Rasulullah SAW memberikan teladan tentang perbuatan baik bahkan terhadap musuh. Atas izin Allah SWT, akhlak mulia itu tak ayal mengubah lawan menjadi kawan. | DOK EPA Oliver Weiken
29 Nov 2020, 08:12 WIB

Akhlak Nabi Mengubah Musuh Jadi Kawan

Menurut ajaran Islam, penerapan akhlak yang baik berlaku terhadap siapa pun.

OLEH HASANUL RIZQA

Menurut ajaran Islam, penerapan akhlak yang baik berlaku terhadap siapa pun. Dalam situasi perang, misalnya, pasukan Muslim dilarang untuk bertindak semena-mena kepada tawanan, apalagi penduduk sipil yang tak bersenjata. Sikap yang adil justru akan menguntungkan posisi umat agama ini, minimal dalam pandangan sejarah.

Sebuah kisah yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW membuktikan hal itu. Pada tahun keenam hijriah, Rasulullah SAW bermaksud memperluas pengaruh Islam ke berbagai wilayah di luar Madinah dan Makkah. Untuk itu, beliau memerintahkan sejumlah sahabatnya untuk menulis surat yang ditujukan kepada raja-raja, baik Arab maupun non-Arab. Isinya adalah imbauan agar mereka memeluk Islam.

Salah seorang pemimpin yang dikirimi surat tersebut ialah Tsumamah bin Utsal. Petinggi Bani Hanifah itu dikenal luas memiliki karakter keras kepala. Apa pun yang menjadi perintahnya harus diikuti seluruh rakyatnya. Sikapnya sejalan dengan kerja kerasnya dalam memakmurkan negeri.

Terkait

Terbukti, kaum Hanifah cenderung hidup lebih makmur dibandingkan penduduk kota-kota tetangga. Bahkan, denyut perekonomian di Hijaz bisa dikatakan bergantung pada distribusi komoditas dari sana.

Akhirnya, Tsumamah menerima surat kiriman Rasulullah SAW. Dengan cepat surat tersebut dirobeknya. Ia lalu mengancam akan menyerbu Madinah dan membunuh beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Suatu ketika, Tsumamah bermaksud melaksanakan umrah ke Makkah sesuai dengan adat jahiliyah. Tak disangka, rombongannya dicegat sepasukan patroli kaum Muslimin di sekitar perbatasan Madinah. Begitu tahu ada gembong Bani Hanifah di antara kafilah tersebut, Muslimin pun menangkapnya.

Sesampainya di Madinah, Tsumamah diikat pada tiang di depan masjid. Rasulullah SAW kemudian menemuinya. Sebagai tawanan, nasib raja Kaum Hanifah itu sesungguhnya di ujung tanduk. Bisa saja Rasul SAW memerintahkan orang-orang untuk membunuhnya.

Ternyata, beliau memperlakukannya dengan baik. Para sahabat diperintahkannya untuk tidak menyakiti Tsumamah. “Sediakan makanan dan susu. Kirimkan kepada Tsumamah bin Utsal yang sedang ditahan di depan masjid!” kata Rasulullah.

 
Karena keputusan Nabi SAW itu, Tsumamah mendapatkan berbagai fasilitas yang bagus untuk seorang berstatus tawanan.
 
 

Karena keputusan Nabi SAW itu, Tsumamah mendapatkan berbagai fasilitas yang bagus untuk seorang berstatus tawanan. Malahan, kaum Muslimin memberikan kepadanya kurma dan susu dengan kualitas bagus, seperti yang biasa dimakannya di kota asalnya. Bedanya, kini ia mengonsumsi itu semua dengan tangan terikat. Seorang sahabat Nabi SAW menyuapinya setiap tiba waktunya makan.

Selama beberapa hari, Tsumamah dikurung di depan masjid. Saat waktu luang, ia memperhatikan bagaimana keadaan penduduk Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW. Lima kali sehari, seruan datang dari masjid. Lama kelamaan ia menyadari, itulah tanda Muhammad SAW dan para pengikutnya melaksanakan ibadah.

Dari arah masjid, suara beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang sedang menggelar majelis ilmu pun terdengar olehnya. Secara tak langsung, penguasa yang berhati keras itu mulai memahami sedikit tentang Islam.

 
Secara tak langsung, penguasa yang berhati keras itu mulai memahami sedikit tentang Islam.
 
 

Suatu pagi, Rasulullah SAW menemui Tsumamah. “Apa kabar, hai Tsumamah?” sapa beliau dengan ramah.

“Baik, ya Muhammad!” jawab Tsumamah.

“Jika engkau membunuhku, berarti engkau membunuh orang yang pasti akan dituntut bela kematiannya oleh kaumnya. Jika engkau mengampuniku, engkau mengampuni orang yang tahu terima kasih. Jika engkau minta tebusan, mintalah! Kuberi berapa pun yang engkau mau!” kata pemimpin Bani Hanifah itu lagi.

Mendengar perkataan Tsumamah, Nabi SAW hanya tersenyum dan berlalu meninggalkannya.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW kembali mendatangi Tsumamah. “Apa kabar, wahai Tsumamah?” sapa Rasulullah.

“Tidak ada kabar selain seperti yang sudah kusampaikan kemarin. Jika engkau membunuhku, berarti engkau membunuh orang yang pasti akan dituntut bela kematiannya. Jika engkau mengampuniku, engkau mengampuni orang yang tahu terimah kasih. Jika engkau minta tebusan, mintalah!”

Rasulullah kembali tersenyum seraya berlalu meninggalkan tawanannya itu.

Hari berikutnya, Nabi SAW kembali menemui Tsumamah dan berbicara kepadanya, “Apa kabar, wahai Tsumamah?”

“Baik, ya Rasulullah!” jawab Tsumamah. Orang musyrik itu pun menyampaikan persis seperti dua hari lalu.

Kali ini, Nabi SAW tidak meninggalkannya begitu saja. Beliau menyuruh beberapa sahabatnya untuk membebaskan Tsumamah. “Lepaskan tali yang mengikat tangan Tsumamah. Biarkan ia pergi ke manapun ia suka!”

Tsumamah terkejut dan terheran-heran. Mengapa dirinya dibebaskan begitu saja tanpa dimintai tebusan?

Rasul SAW kemudian memberinya seekor kuda yang kekar dan perbekalan secukupnya. Tsumamah dipersilakan menggunakannya untuk kembali kepada kaumnya.

Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun melenggang pergi ke luar Madinah. Namun, belum sampai di kampung halamannya, Tsumamah kemudian berbalik arah. Ia bergegas kembali, menemui Rasul SAW.

Di depan masjid, ia berseru lantang, “Asyhaduan la ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah!”

Saat Rasulullah mendatanginya, Tsumamah berkata, “Demi Allah, dulu tidak ada orang yang paling kubenci selain engkau. Sekarang, tidak ada orang yang paling kucintai selain dirimu. Demi Allah, tak ada agama yang paling kubenci selama ini selain agamamu. Namun kini, agamamu yang paling kucintai!”

Nabi SAW dan Muslimin menyambut gembira keislaman Tsumamah. Beberapa hari kemudian, raja Bani Hanifah itu meneruskan perjalanan umrah yang sempat tertunda.

Di Makkah, betapa kagetnya penduduk Quraisy karena Tsumamah beribadah dengan tata cara Islam. Ia pun sempat diancam oleh mereka.

Begitu kembali ke negerinya, Tsumamah memutuskan untuk memboikot distribusi pangan ke Makkah. Boikot ekonomi yang dilancarkannya membawa akibat fatal bagi kaum Quraisy.

Mereka menderita kesusahan, bahkan bahaya kelaparan mengancam. Karena itu, petingginya segera menulis surat kepada Rasulullah SAW, memohon agar Tsumamah menghentikan boikot tersebut.

Nabi SAW berhati lembut. Beliau mengirim surat kepada pemimpin Hanifah itu agar menyetop embargo. Peristiwa ini menjadi salah satu faktor kemudahan Islam dalam membebaskan Kota Makkah pada tahun delapan hijriah.


,
×