Petugas medis menyiapkan vaksin saat proses simulasi uji coba vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/10). | Prayogi/Republika
26 Nov 2020, 03:05 WIB

Vaksin Harus Aman

Belum ada satu pun yang melaporkan data hasil uji klinis fase 3 vaksin Covid-19.

JAKARTA – Rencana mendatangkan vaksin Covid-19 dari Cina pada November kemungkinan batal. Pemerintah ingin memastikan vaksin yang akan dimasukkan ke tubuh masyarakat aman dan telah mendapat izin penggunaan darurat (emergency use authorization) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Mau disuntik (vaksin) dengan komposisi yang tidak diketahui, tidak jelas? Itu sesuatu yang normatif dan untuk membuktikan keamanan dan efikasi vaksin itu menjadi tugas BPOM,” kata Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto saat dihubungi Republika, Sabtu (24/10).

Dalam paparannya di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan, vaksin Covid-19 dari Cina yang ditargetkan tiba pada November diperkirakan akan mundur. Luhut menyebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta vaksin yang datang dari Cina (Sinovac) dipastikan tetap melalui prosedur otorisasi.

Terkait

Menurut Yurianto, langkah tersebut memang seharusnya dilakukan. Penyuntikan vaksin tidak seperti mengganti busi motor, jika salah tinggal diganti komponen yang benar. Artinya, kata dia, ketika vaksin sudah masuk tubuh kemudian tidak aman, injeksi yang telanjur masuk ke tubuh tak bisa diambil kembali.

“Jadi, tidak bisa buru-buru, memangnya ini balapan lari? Bukan. Apakah ada negara lain yang sudah menyuntikkan vaksin? Belum kan,” ujar mantan juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 ini.

Virolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Saifuddin Hakim mengatakan, dari beberapa kandidat produsen vaksin Covid-19 di berbagai negara, belum ada satu pun yang telah melaporkan data hasil uji klinis fase 3. Artinya, uji klinis tahap akhir itu belum bisa diketahui hasilnya serta kemungkinan efek samping yang ditimbulkan.

Sebagai akademisi, Saifudin mengaku, telah mencoba mengakses data profil keamanan uji klinis vaksin di fase 1, 2, hingga 3. “Kemudian, dari 10 kandidat yang sudah masuk ke uji klinis fase 3, belum ada satu pun data yang bisa kami akses, baik publikasi data keamanan dan efikasinya,” kata dia.

Saifudin mengaku, baru bisa mengakses data imunogenisitas atau kemampuan suatu vaksin merangsang terbentuknya antibodi Covid-19 dan data keamanan hasil uji klinis fase 1 dan 2. Ini termasuk vaksin yang dibeli pemerintah yang mengaku sudah mempelajari semua vaksin dari luar negeri, yakni Cansino, G42/Sinopharm, Sinovac, dan Astrazeneca.

“Kalau kita tergesa-gesa mengedarkan vaksin ini, sementara uji klinis fase 3 belum ada hasilnya, akan sulit mengomunikasikan ke publik untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terkait vaksin ini,” ujar dia.

Saifuddin menilai, wajar jika ada kekhawatiran dari masyarakat, termasuk dari para tenaga medis yang menjadi kelompok prioritas program vaksinasi. Kekhawatiran masyarakat saat ini bukan lagi didasari kepercayaan terkait halal haram vaksin, melainkan berdasarkan pengujian saintifik.

“Bagaimana mungkin vaksin sudah dipakai November tapi belum selesai diuji klinis fase 3,” kata dia.

Kekhawatiran baru

Di tengah perjuangan ilmuwan untuk menghasilkan vaksin Covid-19, gelagat penolakan terhadap vaksinasi muncul pada kelompok masyarakat di berbagai negara. Mengingat jumlah mereka cukup besar, ilmuwan mengingatkan pemerintah di semua negara untuk tidak menyepelekan hal tersebut.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature Medicine, para peneliti di Spanyol, Amerika Serikat, dan Inggris menyurvei 13.400 orang di 19 negara yang terpukul oleh Covid-19. Mereka menemukan bahwa 72 persen dari mereka akan diimunisasi, 14 persen akan menolak, dan 14 persen ragu-ragu.

Ketika ditelisik kemungkinan penolakan vaksinasi pada seluruh populasi, jumlahnya bisa mencapai puluhan juta orang. Ilmuwan mengatakan, temuan ini harus menjadi seruan untuk bertindak bagi komunitas kesehatan internasional.

“Jika kami tidak mulai membangun literasi vaksin dan memulihkan kepercayaan publik pada sains saat ini, kami tidak dapat berharap untuk menahan pandemi ini,” kata rekan penulis Heidi Larson yang menjalankan Proyek Kepercayaan Vaksin di London School of Hygiene and Tropical Medicine dilansir laman Health 24.

photo
Petugas medis menscreening warga saat proses simulasi uji coba vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/10).  - (Prayogi/Republika)

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang paling tidak percaya pada pemerintah cenderung tidak menerima vaksin. Bahkan, mereka yang pernah kena Covid-19 cenderung tidak merespons secara positif.

“Kami menemukan bahwa masalah keraguan terhadap vaksin sangat terkait dengan kurangnya kepercayaan pada pemerintah,” kata koordinator studi Jeffrey Lazarus dari Barcelona Institute for Global Health.

Kecepatan perkembangan vaksin telah menimbulkan kekhawatiran di beberapa negara. Apalagi, Rusia pada Agustus mengeklaim bahwa mereka akan mulai meluncurkan vaksin Sputnik V sebelum uji coba fase 3. Klaim tersebut mendapat banyak kritik. Sebab, terlalu prematur untuk menyebut bahwa vaksin sudah tersedia. 

Mungkinkah Vaksin BCG Bisa?

Vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) merupakan vaksin yang biasa digunakan untuk memberikan perlindungan terhadap tuberkulosis (TB). Akan tetapi, vaksin yang pertama kali dikembangkan pada 1921 ini ternyata memiliki potensi yang lebih besar.

Hal ini diungkapkan dalam sebuah studi yang dilakukan tim peneliti dari University of Exeter. Studi tersebut menemukan bukti bahwa vaksin BCG bisa ‘melatih’ sistem imun untuk melindungi tubuh dari beragam virus selain TB.

“BCG telah terbukti meningkatkan kekebalan dengan cara yang umum yang mungkin dapat memberi beberapa perlindungan terhadap Covid-19,” jelas Profesor John Campbell dari Univesity of Exeter Medical School, seperti dilansir Independent.

Untuk membuktikannya, tim peneliti saat ini sedang berpartisipasi dalam uji coba pemberian vaksin BCG secara global pada 10 ribu orang partisipan. Melalui studi ini, tim peneliti ingin mengukur apakah vaksin BCG dapat menurunkan infeksi virus korona atau keparahan gejala dari Covid-19.

photo
Petugas medis mendata warga saat proses simulasi uji coba vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/10). Pemerintah Kota Depok menggelar simulasi vaksinasi Covid-19 yang dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam rangka kesiapan pemberian layanan vaksinasi Covid-19. - (Prayogi/Republika)

“Bila berhasil, kita bisa menyelamatkan banyak nyawa dengan memberikan atau menambah vaksinasi yang sudah tersedia dan hemat biaya ini,” ujar Profesor Campbell.

Vaksin BCG biasanya diberikan melalui injeksi di bagian lengan atas. Pemberian vaksin ini bisa meninggalkan bekas luka yang kecil. TB merupakan infeksi bakteri serius yang menyerang paru-paru dan terkadang bagian tubuh lain. Beberapa contohnya adalah tulang, sendi, dan ginjal.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, vaksin BCG bisa meningkatkan kekebalan umum pada tubuh. Kekebalan umum ini terbukti melindungi tubuh dari berbagai macam penyakit. 

Dia mencontohkan, di Afrika, vaksinasi BCG ternyata mengurangi cukup banyak kematian akibat radang paru-paru. Selain itu, di Belanda, vaksin ini berhasil mengurangi kemungkinan seseorang terpapar penyakit yellow fever.

“Kekebalan umum, (kemungkinan) memperbaiki sistem imun kita untuk melawan Covid-19. Tapi, apakah berhasil atau tidak, belum tentu. Ini masih teori. Tapi, lumayan yang diuji kan 10 ribu orang, jadi kita harapkan cepat ada hasilnya,” kata Zubairi.

Zubairi menambahkan, penelitian terhadap vaksin BCG untuk Covid-19 ini juga sudah beberapa bulan lalu dipimpin oleh universitas di Australia. Penelitian internasional ini juga dilakukan Belanda, Spanyol, dan Brasil.


,
×