Presiden AS Donald Trump menyapa pendukungnya di Pennsyilvania, Selasa (20/10). | EPA-EFE/DAVID MAXWELL
27 Nov 2020, 07:01 WIB

NYT: Trump Punya Rekening di Cina

Pengacara Trump menyebut rekening itu untuk menjajaki peluang bisnis hotel di Asia.

WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ternyata memiliki rekening di sebuah bank Cina. Namun, rekening tersebut tak dicantumkan dalam pengungkapan keuangan publik. 

The New York Times atau NYT menjadi media yang pertama kali melaporkan hal tersebut pada Rabu (21/10). Menurut laporan NYT , rekening itu dikelola Trump International Hotels Management. 

Pada 2013-2015, Trump membayar pajak sebesar 188.561 dolar AS kepada Cina. Catatan pajak tampaknya tak menjelaskan jumlah pasti uang yang terlibat dalam transaksi melalui rekening tersebut. Namun, mencantumkan pendapatan asing dalam laporan pajak di AS bersifat wajib. Trump International Hotels Management hanya melaporkan beberapa ribu dolar AS yang berasal dari Cina dalam beberapa tahun terakhir. 

Laman BBC menyebutkan, Trump mencela perusahaan AS yang melakukan bisnis dengan Cina. Ia juga bahkan memercikkan perang dagang antara AS dan Cina.

Terkait

Trump juga kritis terhadap pesaingnya di pemilihan presiden, Joe Biden. Trump bahkan menekankan sejumlah isu yang mengeklaim kedekatan Biden dengan Cina. Sementara pajak penghasilan dan laporan keuangan Biden menunjukkan ia tak memiliki urusan bisnis yang terkait Cina. 

photo
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato dalam kampanye di Pennsyilvania, Selasa (20/10). - (EPA-EFE/DAVID MAXWELL)

Pengacara Trump Organization Alan Garten mengatakan kepada NYT bahwa perusahaan Trump memang memiliki rekening bank di Cina. Namun, dia menolak menyebutkan nama bank tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Garten mengatakan, Trump International Hotels membuka rekening di bank Cina yang berkantor di AS untuk membayar pajak lokal. Garten mengatakan, perusahaan telah membuka rekening setelah sebuah kantor dibuka di Cina untuk menjajaki potensi kesepakatan hotel di Asia. 

“Tidak ada kesepakatan, transaksi, atau aktivitas bisnis lainnya yang pernah terwujud dan sejak 2015 kantor tetap tidak aktif,” kata Garten, dikutip laman the Independent. Menurut dia, meskipun rekening bank tetap terbuka, ia tidak pernah digunakan untuk tujuan lain. 

Soal pajak

Pada 27 September lalu, NYT melaporkan tentang praktik pengemplangan pajak yang dilakukan Trump. Disebutkan bahwa Trump hanya membayar pajak pendapatan sebesar 750 dolar AS pada 2016 dan 2017. Kabar itu segera memicu gelombang kritik mengingat kekayaan serta jaringan bisnis yang dimiliki Trump. Informasi itu diperoleh NYT dari data pembayaran pajak. 

Pada 2016, yakni ketika Trump memenangkan kontestasi Pilpres AS, dia hanya menyetor pajak pendapatan sebesar 750 dolar AS. Kemudian pada 2017, tahun pertama Trump menjalani masa jabatannya sebagai presiden, ia tetap membayar pajak dengan nominal serupa. Trump bahkan disebut tak membayar pajak penghasilan apa pun dalam 10 dari 15 tahun sebelumnya.

Menurut NYT , Trump mampu meminimalkan tagihan pajaknya dengan melaporkan kerugian besar di seluruh jaringan bisnisnya. Pada 2018, misalnya, Trump mengeklaim menelan kerugian sebesar 47,4 juta dolar AS. Namun, dalam pengungkapan keuangan tahun itu, dia memiliki pendapatan sebesar 434,9 juta dolar AS. 

NYT  mengaku telah memiliki data pajak penghasilan Trump dan perusahaan dalam organisasi bisnisnya untuk kurun dua dekade terakhir. Namun, dokumen tersebut hanya menjabarkan apa yang dikatakan Trump kepada pemerintah tentang bisnisnya dan tidak mengungkapkan kekayaan aslinya. 

Menurut NYT , Trump pun sedang berjuang melawan Internal Revenue Service (IRS) atas pajak pendapatan yang dia klaim hampir 73 juta dolar AS. Itu merupakan total pajak penghasilan yang dia bayarkan dari 2005 hingga 2008, plus bunga. Jika IRS menyatakan pembayaran dana pajak itu tidak valid, Trump harus membayar kembali uang itu dengan bunga dan kemungkinan penalti. Totalnya bisa melebihi 100 juta dolar AS. 

Trump telah membantah laporan yang disusun dan dipublikasikan NYT. Dia menyebutnya sebagai berita bohong. "Sebenarnya saya membayar pajak dan Anda akan melihatnya segera setelah pengembalian pajak saya selesai," kata Trump kepada awak media di Gedung Putih saat itu, dikutip laman USA Today. Dia mengungkapkan saat ini IRS melakukan audit terhadapnya. 

"Itu sedang diaudit. Mereka sudah lama diaudit. IRS tidak memperlakukan saya dengan baik," ujarnya.

Tiba-Tiba Akhiri Wawancara 

Sementara, Presiden Donald Trump tiba-tiba mengakhiri wawancara dalam acara "60 Minutes" di stasiun televisi CBS News. Saat itu wawancara dilakukan Lesley Stahl di Gedung Putih dan baru berlangsung 45 menit. 

Alasan Trump berhenti, ia yakin sudah memberikan materi yang cukup untuk mereka gunakan. Pada Rabu (21/10), CNN International melaporkan CBS News belum merespons permintaan komentar. 

Sementara Gedung Putih tidak menyangkal saat dikonfirmasi mengenai hal ini. Lalu Trump menuduh Stahl tidak memakai masker. Ia juga mengunggah video singkat di Twitter yang menunjukkan Stahl tidak memakai masker ketika berada di Gedung Putih. 

Orang yang mengetahui situasi ini mengatakan gambar ini diambil saat Stahl bergabung dengan produsernya. Itu dilakukan sesaat setelah Trump mengakhiri wawancara. 

Saat itu Stahl belum sempat mengambil barang-barang pribadinya dan memakai masker. Namun, Stahl memakai masker sejak awal masuk Gedung Putih hingga sesaat sebelum wawancara dimulai. 


,
×