Hikmah Republika Hari ini | Republika
30 Nov 2020, 05:30 WIB

Ancaman Bagi Pemimpin Abai

Sedekahnya pemimpin bukanlah uang, melainkan kebijakannya.

 

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Dari Ibnu Umar RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.

Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.” (HR Muslim).

Terkait

Postulat di atas menjadi warning dan “alarm” bagi siapa saja yang dapat amanah menjadi seorang pemimpin, di manapun. Agar, senantiasa memiliki kesadaran optimal akan tanggung jawabnya yang besar kepada yang dipimpinnya.

Tidak lalai dan abai kepada bawahannya. Tidak zalim dan semena-semana kepada rakyatnya. Karena inilah yang membedakan pemimpin dengan pecundang. Pemimpin yang dicintai selalu tampil terdepan ketika ada masalah. Selalu berani pasang badan untuk membela kepentingan bawahannya. Karena pemimpin yang baik itu tahu siapa yang harus dibela.

Karena itulah, sedekahnya pemimpin bukanlah uang, melainkan kebijakannya. Karena dari sanalah kita semua berharap ada solusi terbaik atas kebijakan dan aksi nyata yang diambil. Pun, juga dari sanalah, kita berharap ada perubahan lebih baik dari sebelumnya.

Kebijakan pemimpin yang adil sangat dinantikan. Baik dalam kondisi normal, lebih-lebih kondisi darurat. Tak ada kebijakan yang mampu memuaskan semua pihak. Namun, pastikan kebijakan yang diambil mampu mengubah keadaan lebih dari sebelumnya.

Kita bisa baca beberapa hadis yang menyatakan ancaman bagi pemimpin yang zalim dan abai. Seperti dalam hadis berikut: “Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah): Orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR Muslim).

“Siapa pun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR Ahmad). “Barang siapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Para pemimpin di manapun berada hendaknya selalu takut kepada Allah. Jika mindset ini menjadi fondasi kepemimpinannya, kerusakan dan segala bentuk kezaliman itu tidak akan terjadi.

Ridha-Nya adalah tujuan utamanya. Murka-Nya akan selalu dijauhinya. Model ini bisa menjadi pegangan bagi siapa pun yang ingin menjadi seorang pemimpin. Terutama sekali menjelang pilkada (pemilihan kepala daerah langsung) nanti.

Jadilah pemimpin yang dicintai, bukan dihujat dan dimurkai. Karena dengan energi cinta itulah pemimpin akan mampu membawa kehidupan yang jauh lebih baik. Pemimpin bisa menjadi pembawa perubahan. Pun, bisa menjadi pembawa petaka dan bencana jika abai dan tak paham siapa yang dibela. Wallahu a’lam.


,
×