Pertunjukan seni (ilustrasi) | Antara/Aloysius Jarot Nugroho
09 Nov 2020, 12:29 WIB

Begini Nasib Para Seniman di Masa Pandemi

Pelaku seni diharapkan bisa memanfaatkan ruang fisik dan virtual sekaligus.

Pandemi Covid-19 telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk seni. Lalu bagaimana masa depan seni setelah pandemi, khususnya seni pertunjukan yang membutuhkan interaksi langsung dari penonton?

Koordinator Peneliti Kebijakan Seni dan Budaya Koalisi Seni, Ratri Ninditya menyuguhkan empat skenario yang mungkin bisa menjadi alternatif bagi para seniman untuk terus berkarya. Empat skenario ini menggambarkan keterkaitan antara ruang dan pelaku seni dalam ekosistem seni.

Skenario pertama yang mungkin terjadi adalah meningkatnya relasi antarpelaku seni di ruang digital. Menurut Ratri, hal ini bisa sangat mungkin terjadi mengingat selama pandemi Covid-19 semua pelaku dan kelompok seni beralih ke ruang virtual digital. “Tapi saya melihat jika seniman hanya bergantung pada digital saja, maka dia hanya jadi seniman konten, yang punya kerentanan,” kata Ratri dalam diskusi yang diselenggarakan di saluran YouTube Salihara.

Idealnya, kata Ratri, di masa depan pelaku seni bisa menggunakan kedua ruang (fisik dan virtual) secara beriringan. Dengan begitu, ruang komunikasi dan interaksi yang biasa terjalin ketika latihan atau pertunjukan fisik masih bisa terlaksana. Lalu skenario kedua yaitu interaksi antar pelaku seni semakin hangat. Menurut Ratri, pandemi Covid-19 menuntut semua pelaku seni melakukan kolaborasi, memperluas jaringan, memobilisasi sumber daya, yang semuanya diprediksi akan memengaruhi ekosistem baru pasca pandemi. “Terbatasnya ruang berkumpul dalam jumlah besar di ruang fisik mengakibatkan rendahnya rasa memiliki dan keterikatan antar komunitas. Tapi selama pandemi, para pelaku seni mulai beradaptasi membangun komunikasi dan kolaborasi secara virtual,” kata Ratri.

Terkait

Masa depan seni pascapandemi juga dianggap cukup menjanjikan, sebab banyak pelaku seni yang melakukan eksperimen dan inovasi selama pandemi Covid-19. Eksperimen pertama yaitu “touch” atau komunikasi yang dilakukan dalam seni pertunjukan virtual. “Ini sudah banyak dilakukan, di sini aku coba cari contohnya. Salah satunya ini ada pementasan teater yang membuat pementasan di Zoom dan menyuruh penonton untuk unmute audio lalu membunyikan bunyi-bunyi di sekitar. Interaksi penonton ini membuat pertunjukan semakin hangat,” kata Ratri.

Adapun skenario keempat yaitu seni semakin hidup di lingkungan terkecilnya. Artinya, jika pelaku seni dan masyarakat terisolasi dan relasinya berbasis kepentingan ekonomi, seni bisa menjadi hiburan warga. Warga juga dimungkinkan akan menghibur diri dengan pertunjukan berbayar dari warga sekitar. Di sisi lain, tenaga teknis juga bekerja membangun panggung pertunjukan berskala kecil.

 

Perbaiki sirkulasi udara

 

Sutradara dan salah satu pendiri Teater Garasi Yudi Ahmad Tajuddin memiliki pandangan lain. Menurut dia, seni pertunjukan seperti teater harus tetap mendasarkan dirinya pada kontak langsung dengan penonton maka pertemuan fisik itu masih sangat utama dan diperlukan.

“Mungkin ada alternatif lain. Tapi di beberapa kesempatan saya skeptis dengan teater virtual. Sebagai kemungkinan tentu saja bisa, tetapi skeptisisme saya itu lebih kepada pendapat yang menyebut bahwa teater digital akan menggantikan dan lain-lain. Saya bilang nanti dulu, teater fisik masih sangat diperlukan,” kata Yudi.

Dia menekankan bahwa seni pertunjukan seperti halnya teater, bisa dikatakan sempurna jika ada penonton yang hadir bersama-sama di satu ruangan. Para penonton itu akan merespons dan mengapresiasi pertunjukan secara langsung. Tidak hanya medium dan cara berkesenian, aspek ruang pertunjukan juga diharapkan bisa memperbaiki sistem sirkulasi udara.

Konsultan tata udara teknologi, Kafiuddin menilai, hingga kini masih banyak ruang pertunjukan teater, bioskop, gedung olah raga dan lainnya yang belum sirkulasi udaranya masih buruk. “Harusnya ruang pertunjukan hadir dalam kondisi yang lebih baru, khususnya dari sistem sirkulasi dan tata udaranya. Banyak sekali bangunan di Indonesia yang tidak atau belum sesuai dengan kaidah indoor air quality yang disyaratkan. Dengan adanya pandemi ini tentunya kita jadi lebih paham tentang kualitas udara di dalam ruangan,” jelas Kafiuddin.

Menurut Kafiuddin, perbaikan sistem sirkulasi udara di ruang-ruang pertunjukkan setidaknya bisa memberi rasa aman bagi penonton dan pengisi acara. Mengingat pandemi Covid-19 ini membuat banyak orang sangat memperhatikan dan mengutamakan kesehatannya.

 

 

 
 Dengan adanya pandemi ini tentunya kita jadi lebih paham tentang kualitas udara di dalam ruangan.
Konsultan tata udara teknologi, Kafiuddin
 

Pameran dan Pementasan Virtual

Lantaran keterbatasan gerak akibat pandemi, saat ini pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencari jalan agar kegiatan berkesenian di tanah air tetap menggeliat. Pameran virtual pun dipilih menjadi satu cara. Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, mengatakan pameran virtual adalah sebuah inovasi yang diperlukan para seniman agar kegiatan kebudayaan bisa tetap bertahan di tengah pandemi. "Kami sangat mengapresiasi upaya di tengah segala keterbatasan dan kesulitan yang dihadapi karena pandemi sehingga bisa menyelenggarakan kegiatan ini," kata Hilmar dalam video saat konferensi pers OPPO Art Jakarta Virtual 2020 pada akhir Oktober lalu.

Hilmar mengatakan pameran virtual ini adalah langkah cepat dan sigap dari para seniman yang kini memindahkan kegiatannya menjadi virtual untuk beradaptasi dengan situasi.  "Kami harap pandemi segera berakhir dan kita bisa beraktivitas dengan normal," lanjut dia.

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Restu Gunawan menambahkan, pameran virtual ini merupakan bukti bahwa para seniman di Indonesia cepat beradaptasi menghadapi kondisi terkini. "Seniman selalu punya kemampuan adaptif dan adoptif, punya daya kreatif, imajinatif, dan mengadopsi perkembangan yang ada," puji dia.

Pameran seni ini digelar mulai 19 Oktober hingga 15 Desember 2020 sebagai inovasi agar karya para seniman Indonesia bisa terus diapresiasi di tengah pandemi.  Art Jakarta akan menampilkan pameran dari 38 galeri seni rupa yang terdiri dari 27 galeri Indonesia dan 11 galeri seni internasional. Ada 16 komunitas dan organisasi seniman yang terlibat.

Direktur Artistik Art Jakarta Enin Supriyanto mengatakan, Art Jakarta yang telah memasuki masa penyelenggaraan tahun ke-12, adalah bagian terpadu dalam ekosistem seni rupa nasional. "Art Jakarta telah membuktikan bahwa kerjasama dan kebersamaan para pelaku dalam ekosistem seni rupa di Indonesia khususnya, adalah bagian dari kekuatan dan alasan utama keberadaan Art Jakarta," kata Enin.

photo
Pertunjukan seni (ilustrasi) - (Antara/Ari Bowo Sucipto)

Langkah serupa juga dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Geliat seni di Pulau Dewata ini hadir lewat ajang "Jantra Tradisi Bali" atau Pekan Kebudayaan pada 22-25 Oktober 2020 lalu dengan menampilkan berbagai pementasan seni secara virtual dan berbagai lomba tradisional.

"Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyukseskan visi Pemerintah Provinsi Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, sekaligus pelaksanaan Pekan Kebudayaan Nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof Dr I Wayan "Kun" Adnyana dari Denpasar, Bali.

Jantra Tradisi Bali atau Pekan Kebudayaan kali ini mengangkat tajuk "Wahya Prana Bhakti, Pengabdian Jiwa dan Raga". Semua kegiatan disajikan secara virtual sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19.

"Jantra Tradisi Bali merupakan kegiatan apresiasi budaya untuk penguatan dan pemajuan kearifan lokal, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, pengobatan tradisional, permainan rakyat dan olahraga tradisional," ujarnya.

Dalam pembukaan ajang ini tampil Teaser Jantra Tradisi Bali 2020 yang diisi dengan Sarasehan Jantra Tradisi Bali dengan tema Pemajuan Objek Tradisi Budaya dan Penayangan Perdana Pergelaran Virtual Kreasi Olahraga Tradisional. Sepanjang empat hari, berbagai kegiatan budaya pun ditampilkan.

Ada juga berbagai lomba untuk peserta anak-anak hingga dewasa. Untuk lomba inovasi di antaranya terdapat lomba jamu (loloh), lomba kreasi permainan tradisional dan lomba kreasi kebaya. Sedangkan untuk lomba pembuatan topeng tradisi Bali, lomba inovasi jamu/loloh, lomba kreasi permainan tradisional dan lomba kreasi kebaya.

Saat Penutupan Pekan Kebudayaan (Jantra Tradisi Bali), berbagai aktivitas budaya turut hadir di antaranya /teaser highlight/ Jantra Tradisi Bali, pengumuman pemenang lomba, hingga penayangan perdana Pameran Virtual Wastra "Mendak Munduk Endek dan penayangan perdana pergelaran virtual kreasi permainan rakyat.

Sumber : Antara


×