Murid kelas VIII berangkat menuju sekolah di SMPN 1 Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (14/10). Dinas Pendidikan Klaten menunjuk lima sekolah menengah pertama untuk ujicoba pembelajaran tatap muka. | Wihdan Hidayat / Republika
15 Oct 2020, 05:00 WIB

Yogyakarta Pertimbangkan Buka Sekolah

Penyebaran Covid-19 di Kota Yogyakarta yang melandai jadi pertimbangan sekolah.

YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mempertimbangkan memulai sistem pembelajaran secara tatap muka untuk para siswa sekolah. Kondisi penyebaran Covid-19 di Kota Yogyakarta dinilai sudah landai yang ditunjukkan dengan turunnya angka kasus baru positif Covid-19.

"Jadi kondisi demikian, harus menjadi pertimbangan untuk membuka kelas tatap muka. Sebab, siswa sekolah di Kota Yogya banyak juga yang berasal dari daerah sekitar," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, Rabu (14/10).

Heroe menyebut, dimulainya sistem tatap muka ini harus melalui persetujuan orang tua. Hingga saat ini, Kota Yogyakarta sendiri masih menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah berjalan sejak Maret lalu. "Belum semua orang tua sepakat dilakukan sekolah tatap muka," ujar Heroe.

Walaupun begitu, kata Heroe, sudah ada beberapa sekolah yang mulai menjalankan sistem pembelajaran secara tatap muka dengan sangat terbatas. Para siswa juga, kata dia, meskipun tidak di sekolah, mereka sudah bertemu di rumah atau tempat-tempat pertemuan belajar bersama.

Terkait

photo
Guru mengecek suhu tubuh siswa di SMPN 1 Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (14/10). Dinas Pendidikan Klaten menunjuk lima sekolah menengah pertama untuk ujicoba pembelajaran tatap muka. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Ia mencontohkan seperti pelajar yang masih kesulitan dalam mengakses PJJ. "Seperti baca tulis dan hitung, setiap sekolah membuka konsultasi bagi siswa yang kesulitan masalah peralatan daring atau kesulitan akses pembelajarannya. Tetapi dibatasi maksimal setiap pertemuan hanya 10 siswa dengan protokol kesehatan yang ketat," katanya.

Dalam beberapa hari terakhir, kasus baru Covid-19 di Kota Yogyakarta berada di bawah angka 11 kasus. Pada 11 Oktober lalu, kasus baru yang dilaporkan hanya satu kasus, sedangkan pada Rabu (14/10), bertambah empat kasus baru . 

Sementara, Kabupaten Sleman masih menunjukkan tren penambahan kasus yang meningkat. Bahkan, pada Oktober, ditemukan dua klaster baru penularan Covid-19, yaitu klaster pondok pesantren dan klaster perkantoran.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 untuk DIY, Berty Murtiningsih mengatakan, ada 26 kasus baru positif yang dilaporkan pada Rabu kemarin. Penambahan itu menjadikan total kasus positif di DIY sebanyak 3.171 kasus. Berty menyebut, 26 kasus itu tersebar di seluruh kabupaten dan kota di DIY. Tertinggi dilaporkan di Sleman yang mencapai 11 kasus.

"Tujuh kasus baru dilaporkan di Gunungkidul, empat kasus baru di Kota Yogyakarta, tiga kasus baru di Bantul dan satu kasus baru di Kulon Progo," kata Berty.

photo
Hand sanitizer diletakkan di depan kelas SMPN 1 Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (14/10). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Jateng waspada

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan, pihaknya terus mewaspadai klaster penyebaran Covid-19 di pondok pesantren dan sekolah dengan melakukan berbagai tindakan preventif. "Hingga saat ini, dua klaster itu mendominasi kasus Covid-19, di samping sejumlah klaster lain yang masih ditemui kasus korona," kata di Semarang, kemarin.

Yulianto memaparkan, hingga saat ini ada sebanyak 648 kasus dari klaster pondok pesantren dan sekolah. Jika dua klaster ini bisa ditangani dengan baik, kata dia, maka penurunan kasus akan signifikan. Untuk klaster pondok pesantren, kata dia, tersebar di Kebumen, Banyumas, dan daerah lain.

Pondok pesantren bersama pemerintah setempat telah mengambil langkah cepat seperti lockdown di lokasi ponpes dan santri yang berada di dalam ponpes tidak boleh keluar. "Demikian juga sebaliknya, yang berada di luar ponpes dilarang masuk," ujarnya. 

Sumber : Antara


×