksin nasional. Idenya adalah nanti semua jenis platform itu bisa dikerjakan di situ, dan memang ada lab yang bisa dipakai bersama-sama. Namun,  tentunya ini butuh waktu untuk kita menyelesaikan.

 

photo
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro berbincang dengan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir saat kunjungan kerja di Gedung Bio Farma, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Rabu (29/7). Dalam kunjungan kerja tersebut, Menristek berkesempatan untuk meninjau pengembangan vaksin Covid-19 dalam negeri yang diberi nama Vaksin Merah Putih sekaligus mengecek kesiapan uji klinis vaksin Covid-19 di Bio Farma - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)
SHARE    

Kalau besaran anggaran itu yang paling besar bukan yang di lab. Yang di lab tidak terlalu besar. Susah mengatakannya, tapi mungkin Rp 10 miliar sampai Rp 15 miliar sampai selesai uji hewan. Yang lebih mahal itu uji klinis. Itu tidak bisa murah. Perkiraan uji klinis butuh sekitar Rp 50 miliar per institusi.


×