Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10). | EPA-EFE/DITA ALANGKARA
30 Nov 2020, 05:12 WIB

Antara Dua Poros

Perseteruan dua poros dunia ini mesti menjadi peluang menguntungkan bagi Indonesia.

 

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, bakal ada perubahan perimbangan perekonomian dunia dalam jangka panjang. Poros perekonomian global akan terjadi pergeseran.

IMF memprediksi, Republik Rakyat Cina (RRC) akan memimpin perekonomian dunia dalam beberapa tahun mendatang. Posisi ini menjadikan RRC menggeser AS.

Laporan IMF yang bertajuk "World Economic Outlook: A Long and Difficult Ascent" itu menunjukkan, kontribusi Cina pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia bakal melesat menjadi 26,8 persen pada 2021. Penguatan berlanjut pada 2025 menjadi 27,7 persen.

Terkait

Menurut hitungan Bloomberg, kontribusi RRC lebih tinggi 15-17 persen dari sumbangan AS yang selama ini merupakan kekuatan ekonomi terbesar sejagat.

Mendasarkan hitungan pada power purchasing parity (PPP), perekonomian RRC tercatat senilai 24,2 triliun dolar AS. Jelas capaian ini melambungkan RRC di atas AS yang 20,8 triliun dolar AS.

Pada 2021, IMF memperkirakan pertumbuhan PDB global 5,2 persen. Capaian ini setelah mengalami kontraksi akibat pandemi pada 2020. Pertumbuhan ekonomi Cina dan India diproyeksikan IMF bakal melesat di atas 8 persen. Adapun Indonesia pada 2021, diprediksi tumbuh 6,2 persen setelah susut 1,5 persen tahun ini.

Menurut Direktur Penelitian IMF Gita Gopinath, ekonomi global akan mulai pulih selepas pandemi. Namun, peningkatan pertumbuhan ekonomi ini kemungkinan tidak bisa cepat. Persebarannya pun tidak merata di semua negara.

IMF juga memprediksi Indonesia menjadi penyumbang signifikan bagi pertumbuhan PDB dunia. Kontribusi Indonesia terhadap PDB global tahun depan diprediksi 2,9 persen. Pertumbuhan ini di atas Prancis dan Inggris, masing-masing 2,6 persen.

Pandemi Covid-19 yang sekarang mendera 216 negara, memang menjadi tantangan besar. Masing-masing negara dengan koalisinya berupaya tetap bertahan. Mereka membuat persekutuan agar arus perekonomian tetap bergerak ketika perdagangan global seret karena faktor pengunci pandemi Covid-19.

 
Penanganan pandemi Covid-19 yang sukses akan membawa masyarakat yang sehat. Penduduk yang sehat akan membawa pada produktivitas.
 
 

Perang dagang poros Cina dengan AS sepanjang tahun lalu tetap terasa pada masa pagebluk global ini. Tentu, posisi Indonesia berperan vital dalam dua poros tersebut. Prediksi IMF tentang peran besar Indonesia dalam percaturan ekonomi pada masa tiga hingga lima tahun ke depan di kawasan akan menjadi rebutan.

Bagi para pemangku kepentingan di dalam negeri, prediksi IMF tersebut merupakan cambuk, bagaimana mewujudkannya menjadi nyata. Indonesia berperan besar dalam perekonomian global hingga posisi geopolitik.

Tak sedikit ekonom yang memprediksi faktor demografi Indonesia menjadi kata kunci merealisasikan prediksi IMF itu. Penanganan pandemi Covid-19 yang sukses akan membawa masyarakat yang sehat. Penduduk yang sehat akan membawa pada produktivitas.

Lekas pulihnya kesehatan masyarakat berujung pada pemulihan ekonomi yang cepat. Pemulihan ini sangat terbantu oleh konsumsi masyarakat yang besar. Jumlah penduduk yang 267 juta jiwa ini merupakan pasar yang menggiurkan.

Tak hanya bagi pasar regional, tapi jelas yang utama adalah memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Di tengah tekanan pandemi global, kondisi perekonomian Indonesia sejatinya relatif lebih baik ketimbang deretan negara tetangga.

Mereka mengalami kontraksi ekonomi lebih dalam. Dalam konteks ini, Indonesia diuntungkan karena berada di garis awal yang lebih menguntungkan. Tinggal bagaimana para pemangku kepentingan memanfaatkan peluang ini.

 
Perseteruan dua poros dunia ini mesti menjadi peluang menguntungkan bagi Indonesia. Mendiversifikasi mitra ekonomi sekaligus politik menjadi keniscayaan. 
 
 

Kunjungan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga yang bertemu Presiden Joko Widodo pada Selasa (21/10), memperkuat peran penting Indonesia di kawasan. Selain kerja sama penanggulangan pandemi dan sinergi perekonomian, kerja sama pertahanan menjadi salah satu pembahasan antara Suga dan Jokowi.

PM Suga ingin menekankan, Asia Tenggara penting bagi Jepang. Agresivitas Cina di Asia Tenggara menjadi ancaman bagi Jepang. Negeri Sakura merasa perlu meningkatkan kerja sama pertahanan dan keamanan dengan Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN.

Dalam beberapa sisi, Jepang menjadi semacam kepanjangan poros AS di Asia. Cengkeraman Jepang di ASEAN berarti pula tancapan pengaruh bagi AS. Perang dagang AS dan Cina bisa makin menguat di ASEAN pada masa pandemi ini.

Jepang bisa memerankan tugas penting di kawasan, sekaligus merangkul wilayah ini secara mandiri. Politik bebas aktif tentu menjadi pijakan kebijakan luar negeri Indonesia.

Perseteruan dua poros dunia ini mesti menjadi peluang menguntungkan bagi Indonesia. Mendiversifikasi mitra ekonomi sekaligus politik menjadi keniscayaan. Di antara dua kekuatan dunia yang berebut pengaruh itu, Indonesia mesti bisa membagi peran keduanya. 


,
×