Lukisan Kota Kasablanka, Maroko, pada abad ke-19. | DOK WIKIPEDIA
25 Oct 2020, 05:15 WIB

Jejak Sejarah di Kota Kasablanka

Dalam bahasa Spanyol, sebutan itu menjadi Casa Blanca. Dari sanalah nama Kasablanka berasal.

OLEH HASANUL RIZQA

Kasablanka adalah satu simpul multibudaya di Afrika Utara. Dahulu bernama Anfa, kawasan permukiman ini memiliki riwayat panjang. Hingga kini, kota terbesar di Kerajaan Islam Maroko itu terus berkembang pesat.

Kota Bukit di Barat Jauh

 

Terkait

Maroko merupakan salah satu negara mayoritas Muslim di Benua Afrika. Nama resminya adalah al-Mamlakah al-Maghribiyyah (harfiah: ‘Kerajaan Barat’). Sejak zaman Kekhalifahan Rasyidin, negeri itu berjulukan al-Maghrib al-Aqsha, ‘Barat Jauh’, karena letaknya paling barat di seluruh kawasan Maghribi —yang mencakup lima negara modern: Libya, Tunisia, Aljazair, Mauritania, dan Maroko.

Meskipun Maroko beribu kota di Rabat, kota terbesarnya adalah Kasablanka. Menurut sensus pemerintah setempat pada 2014, daerah permukiman yang berbatasan dengan Samudra Atlantik itu memiliki populasi 3.359.818 jiwa atau sekitar lima kali lipat daripada Rabat. Jumlah itu tidak hanya menjadikannya kota berpenduduk terbanyak di seluruh Maroko, tetapi juga region Maghribi.

photo
Letak geografis Maroko dalam peta modern. - (Tangkapan layar)

Keunggulan Kasablanka bukan pada sisi demografis saja, melainkan juga sejarahnya yang merentang panjang. Kota tersebut didirikan bangsa Berber sekitar abad 10 sebelum Masehi (SM). Mereka menamakannya Anaffa atau Anfa, yang berarti ‘kota bukit'.

Kemasyhurannya menarik ambisi kerajaan di sekitarnya. Bangsa Fenisia kemudian merebut Anfa dari orang-orang Berber. Selama ratusan tahun, kota itu dibangun sebagai salah satu bandar yang ramai di pesisir Afrika Utara.

Antara abad kesembilan dan kedua SM, bangsa maritim itu mengendalikan jalur perdagangan maritim di Mediterania selatan. Saingan terbesarnya adalah Romawi. Sejak 264 SM, kedua belah pihak terlibat dalam berbagai pertempuran besar.

Kerajaan yang berpusat di Roma, Italia, itu akhirnya berhasil membumihanguskan pusat pemerintahan bangsa Fenisia di Kartago pada 146 SM setelah pengepungan tiga tahun lamanya. Mulai saat itu, Romawi dapat mencaplok satu per satu wilayah strategis di pantai Afrika Utara, termasuk Anfa.

Sejak abad pertama SM, Anfa dikuasai Roma. Namanya diubah menjadi Anfus. Octavianus Augustus mengembangkannya sebagai salah satu kota perdagangan termaju pada masanya. Hal itu sesuai dengan visi besar dari kaisar pertama Imperium Roma tersebut, yakni Pax Romana, ‘Romawi Raya'.

Pada era kekuasaannya, seluruh pesisir Mediterania—yang terhampar di dataran Eropa, Asia, maupun Afrika—berada dalam kendali Roma. Hingga abad kelima Masehi, orang-orang Romawi sering menyebut Laut Tengah sebagai Mare Nostrum, ‘Laut Kita'.

photo
Kota Kasablanka di Maroko dahulunya bernama Anfa. Dibangun sejak abad ke-10 sebelum Masehi, kota itu kian berkembang pada zaman Imperium Romawi - (DOK WIKIPEDIA)

Kaisar Romawi membangun sejumlah infrastruktur pendukung untuk menghubungkan Anfus dengan Iles Purpuraires. Kepulauan itu terletak sekitar 350 kilometer arah barat daya Anfus. Pulau terbesarnya bernama Magador.

Dari sana, orang-orang Roma mendapatkan pasokan bahan baku pewarna ungu alami. Ungu merupakan warna utama untuk pakaian kebesaran mereka, toga picta. Toga ungu awalnya dipakai para jenderal hanya pada momen-momen tertentu, semisal kemenangan Roma atas musuh-musuhnya. Belakangan, baju tersebut menjadi busana resmi seorang kaisar.

Konsolidasi kekuasaan Roma atas Anfus terus dilakukan terutama dalam masa pemerintahan Kaisar Tiberius (14-37 M) dan Caligula (37-41 M). Menurut sejarawan yang juga penulis buku Descrittione dell’Africa (Deskripsi Afrika) Joannes Leo Africanus (1494-1554 M), para kaisar Roma membangun benteng hingga ke kawasan kota pelabuhan tersebut. Benteng itu tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga tapal batas wilayah Mauretania Tingitana, salah satu provinsi Romawi di pesisir Afrika Utara.

Potret pentingnya Anfus bagi perekonomian imperium tersebut antara lain tampak dari sebuah temuan arkeologis, yakni rongsokan kapal karam di lepas pantai Kasablanka. Di antara puing-puing kapal itu, terdapat 169 keping koin perak yang diyakini berasal dari abad kedua Masehi.

Ajaran Kristen mungkin belum sampai ke seluruh kawasan Maghribi pada abad ketiga. Namun, sejak Kaisar Konstantinus Agung mengakui Kristen pada 312 M penyampaian agama itu pun kian terasa. Barulah pada abad kelima atau keenam, beberapa komunitas Kristen mulai terbentuk di Anfus.

photo
Koin Romawi Raja Juba II mirip dengan yang ditemukan di pelabuhan Anfa. - (DOK Wikipedia)

Romulus Augustulus menjadi kaisar terakhir yang bertakhta di Roma. Pada September 476 M, ia dikalahkan oleh Raja Odovacar dari Germania. Kekalahan itu sekaligus menandakan tamatnya riwayat Kekaisaran Romawi Barat setelah eksis lima abad lamanya.

Untuk selanjutnya, sentra Imperium Romawi pun bergeser ke timur, tepatnya di kota yang dibangun Konstantinus Agung sejak 324, Konstantinopel. Dari sana, Kerajaan Romawi Timur atau Bizantium terus berdiri hingga kelak ditaklukkan Muslimin pada 29 Mei 1453 M.

Sejak abad kelima, beberapa provinsi Romawi di barat Laut Tengah jatuh ke tangan bangsa Vandal. Mereka mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Kartago. Keadaannya berubah begitu Perang Vandal meletus pada 534.

Melalui palagan tersebut, Kaisar Yustinianus yang Agung mengawali upaya perebutan kembali wilayah Romawi Barat yang hilang di pesisir Afrika Utara. Pertempuran itu akhirnya dimenangkan Bizantium. Tatkala Kaisar Maurikius mulai memimpin Bizantium pada akhir 580-an, wilayah-wilayah di sana diperintah para wali raja atau ekskarkat.

Di antara pelbagai kota dan daerah yang berhasil direbut kembali Romawi Timur ialah Anfus. Para ekskarkat setempat dari generasi ke generasi terus berkhidmat pada Konstantinopel.

Syiar Islam

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, belum banyak wilayah di Benua Afrika yang disinari Islam. Dakwah agama ini masih sebatas kawasan Tanduk Afrika (Horn of Africa), tepatnya Habasyah—sebutan Arab untuk Kerajaan Aksum. Barulah pada era Khulafaur Rasyidin, syiarnya melebar ke Afrika Utara.

Ekspansi Islam terus berlanjut hingga masa Kekhalifahan Umayyah pada abad ketujuh. Pada 681 M, al-Maghrib al-Aqsha alias Maroko akhirnya menjadi bagian dari kedaulatan Muslim.

Pada 744 M, persekutuan suku-suku Berber Barghawata terbentuk di pesisir Maroko. Aliansi ini lantas terlibat dalam pemberontakan Khawarij Shufriyah untuk melawan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, penguasa Dinasti Umayyah kala itu. Kudeta lokal tersebut berjalan sukses sehingga Barghawata dapat membentuk negara-kota yang independen di sekitar Rabat.

Beberapa tahun kemudian, Anfus berhasil direbut. Nama bandar tersebut dipulihkan menjadi Anfa, sebagaimana dahulu bangsa Berber menamakannya. Dalam catatan Leo Africanus, selama tiga abad Barghawata menjadikan Anfa sebagai “kota paling makmur di seluruh pantai Atlantik". Salah satu penyebabnya, lanjut dia, ialah masyarakat setempat yang begitu produktif dalam mengolah kesuburan tanahnya.

 
Selama tiga abad Barghawata menjadikan Anfa sebagai “kota paling makmur di seluruh pantai Atlantik".
 
 

Sebelumnya, Barghawata sudah menjadi salah satu kelompok Berber yang memeluk Islam. Bagaimanapun, keislaman mereka cenderung sinkretis karena masih mencampurbaurkan ajaran Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW dengan kepercayaan lokal.

Bahkan, pada masa raja kedua mereka, yakni Shalih bin Tharif, penyimpangan yang terjadi lebih jauh lagi. Menurut sumber Ibnu Khaldun (1332-1406 M), Kerajaan Barghawata saat itu “mengarang” mushaf Alquran mereka sendiri, yang terdiri atas 80 “surah” dan berbahasa Berber. Shalih sampai-sampai mendaku dirinya sebagai nabi baru atau Imam Mahdi.

Pada abad ke-11, Anfa jatuh ke dalam genggaman Dinasti al-Murabithun atau Almoravid. Kerajaan yang berpusat di Marrakesh itu memerlukan waktu 80 tahun sebelum dapat sepenuhnya menghalau Barghawata dari kota pelabuhan tersebut.

 
Pada abad ke-11, Anfa jatuh ke dalam genggaman Dinasti al-Murabithun atau Almoravid.
 
 

Sultan al-Murabithun Abdul Mu'min (1094-1163 M) lantas mengisi populasi Anfa dengan suku-suku Arab Badui, terutama dari kalangan Bani Hilal dan Bani Sulaym.

Umur Kerajaan al-Murabithun hanya 100 tahun. Setelah gagal memadamkan berbagai pemberontakan, kekuasaannya tergantikan oleh Dinasti al-Muwahhidun pada April 1147 M. Kesultanan yang diperintah bangsa Berber Muslim itu tidak hanya menguasai Maroko, tetapi juga sebagian Andalusia (Spanyol). Anfa menjadi salah satu pelabuhan andalan mereka dalam menyokong perekonomian dan pertahanan negeri.

Memasuki pertengahan abad ke-13, al-Muwahhidun semakin tidak sanggup mengatasi persoalan separatisme di daerah-daerah kekuasaannya. Keadaan yang lemah itu dimanfaatkan Bani Marin untuk merebut pusat pemerintahan.

Pada 1244, berakhirlah riwayat al-Muwahhidun. Dinasti Marinid berkuasa hingga dua abad berikutnya atas seluruh Maroko, termasuk Anfa.

Sepanjang abad ke-14, Anfa kian tumbuh menjadi kota pelabuhan yang makmur di kawasan utara Benua Hitam. Berbagai komoditas diperdagangkan di sana, seperti emas, perak, rempah-rempah, dan budak belia. Pada permulaan abad ke-15, Dinasti Marinid mulai kehilangan kontrol atas bandar tersebut.

Anfa kemudian dikuasai kelompok bajak laut dari suku bangsa Berber. Mereka sering kali merompak armada kapal non-Muslim yang melewati perairan utara Maghribi.

Kala itu, sejumlah bangsa Eropa-Kristen begitu antusias untuk menemukan jalur rempah-rempah ke Asia. Bangsa Portugis termasuk yang paling sering melayarkan armada untuk mencapai India melalui rute Iberia-Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Dalam perjalanannya, mereka kerap dihalangi para bajak laut, termasuk yang bermarkas di Anfa.

Pada 1468, kota tersebut akhirnya diserang Portugis. Atas perintah Raja Afonso V, bandar tersebut dibuat rata dengan tanah. Sekitar 50 tahun kemudian, kerajaan Katolik itu membangun sebuah benteng militer di pantai Anfa.

Setelah itu, kawasan perdesaan mulai tumbuh di area sekitarnya. Para pendatang mendirikan rumah-rumah dengan warna dominan putih. Orang-orang Portugis pun menyebut daerah itu Casa Branca, yang berarti ‘rumah putih'. Dalam bahasa Spanyol, sebutan itu menjadi Casa Blanca. Dari sanalah nama Kasablanka berasal.

 
Orang-orang Portugis pun menyebut daerah itu Casa Branca, yang berarti ‘rumah putih'.
 
 

Tidak seperti para penguasa Portugis sebelumnya, Raja Sebastian (1554-1578 M) tak cukup berdaya untuk mengatasi kekuatan Muslim di Afrika Utara. Bangsa Katolik itu akhirnya kalah dalam Perang Alcacer Quibir pada 1578 di Maroko utara.

Dinasti Saadi kemudian menguasai sebagian besar al-Maghrib al-Aqsha, termasuk Kasablanka. Selanjutnya, Spanyol mencaplok sebagian Maroko. Antara tahun 1580 dan 1640, kota pesisir itu menjadi menjadi salah satu sumber pemasukan utama kerajaan Katolik saingan Portugis tersebut.

Namun, pamor Kasablanka mulai surut sejak akhir abad ke-17. Pada medio abad ke-18, semakin sedikit orang Spanyol yang menetap di bandar itu. Sekitar tahun 1755, gempa bumi mengguncang Kasablanka dan sekitarnya. Pelabuhan yang dahulunya menjadi rebutan berbagai rezim penguasa, kini terbengkalai dan sepi.

photo
Lukisan pertempuran utama yang terjadi di Moroko utara, di dekat kota Ksar-el-Kebir antara Tangier dan Fez, pada 4 Agustus 1578. Pertempuran ini terjadi antara Abu Abdallah Mohammed II Saadi, dari dinasti Saadi, dengan sekutunya Raja Sebastian dari Portugal, melawan pasukan Moroko di bawah Sultan Moroko - (DOK Wikipedia)


×