Sejumlah santri beraktivitas di kawasan Pondok Pesantren Gratis Yatim dan Dhuafa Nurul Huda, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/6/2020). Pemerintah Jawa Barat telah mengeluarkan izin untuk Pondok Pesantren yang terdata berada di zona biru dan Zona Hijau pand | ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI

Khazanah

15 Oct 2020, 04:32 WIB

Pesantren Inspirasi Pembangunan SDM Bangsa

Pemerintah mendapatkan amanat yang lebih besar untuk memperhatikan pesantren.

JAKARTA – Pemerintah dan masyarakat diharapkan mendukung peningkatan kapasitas pesantren. Harapannya, pesantren menjadi lebih mandiri, sehingga semakin menginspirasi pembangunan SDM bangsa.

Dalam sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Di sinilah sumber daya manusia digembleng. Diisi dengan ilmu agama yang meliputi akidah, fikih, akhlak, dan sejarah. Kemudian dilatih berbagai keterampilan, seperti berpidato, menulis, kaligrafi, berorganisasi, dan banyak lagi.

Selain itu juga dibiasakan berakhlak mulia. Mereka dibiasakan menghormati guru, bersabar, jujur, amanah, dan sifat mulia lainnya. Dengan begitu, mereka memiliki bekal untuk membangun masyarakat dan menjadikan kualitas kehidupan mereka semakin baik.

Dalam buku Bilik-Bilik Pesantren Nurcholish Madjid menjelaskan, seandainya Nusantara tidak dijajah, maka saat ini, sistem pendidikan yang ada di negeri ini hanyalah pesantren. Sekolah yang terkenal adalah Pesantren Tremas di pacitan yang usianya sudah beberapa abad. Kemudian Lirboyo, Tebuireng, dan pesantren tua lainnya.

Pesantren menjadi tonggak bangsa. Dari lembaga pendidikan tersebut, seperti HOS Cokroaminoto yang mendirikan Sarekat Islam, KH Yusuf Hasyim dengan Hizbullahnya yang melawan komunisme, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Noer Ali, dan banyak lagi. Merekalah yang melawan penjajah, membangun dasar Negara, dan menjadi ruh perjuangan bangsa.

Anggota MPR, KH Hilmi Muhammad, menegaskan hal itu saat menjadi salah satu narasumber dalam Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Seri ke-3 bertema "Strategi Pengembangan Pendidikan Pesantren Pasca Lahirnya UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019" yang digelar secara virtual, Selasa (13/10). 

Ia pun mengapresiasi kebijakan yang telah dilakukan Kementerian Agama untuk pesantren. Melalui UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, menurut dia, pemerintah dan khususnya Kemenag mendapatkan amanat yang lebih besar untuk memperhatikan dunia pesantren. 

"Di antaranya (memperhatikan) dalam memberikan insentif untuk menjamin kemandirian ekonomi pesantren, ini tidak bisa tidak, baik itu (insentif) dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan seterusnya," ujar Kiai Hilmy.

Ia menegaskan, diperlukan pembukaan dan penguatan jaringan oleh Kemenag untuk pesantren yang mengembangkan peternakan, pertanian, dan perikanan. Pesantren-pesantren tersebut perlu dihubungkan ke kementerian yang mengurusi pertanian dan peternakan. Pihak yang menghubungkannya bisa pemerintah daerah atau Kemenag di tingkat pusat.

Ia juga mengusulkan adanya koperasi pesantren. Koperasi pesantren, menurut Kiai Hilmy, diperlukan untuk menjamin dan mengupayakan kesejahteraan seluruh warga pesantren. Kemenag juga bisa mengupayakan peningkatan kapasitas pesantren melalui penciptaan klaster ekonomi dan pendidikan.

 
Misalnya ada pesantren yang gemar bergerak di bidang peternakan, jadikan pesantren itu model pembinaan
KH HILMI MUHAMMAD, Anggota MPR
 

 

"Misalnya ada pesantren yang gemar bergerak di bidang peternakan, jadikan pesantren itu model pembinaan," ungkap dia saat menyampaikan materi bertema ‘’Peningkatan Kapasitas Pesantren’’. 

Selanjutnya, pesantren besar yang berhasil mengembangkan peternakan atau pertanian bisa bekerja sama dengan pesantren-pesantren kecil di sekitarnya. Artinya, pesantren yang besar dan hebat bisa memayungi pesantren kecil dalam bidang tertentu, misalnya di bidang pertanian atau peternakan. 

Selain itu, ia mengusulkan agar kiai diberi insentif pengembangan ekonomi agar mereka bisa lebih terfokus dalam mengajar. 

Muktamar Pemikiran Santri Nusantara merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri 2020 yang bertema "Santri Sehat Indonesia Kuat". Adapun narasumber yang diundang dalam sesi ini di antaranya Kiai Reza Ahmad Zahid (pengasuh Ponpes al-Mahrusyiah Lirboyo, Kediri), Kiai Hilmy Muhammad, Kiai Lukman Hakim Dimyati Attarmasy, dan Ulil Abshar Abdalla. Acara dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Imam Safe'i. 

Pada forum tersebut, Pengasuh Ponpes al-Mahrusyiah Lirboyo, Kediri, Kiai Reza Ahmad Zahid menyampaikan, pesantren berkembang mengikuti perkembangan zaman meski prinsipnya tetap sama seperti dulu. Oleh karena itu, ia yakin pesantren akan tetap ada sampai hari kiamat. "Pesantren adalah salah satu lembaga tertua di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini," ujar dia. 

Kiai Reza menerangkan, prinsip utama pesantren adalah tafaquh fidin atau mendalami ilmu agama. Apa pun perkembangan yang terjadi di lingkungan pesantren, perubahan tersebut tidak pernah sampai mengubah prinsip dan spirit pesantren.

Pesantren tetap menjalani pendidikan dengan sistem asrama. Masjid menjadi sentra kegiatannya. Kiai dan ulama adalah panutannya, dan masyarakat sekitar adalah anshar yang mendukung kelangsungan pendidikan pesantren.

 
Pesantren tetap menjalani pendidikan dengan sistem asrama. Masjid menjadi sentra kegiatannya.
 
 

Jika dicermati, perubahan di lingkungan pesantren, bukanlah yang akan menggeser pesantren. Salah satu contoh, perkembangan pada sistem dan metode pendidikan di pesantren. 

"Dulu, sistem mentransformasikan ilmu dengan cara bandongan, kiai memberikan pengajian kepada santrinya dan mereka (para santri) mendengarkan kiai tersebut. Sorogan, santri mendatangi kiai, membawa kitab, mengaji di depan kiai, untuk di-tashih dan dibenarkan oleh kiai," ujarnya. 

Dua metode belajar itu masih ada sampai sekarang dan saat ini bertambah lagi dengan sistem madaris juga pembelajaran secara daring dan virtual. "Sekarang banyak kita temukan kiai di media sosial, mereka buat pesantren di grup WA dan secara virtual," kata Kiai Reza. 

Ada pula penambahan materi ajar di pesantren, tapi itu tidak menghilangkan materi dasar pesantren yang sudah ada sejak dulu. "Semua perkembangan itu tidak mengubah prinsip pesantren yang sudah mengakar dan membudaya."


×