Hikmah Republika Hari ini | Republika
24 Oct 2020, 03:35 WIB

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana, ketika kita mampu memberi apa yang kita miliki dengan hati ikhlas.

OLEH MOCH HISYAM

Setiap orang punya definisi tentang kebahagiaannya masing-masing. Ada yang menganggap kebahagiaan adalah ketika semua tujuan hidup mampu tercapai. Ada yang menilai kebahagiaan adalah ketika berhasil menyelesaikan semua masalah, ketika mendapatkan sesuatu dari orang tersayang, dan lainnya.

Sayangnya, banyak orang kemudian lupa bahwa ada banyak hal di dunia ini yang patut disyukuri. Hal-hal kecil dan tampak sederhana pun sebenarnya merupakan suatu yang membahagiakan.

Salah satu kebahagiaan yang begitu sederhana yang diajarkan Islam kepada kita, tapi efeknya begitu luar biasa ke dalam hati dan jiwa kita, adalah saat kita bisa memberi kebaikan pada orang lain. Meski yang kita berikan kepada orang lain tidak besar, kita lakukan hal itu dengan ikhlas dan kemudian orang yang kita beri merasa bahagia dengan pemberian kita, diri kita merasakan kebahagiaan yang tak mampu kita lontarkan dengan kata-kata.

Terkait

Hal itu karena kebahagian terletak di dalam hati. Jika hati kita puas dengan apa yang kita lakukan, hati kita akan merasakan kebahagiaan. Penelitian akademis dan sejarah manusia selama ribuan tahun telah menyatakan bahwa manusia akan mendapatkan arti, kepuasan, dan kebahagiaan hidup saat membuat orang lain bahagia, bukan berpusat pada diri sendiri.

Tindakan memberi akan membangkitkan rasa berharga pada diri sendiri dan membawa kebahagiaan. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kebahagiaan berkaitan erat dengan seberapa besar rasa syukur yang kita naikkan, sementara ketidakbahagiaan bersumber dari keinginan diri sendiri mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan di dalam diri kita.

Pembicara internasional dalam bidang studi Islam dan spiritual, Yasmin Mogahed, mengatakan, “Manusia memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi selain kebahagiaan fisik. Kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan spiritual yakni kebahagiaan hati dan jiwa. Tingkat kebahagiaan yang tinggi ini hanya bisa datang melalui hubungan kita dengan Allah. Di antaranya, dengan meningkatkan rasa syukur kepada Allah.

Dalam ajaran Islam, memberi termasuk bagian dari akhlak mulia yang mendatangkan kebahagiaan yang berlanjut dan abadi. Bahagia dunia kemudian bahagia di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat Muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini--Masjid Nabawi--selama sebulan penuh.” (HR Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jaami’ no. 176).

Untuk bisa memberi tidak harus menunggu kaya, tidak juga menunggu gelar akademik berderet karena memberi tidak berkaitan erat dengan kekayaan dan gelar yang berderet. Namun, berhubungan erat dengan kemurahan hati.

Hendaknya kita membina hati kita dan niscaya kita akan bahagia karena bahagia itu sederhana yaitu ketika kita mampu memberi apa yang kita miliki dengan hati yang ikhlas. Wallahu a'lam.


,
×