Sumayyah Meehan memutuskan untuk masuk Islam setelah sempat mempelajari agama ini. Saat pertama kali membaca terjemahan Alquran, ia mengaku takjub. | About Islam
26 Nov 2020, 03:20 WIB

Sumayyah Meehan, Alquran Menyentuh Hatinya

Perempuan asal Amerika Serikat ini mendalami Islam sejak ditantang untuk membaca terjemahan Alquran.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Bagi orang yang lahir dan tumbuh dari keluarga Muslim, memeluk Islam barangkali adalah suatu keniscayaan. Namun, keadaannya cukup berbeda untuk orang-orang yang menemukan hidayah saat dewasa.

Umumnya, mereka akan merasa bahwa menjadi Muslim adalah perjuangan tersendiri. Rasanya berat, tetapi harus dilalui dengan pendirian yang kuat.

Sumayyah Meehan berprofesi sebagai jurnalis. Dia sudah menjalani keyakinannya sebagai Muslimah selama 25 tahun. "Perjalanan menemukan Islam dimulai ketika masih menjadi mahasiswi berusia 19 tahun yang duduk di kamar asrama, merenungkan dunia yang berbeda," katanya, sebagaimana dilansir About Islam beberapa waktu lalu.

Terkait

Meehan ketika itu menimba ilmu hukum di Universitas Waynesburg, Pensylvania. Masa muda dilaluinya dengan berbagai kebersamaan, tak terkecuali di tempat hiburan. Pada suatu malam, dia berkumpul bersama teman-temannya.

Ketika itu dia menyaksikan mereka sedang mabuk-mabukan hingga kehilangan kesadaran. Bahkan, sebagian saling bertengkar satu sama lain. Baru kali ini Meehan menyaksikan langsung dampak buruk dari mengonsumsi alkohol. Sejak itu, dia menyadari minuman yang memabukkan memang harus dihindari.

Semakin bertambah usia, Meehan kian menyadari pentingnya menjaga keimanan. Ini adalah sesuatu yang tak pernah sungguh-sungguh ditekuninya, termasuk ketika berada di rumah. Namun, sekarang berbeda. Jauh dari rumah, tinggal di perantauan membuatnya merasa harus memenuhi kebutuhan spiritual.

“Saya merasakan panggilan Tuhan, memenuhi panggilan-Nya adalah jalan keselamatan dari dosa-dosa,” jelasnya.

 
Saya merasakan panggilan Tuhan, memenuhi panggilan-Nya adalah jalan keselamatan dari dosa-dosa
 
 

Dalam usaha tersebut, dia mengunjungi beberapa gereja di dekat kampus. Setiap kali merasa tidak puas dengan suatu khotbah, dia pun mulai berhenti untuk hadir. Namun, dia harus merasakan keresahan batin yang tak kunjung usai.

Hingga suatu saat, Meehan mulai mendengar tentang agama Islam. Ia pun mulai mencari tahu seluk beluk kepercayaan tersebut dari berbagai literatur.

Ketika itu, Meehan menjalani studi sarjana di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS). Masa liburan tiba. Orang-orang melaluinya dengan penuh kegembiraan. Ada yang asyik dengan jalan-jalan, ada pula yang memilih berkumpul bersama keluarga.

Sementara, Meehan sendiri lebih suka menghabiskan waktunya untuk menemukan ketenangan batin. Saat pergi ke gereja, hatinya masih juga bertanya-tanya tentang konsep Tuhan. Mengapa harus berakhir di tiang salib? Bagaimana bisa Tuhan membiarkan anak satu-satunya berakhir dengan tragis?

Persoalan itu membuatnya selalu bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Dadanya terasa sesak, sehingga harus berbaring di tempat tidur. "Yang saya khawatirkan adalah penghujatan. Saya mencari tentang seberapa banyak yang saya tahu tentang agama Kristen dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar percaya atau tidak,” tutur dia.

Meski dibaptis, Meehan dan keluarganya menjalani kehidupan yang tidak begitu religius. Jarang sekali seisi rumah pergi bersama-sama ke gereja. Satu-satunya waktu pergi ke tempat ibadah itu adalah tatkala liburan. Dan, kini ia menghabiskan masa liburan di perantauan.

Akibatnya, ada perasaan hampa dalam hatinya. Bukan karena jauh dari keluarga, melainkan batinnya yang terus bertanya-tanya perihal Tuhan dalam agamanya.

Ketika liburan musim dingin berlalu, dia kembali ke kampus untuk menyelesaikan semester terakhir sebelum liburan musim panas. Ini adalah kesempatannya untuk mempelajari keimanannya.

photo
Sumayyah Meehan tak pernah menyangka sebelumnya bahwa di dalam Alquran terdapat kisah Nabi Isa AS dan Maria (Maryam). Bahkan, sebuah surah dinamakan sesuai dengan nama ibunda nabi tersebut - (About Islam)

Memulai pencarian

Beberapa bulan kemudian, Meehan masih melanjutkan pencarian batin dengan mengunjungi sejumlah gereja Presbiterian. Itu dilakukannya selama beberapa pekan. Kemudian, pindah ke Lutheran, Baptis, Methodis, dan seterusnya. Namun, tetap saja dirinya tidak menemukan khotbah-khotbah yang meyakinkan.

Ia sampai pada satu titik yang sangat kosong. Sempat mengalami depresi berat, Meehan tidak mengerti mengenai dirinya sendiri. Tebersit di pikirannya untuk menjadi seorang ateis, tetapi cepat-cepat gejolak itu ditampiknya. Sebab, jauh di dasar sanubarinya ia masih meyakini adanya Zat Yang Mahakuasa, yang menciptakan dan memerintah umat manusia.

"Saya tidak dapat menemukan jawaban untuk pertanyaan. Saya jatuh ke dalam kegelapan sehingga mempertanyakan setiap aspek kehidupan," jelasnya.

Cahaya hidayah baru menyinari hatinya setelah satu tahun kemudian. Pada 1993, dia bertemu dengan seorang pria yang kebetulan adalah seorang Muslim. Namanya, Abid. Sebelumnya Meehan memang mengetahui sedikit tentang Islam dari sekolah menengah.

“Cukup mengejutkan, kami telah belajar tentang Nabi Muhammad (SAW) di kelas sejarah dunia. Jadi, saya bisa bercakap-cakap sedikit dengan Abid tentang Islam, dan dia mengajari saya prinsip-prinsip dasar ajaran Islam," tutur Meehan.

Awalnya, perempuan ini merasa skeptis. Semua yang pernah didengarnya dari berita-berita tentang Muslim selalu buruk. Media secara rutin menggambarkan para penganut Islam sebagai teroris dan gemar menindas perempuan. Lama kelamaan, dia pun meyakini hal itu.

Akhirnya, Meehan berupaya menemukan perspektif yang berbeda. Ia pun mengambil kelas tentang feminisme. Buku rujukannya mengulas tentang perempuan dalam pandangan Islam. Kebanyakan, kajian-kajian itu memandang Islam secara sinis. Dalam pembahasan itu, agama ini bahkan digambarkan sebagai musuh perempuan.

Maka begitu berjumpa kembali dengan Abid, pertanyaan yang diajukannya adalah bagaimana sesungguhnya kaum perempuan diperlakukan dalam Islam. Lelaki itu menjelaskan, wanita dimuliakan dalam agama ini. Sebagai contoh, mereka diizinkan untuk shalat di masjid, tetapi terpisah dari pria karena masalah kesopanan untuk kedua jenis kelamin.

Bagi Meehan, ini pemahaman yang baru dan menarik perhatian. Ia pun mulai mempertimbangkan tentang Islam. Sayangnya, saat semangat dirinya sedang menggebu-gebu dalam mengenal Islam, Abid mesti dipanggil pulang ke negara asalnya, Kuwait. Kebetulan, ayahnya jatuh sakit sehingga harus ada yang merawat. Jadilah Meehan seorang diri untuk lebih jauh memahami Islam.

Jarak AS-Kuwait bukanlah kendala. Ia masih tetap berhubungan melalui telepon dan sering kali mereka terlibat perdebatan tentang agama masing-masing. Abid pun menantangnya untuk membaca Alquran. Sebab, kitab itu adalah sumber ajaran Islam.

“Saya menerima tantangan itu, dan tidak tahu bahwa itu akhirnya mengubah hidup saya selamanya," ucap Meehan.

 
Saya menerima tantangan itu, dan tidak tahu bahwa itu akhirnya mengubah hidup saya selamanya.
 
 

Terpesona Alquran

Menemukan mushaf Alquran terjemahan dalam bahasa Inggris ternyata cukup menantang. Apalagi, kota tempat tinggal Meehan tidak memiliki masjid sama sekali. Di sana, yang ada hanyalah gereja sebagai tempat peribadahan. Sumber literasi pun sebatas toko buku Kristen, yang tidak mungkin menjual buku selain perihal agama tersebut.

Tidak ada tempat untuk membeli salinan mushaf Alquran. Meehan tidak menyerah. Ia pun mencarinya di perpustakaan kampus. Begitu mengetik kata Alquran di komputer setempat, dirinya terkejut. Alquran ternyata dikelompokkan bukan di rak buku teologi, melainkan buku anak-anak.

“Saya berjalan ke ruang bawah tanah di mana rak buku anak-anak itu berada dan menemukan (mushaf) Alquran yang kotor dan sobek di sana-sini. Letaknya ada di antara dua buku dongeng!” kenangnya.

Alquran itu terlihat tak terawat. Sepertinya memang tak banyak orang membacanya. Tak heran jika debu tebal menutupi kitab suci itu. Meehan membersihkannya dan mulai membacanya.

“Pustakawan di sana tampak terkejut ketika menandatangani kertas peminjaman. Seolah-olah saya telah melakukan dosa di hadapannya! Saya memasukkan Alquran itu ke dalam ransel dan segera berjalan pulang ke asrama," tutur dia.

Ia ingat, Abid telah memberinya instruksi ketat untuk bersuci terlebih dahulu sebelum menyentuh Alquran. Baginya saat itu, anjuran kawannya terdengar aneh. Sebab, toh Alkitab di rumahnya hanya ditinggalkan begitu saja di meja kopi. Kitab tersebut, menurutnya, tidak dihormati sebagaimana Alquran.

Melalui sambungan telepon, Abid memintanya untuk berwudhu. Tentu, Meehan tidak mengerti cara melakukan itu. Ia berinisiatif untuk mandi saja sehingga seluruh tubuhnya bersih dan wangi. Barulah sesudah itu, ia mulai memegang dan membuka Alquran—untuk pertama kali dalam hidupnya.

Untuk beberapa alasan, dia tidak membukanya dari halaman satu, melainkan tengah. Pandangan matanya tertuju pada terjemahan surah al-Ahqaf ayat 15. Artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).”

Meehan pun tertegun. Ia merasa, kata-kata itu sungguh luar biasa dalam maknanya. Kemudian, ia membolik-balik halaman. Semua ayat yang dibacanya membuatnya tersenyum.

Meehan benar-benar terperangah. Kisah Nabi Musa dan Nuh ternyata ada di dalam Alquran. Begitu juga Nabi Isa (Yesus) dan ibunya, Maria. Bahkan, ada sebuah surah yang dinamakan Maryam. Kenyataan itu membuatnya terpesona pada Alquran.

 
Bahkan, ada sebuah surah yang dinamakan Maryam. Kenyataan itu membuatnya terpesona pada Alquran.
 
 

Pengalaman itu diceritakannya kepada Abid. Dari suaranya di sambungan telepon, tergambar rona gembira kawannya itu nun jauh di Kuwait sana. Setahun kemudian, tepatnya pada 1995 Abid berkesempatan untuk pergi ke AS. Suatu hari, pria itu melamar Meehan untuk sudi menikah dengannya. Waktu itu, gadis asal Pensylvania tersebut masih beragama Nasrani.

Setelah menjadi seorang istri, Meehan terus berkomitmen untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Perlahan-lahan, hatinya mulai terbuka untuk menerima iman itu seluruhnya. “Setelah pernikahan, kami pindah ke Kuwait. Saya mengucapkan syahadat di sana pada tahun 1996. Bahagia rasanya!” ungkapnya.

Tinggal di sebuah negara Timur Tengah membuatnya suka cita. Sebab, ada banyak sekali masjid. Tempat tinggalnya pun dikelilingi oleh saudara Muslim.


,
×