Subroto | Daan Yahya | Republika
15 Oct 2020, 05:00 WIB

Ditawari ‘Standing Party‘

Pemandu liputan terkadang diperlukan menembus lokasi sulit.

Dulu sering menulis isu narkoba dan HIV/AIDS. Menurutku narkoba itu sangat berbahaya. Pembaca harus diedukasi agar tak terjerumus menggunakan barang haram itu.

Berdasarkan pengalamanku mewancarai banyak pengguna narkoba,  jalur masuknya biasanya melalui rokok. Setelah merokok, lalu mengisap ganja,  dan terakhir mengonsumsi putaw. Ujung-ujungnya, banyak juga yang tertular HIV/AIDS karena pengunaan jarum suntik yang bergantian saat memakai putaw, atau juga seks bebas. 

HIV/AIDS itu tak kalah berbahayanya dengan narkoba. Sampai sekarang belum ada obatnya.

Tahun 2004 aku dan sejumlah teman wartawan melakukan liputan di Makassar, Sulawesi Selatan. Kali ini aku akan menulis HIV/AIDS di kalangan waria.

Terkait

 

 
Mencari narasumber  waria bukan persoalan mudah bagiku. Apalagi aku bukan bagian dari mereka. 
 
 

 

Walaupun meliput bersama, kami punya fokus yang berbeda. Aku sengaja  ingin melihat bagaimana penularan dan pencegahan HIV AIDS di kalangan waria.  Ada teman yang fokus menulis wanita tuna susila.

Mencari narasumber waria bukan persoalan mudah bagiku. Apalagi aku bukan bagian dari mereka. Dan aku juga tidak pernah berhubungan dengan kalangan itu. Ditambah lagi, aku tidak tahu seluk beluk Kota Makassar. 

Untunglah kami berangkat dengan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Nasional (KPAN) yang memang punya jaringan sampai ke daerah. Melalui KPAN aku mendapat seorang pemandu liputan yang bisa membawaku ke komunitas waria yang ‘berjualan’ di Lapangan Karebosi. 

Pemanduku adalah seorang aktivis HIV/AIDS di Kota Makassar. Dia biasa melakukan penjangkauan progam HIV/AIDS kepada para transgender. Jadi aku mendapatkan orang yang tepat.

Karebosi adalah sebuah lapangan bola yang terletak di tengah Kota Makassar. Lokasinya berada di Jalan Ahmad Yani, sekitar 500 meter dari Benteng Fort Rotterdam. Kini dekat lapangan itu sudah berdiri mal besar.

Dulu, saat siang hari lapangan Karebosi digunakan sebagai tempat bermain bola dan aktifitas warga. Tapi ketika malam tiba, lapangan itu ‘dikuasai’ para waria.

Malam itu aku dijanjikan untuk bisa bertemu dengan narasumber di Lapangan Karebosi. Aku minta dua atau tiga  orang saja sudah cukup.

Kami masuk ke lapangan Karebosi yang gelap gulita. Di ujung lapangan aku duduk menunggu ditemani sang pemandu dan beberapa teman lain. Belum ada tanda-tanda ada orang yang menghampiri. 

 
Sepanjang wawancara  aku tidak  bisa tenang. Kalau terjadi apa-apa, mampuslah aku.
 
 

Sekitar 10 menit berlalu, tiba-tiba dari arah pinggir lapangan muncul satu orang. Tidak cuma satu, dua, tiga.. lima…Ada belasan rupanya. Aduh banyak sekali. Aku tanya ke pemanduku, mengapa begitu banyak? Dia hanya menjawab dengan mengangkat bahu.

Aku diperkenalkan oleh pemanduku. Dia mengatakan aku adalah wartawan yang akan menulis tentang HIV/AIDS. Satu-satu mereka menyalamiku yang masih kikuk.

“Awas jangan nulis macam-macam ya,” ancam seorang yang berbadan kecil berambut sebahu. Sepintas dia seperti wanita sungguhan.

Nggak Kak, saya cuma ingin dapat ceritanya saja,” jawabku.  

Wawancarapun dimulai. Aku minta tiga orang saja. Tapi yang lain tak mau pergi. Sambil duduk aku mewawancarai mereka. Ada yang duduk di hadapanku. Ada yang berdiri sambil berkacak pinggang. Ada yang hilir mudik jalan kesana kemari.

Yang paling geli, ada yang ikut duduk di sebelahku. Dia mengganggu sepanjang wawancara. Kadang-kadang dia menggelitik leherku dari belakang. Bukan cuma geli. Aku juga takut.

Sepanjang wawancara aku tidak bisa tenang. Kalau terjadi apa-apa, mampuslah aku. Bisa-bisa besok halaman koran di Makassar penuh dengan berita berjudul ‘Wartawan Republika Tewas di Tangan Bencong di Karebosi’. Alamaak..

Wawancara dilakukan seperti ngobrol-ngobrol saja. Aku pun tak mengeluarkan catatan dan alat perekam. Benar-benar mengandalkan ingatanku. Aku sungguh tak nyaman dengan situasi itu. Tapi aku merasa terbantu karena pemanduku adalah orang yang sangat dikenal mereka.

Wawancara tak berlangsung lama. Tapi sebelum mengakhiri obrolan itu aku menanyakan sesuatu yang sejak awal membuat aku ingin tahu.

“Maaf ya, pingin tahu aja. Di sini kan nggak ada tempat semacam  pondok gitu. Lalu... Ehm.. Kalau kalian berhubungan badan, di mana ya?”

Pertanyaanku disambut gelak tawa.

“Ya.. Masnya nggak pengalaman. Kita disini standing party,” jawab seorang yang berbadan besar. 

Hah standing party? Apa itu?” tanyaku polos.

Mereka tambah tertawa mendengar pertanyaanku.

Aku benar-benar tak tahu istilah itu. Sambil berbisik pemanduku menjelaskan bahwa standing party itu maksudnya berhubungan badan sambil berdiri. Oalah...Aku ikut tertawa ngakak, mengikuti mereka yang belum berhenti tertawa.

“Masnya mau coba sekarang?” tanya salah satu dari mereka sambil mendekatiku.  

“Ayo Mas, gratis.”

Dia mencoba memegang tanganku. Reflek kutepis tangannya. Tentu saja aku ketakukan. Tapi dia malah tertawa geli sambil terus berusaha memegang tanganku. Yang lain memberi semangat sambal terus tertawa.

Nggaak… Nggaak…. Jangaaan.,” teriakku sambil berlari keluar lapangan. Mereka semua terus tertawa tak henti-hentinya. 

Tips menggunakan pemandu liputan

Gunakan pemandu untuk masuk ke lingkungan yang kita tak kenal atau berbahaya

Usahakan menggunakan orang lokal

Pastikan bahwa pemandu memahami lingkungan yang akan kita masuki

Waspadai jika ada agenda tersendiri dari pemandu yang membelokkan arah liputan

Rundingkan dari awal jika pemandu meminta pembayaran atas jasanya


,
×