Presiden Palestina Mahmoud Abbas saat berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, di markasnya, 11 Februari 2020. Joe Biden dan pemerintahannya diharapkan memperkuat hubungan Palestina-Amerika. | AP Photo/Seth Wenig
09 Nov 2020, 05:00 WIB

Palestina Harapkan Normalisasi Atas Kemenangan Biden

Joe Biden dan pemerintahannya diharapkan memperkuat hubungan Palestina-Amerika.

 

RAMALLAH -- Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas memberikan ucapan selamat kepada Joe Biden karena telah terpilih sebagai presiden Amerika Serikat (AS). Ucapan selamat yang disampaikan Abbas mengindikasikan adanya keinginan Palestina untuk mengakhiri boikot politik terhadap Gedung Putih, yang telah dilakukan selama tiga tahun terakhir.

Abbas dalam sebuah pernyataan yang disampaikan dari kantornya di Tepi Barat, Ramallah, Ahad (8/11), menyatakan harapannya untuk dapat bekerja dengan presiden AS terpilih dan pemerintahannya dalam memperkuat hubungan Palestina-Amerika. "Ini untuk mencapai kebebasan, kemerdekaan, keadilan, dan martabat bagi rakyat kami, serta bekerja untuk perdamaian, stabilitas, dan keamanan untuk semua di wilayah kami dan dunia," kata Abbas seperti dilansir Arab News, kemarin.

Abbas telah mengakhiri semua urusan politik dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Hal tersebut dilakukan Abbas setelah Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan memindahkan Kedutaan Besar AS ke sana.

Terkait

Sementara itu, media Israel Hayom melaporkan, seorang pejabat senior Palestina yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Mahmoud Abbas akan meminta Biden segera mengembalikan Kedutaan Besar AS dari Yerusalem ke Tel Aviv.

Biden sebelumnya mengatakan, meskipun berencana untuk mengambil pendekatan yang lebih adil terhadap konflik Timur Tengah daripada pendahulunya, dia tidak akan membatalkan keputusan itu. Penasihat Abbas, Nabil Shaath, mengatakan, Palestina juga akan menuntut agar AS membuka kembali misi diplomatik Palestina di Washington yang ditutup Trump.

 
Palestina juga akan menuntut agar AS membuka kembali misi diplomatik Palestina di Washington yang ditutup Trump.
 
 

 

Dia juga mengatakan harapan untuk memperbarui bantuan Amerika untuk Palestina dan kepada badan PBB untuk pengungsi Palestina dan turunannya, UNRWA, yang diakhiri Trump.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tak mau ketinggalan memberikan ucapan selamat kepada Joe Biden. Ia mencoba untuk merayu Biden dengan berharap hubungan bilateral Israel-AS akan semakin kuat.

"Selamat Joe Biden dan Kamala Harris. Joe, kita telah memiliki hubungan pribadi yang panjang dan hangat selama hampir 40 tahun, dan saya mengenal Anda sebagai teman baik Israel. Saya berharap, dapat bekerja sama dengan kalian berdua untuk lebih memperkuat aliansi khusus antara AS dan Israel," kata Netanyahu, melalui akun Twitter pribadinya, Ahad (8/11), dikutip laman Times of Israel.

Netanyahu pun mengucapkan terima kasih kepada Donald Trump. Dia mengapresiasi kebijakan-kebijakan yang telah diambil Trump, seperti mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, merestui klaim kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, menghadapi Iran, dan menengahi proses normalisasi diplomatik Israel dengan beberapa negara Arab baru-baru ini.

Presiden Israel Reuven Rivlin turut mengucapkan selamat kepada Joe Biden. Rivlin mengatakan kepada Biden bahwa sekarang dia telah menjadi sekutu terdekat dan terpenting Israel. "Aliansi strategis antara kedua negara dan rakyat kita lebih kuat daripada kepemimpinan politik mana pun, dan tidak hanya didasarkan pada persahabatan," katanya.

Dia pun mengucapkan terima kasih kepada Trump selama empat tahun kemitraan dalam memperkuat keamanan Israel. Rivlin turut mengucapkan terima kasih kepada rakyat Amerika atas dukungan dan persahabatan mereka yang teguh.

Kemenangan Biden ini juga menjadi sorotan di kalangan fraksi-fraksi Palestina. Presiden baru AS dinilai akan menentukan hubungan Palestina dengan AS ke depannya.

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyah, menyambut kekalahan pejawat Donald Trump yang dinilai paling keras dalam mendukung pendudukan Israel dengan mengorbankan hak-hak nasional Palestina. Selama beberapa dekade terakhir memang rakyat Palestina telah menderita dari bias yang ditunjukkan Pemerintah AS.

"Kami menyerukan kepada presiden yang baru terpilih Joe Biden untuk secara historis memperbaiki arah kebijakan AS yang tidak adil terhadap rakyat kami, yang telah menjadikan AS sebagai mitra dalam ketidakadilan dan agresi yang menimpa rakyat kami, merusak stabilitas di kawasan dan dunia, dan mencegah AS menjadi pihak sentral dalam menyelesaikan konflik," ujar Haniyah dikutip laman resmi Hamas, Ahad (8/11).

Hamas mendesak pemerintah terpilih untuk mundur dari apa yang disebut "kesepakatan abad ini" serta membatalkan keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota pendudukan Israel dan membatalkan pemindahan Kedutaan AS ke kota suci tersebut. Langkah pelanggaran yang jelas terhadap semua pendirian dan resolusi internasional.

Hamas juga menyerukan diakhirinya semua keputusan yang bertujuan melikuidasi masalah pengungsi Palestina, khususnya pemotongan bantuan AS untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina dalam upaya membubarkan badan PBB tersebut.

photo
Aksi protes dilakukan atas langkah Uni Emirat Arab (UEA) yang membuka normalisasi hubungan dengan Israel - (DOK EPA Abedin Taherkenareh)

"Kami menyerukan kepada Pemerintah AS untuk menghormati keinginan rakyat Palestina dan pilihan demokratis mereka dan berjuang untuk kebebasan dan menghentikan tekanan yang menumpuk pada negara-negara Arab untuk memaksa mereka agar menormalisasi hubungan dengan pendudukan Israel," ujarnya.

Haniyah menambahkan, rakyat Palestina akan melanjutkan perjuangan mereka dengan segala cara yang sah untuk mengakhiri pendudukan dan mencapai kemerdekaan serta memulihkan hak kembali bagi pengungsi Palestina. Hamas juga akan terus mendukung jalannya persatuan nasional dan pemulihan hubungan antar-Palestina guna menghadapi semua tantangan yang bertujuan untuk melikuidasi perjuangan Palestina. Hamas akan bekerja untuk mencapai tujuan rakyat dan aspirasi nasional rakyat Palestina.

Sekretaris Jenderal Prakarsa Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, mengungkapkan kebahagiaan tentang hasil pemilu AS. Menurutnya, kepemimpinan Trump adalah peradaban presiden Amerika terburuk yang dihadapi di zaman modern.

"Trump menghancurkan hubungan internasional dan politik. Apa yang disebut 'Kesepakatan Abad Ini' adalah hal terburuk yang dia lakukan untuk Palestina," katanya.


×