Dr Nina Lubis, penulis buku Kehidupan Kaum Menak Priangan. | Dokumentasi Pribadi
15 Oct 2020, 10:20 WIB

Wakafkan Buku, Harapkan Pahala

Ada kebahagiaan tersendiri menyaksikan respons pembaca yang luar biasa.

Semua berawal dari kewajiban menyelesaikan disertasi di Universitas Gadjah Mada. Berhadapan dengan dosen pembimbing yang dikenal perfeksionis, Sartono Kartodirdjo, Nina Herlina Lubis pun dituntut untuk menuliskan disertasinya dengan sempurna dan harus pula dilengkapi dengan berbagai sumber dari seluruh dunia.

Untuk menjawab tantangan itu, dia pun sempat memesan buku dari Amerika melalui situs Amazon, termasuk tinggal sementara di Belanda. Menurut Nina, memesan produk dari luar negeri kala itu belum semudah seperti sekarang.

Dari membaca sekian banyak buku, berkeliling Jawa Barat dan Banten, termasuk berburu sumber hingga ke berbagai belahan dunia, seperti London, Prancis, dan Belanda untuk menyempurnakan karyanya, Nina merasa cukup.

Awalnya, Nina memperlihatkan hasil penelitiannya setelah selama 3,5 tahun, namun sang pembimbing belum puas, sehingga kemudian disertasinya baru tuntas setelah lima tahun pada 1997 silam.

Terkait

Setelah ujian, hasilnya dirasa sangat mencengangkan. Bahkan salah satu penguji yakni Rektor UGM saat itu yang kebetulan menak Sunda, memberikan nilai istimewa. "Saya singgung mengenai kakeknya bahkan ada foto dari Belanda, foto rumah kakeknya, beliau sangat terharu sekali, dia bilang 'Saya nggak akan menguji, saya kasih A plus'," ujar Nina mengenang.

Memang tidak ada proses yang mengkhianati hasil. Kini, sosoknya dikenal dengan nama Prof Dr Hj Nina Herlina Lubis atau Nina Lubis, seorang Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran. Disertasinya pun telah berwujud buku berjudul  Kehidupan Kaum Menak Priangan.

Seiring waktu, semakin banyak yang mencari Menak Priangan sebagai referensi untuk penelitian mereka. Buku tersebut juga wajib dibaca di beberapa universitas.

Buku yang hanya dicetak 2.000 eksemplar sehingga saat sudah tak lagi beredar di pasaran itu bisa dibanderol dengan harga cukup fantastis sampai Rp 2,5 juta. "Pada 2010-an ada teman dari S3 Undip oleh promotornya disuruh baca buku itu, mencari untuk disertasi juga. Akhirnya mendapat di internet (dengan harga) Rp 2,5 juta padahal buku bekas saja. Ada lagi dari S3 UI, buku ini diwajibkan," ungkap Nina.

Itulah yang membuatnya bertekad untuk  mewakafkan bukunya. Di samping itu, Nina berharap bekal pahala dari kerelaannya berbagi ilmu terhadap orang yang memerlukan. Nina berpikir, orang memerlukannya untuk penelitian sehingga dia mewakafkan guna membantu orang yang memerlukan supaya tidak membeli mahal-mahal. "Saya sudah tua ingin sekali bisa berwakaf. Saya punya ilmu, sehingga dari karya berharap pahala," ujarnya.

Sejujurnya, ia mengaku tidak terlalu terkendala dalam mewakafkan buku. Buku tersebut hanya dibuat secara digital (e-book), kemudian ia memasukkan ke media sosial ataupun menginformasikannya lewat grup aplikasi percakapan WhatsApp agar siapa pun dapat mengakses buku eletronik ni.

Selain itu, perempuan yang kerap dijuluki "ibu dari pahlawan Tanah Pasundan" itu ingin memberi inspirasi kepada kawan sejarawan lainnya bahwa jika hendak menggratiskan buku, maka jadi  amal untuk penulis.

Respons terhadap peluncuran buku elektronik ini ternyata luar biasa. Tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Banyak pihak yang menilai sudah sangat jarang ada buku sejarah Tatar Sunda sekelas disertasi. Kabar wakaf buku ini cepat menyebar dan direspons dengan penuh kegembiraan.

Nina merasa sangat senang karena menghadiahkan karya yang tidak mudah membuatnya. Dia berharap siapa pun yang memerlukan buku ini dapat memeorolehnya gratis, mudah serta dapat menginspirasi kepada teman-teman profesor lain yang ingin menghadiahkan karyanya dengan gratis agar kelak menjadi pahala akhirat.

Selain buku, dia juga mewakafkan perpustakaan pribadinya. Perpustakaan milik perempuan kelahiran 1956 itu nantinya menyumbang kurang lebih 7.000 judul buku, majalah, dan lainnya. Perpustakaan ini dibuka untuk publik, terutama bagi calon sejarawan dan antropologi bahasa. "Saya pikir bekal untuk di akhirat, buat wasiat untuk diwakafkan ke perpustakaan universitas. Kalau ke rumah saya, agak jauh dari kampus. Ilmu ini kan untuk orang, bukan untuk dipendam sendiri," tuturnya.

 
Ilmu ini kan untuk orang, bukan untuk dipendam sendiri.
Dr Nina Lubis, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran
 

 

Hiburan Saat Pandemi

Cerita serupa juga datang dari Riniwaty Makmur. Dia membagikan buku elektronik karyanya berjudul 42 Hari Perjalanan secara gratis sejak Juli 2020. Buku 42 Hari Perjalanan menuturkan perjalanan yang Riniwaty lakukan ke Spanyol, Portugal, Brasil, Peru, Mekskco, dan Amerika Serikat. Selain itu, buku ini juga memuat berbagai informasi seputar tip berjalan-jalan.

"Ada tip-tip juga tentang menyiapkan rute atau itinerary (jadwal perjalanan), mencari hotel dan transportasi, persiapan sebagai solo traveller, seperti perlengkapan yang sebaiknya dibawa," jelas Riniwaty saat dihubungi Republika

Riniwaty terinspirasi untuk berbagi karyanya setelah melihat banyak orang saling berbagi foto-foto perjalanan di media sosial Facebook. Kala itu, banyak orang berbagi foto "nostalgia" perjalanan karena tak bisa melakukannya di masa pandemi. "Saya pikir bagus juga kalau saya bisa bagi kompilasi cerita-cerita saya itu dalam bentu PDF," ujar Riniwaty.

Riniwaty berharap hadirnya e-book gratis ini dapat menjadi hiburan bagi para pembaca di masa pandemi. Selain itu, Riniwaty juga berharap karyanya ini dapat memberikan inspirasi dan perspektif mengenai pengalaman yang dia lalu selama melakukan perjalanan.

Semua kisah dan tip perjalanan ini disampaikan dengan gaya penulisan yang ringan dan terasa dekat dengan pembaca. Riniwaty juga menyertakan berbagai foto hingga ilustrasi dan peta untuk menambah imajinasi pembaca.

Kombinasi tulisan yang ringan dan informatif serta foto-foto yang cantik dalam e-book ini dapat membuat pembaca merasa ikut dibawa "bertualang" bersama Riniwaty. Tiap halaman juga menyajikan pengalaman-pengalaman unik yang berbeda, sehingga terasa menyenangkan. Hal ini tentu dapat meringankan rasa rindu akan berjalan-jalan, mengingat perjalanan wisata merupakan hal yang tak dianjurkan di masa pandemi. "Pembaca PDF (e-book) saya kebanyakan bilang serasa mereka juga ikut jalan-jalan, dan itu membahagiakan bagi saya," jelas Riniwaty.

Selama proses penulisan, Riniwaty mengumpulkan berbagai tulisan-tulisan dan foto yang pernah dia unggah di media sosial. Setelah itu, dia menyusun semuanya ke dalam bentuk dokumen word dan mengubah formatnya menjadi PDF.

Proses ini menjadi tantangan tersendiri karena Riniwaty hanya bisa menggunakan dokumen word. Sering kali desain yang sudah dia buat bergeser, sehingga harus dia perbaiki berulang kali. Riniwaty hanya memerlukan  waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk menyelesaikan karya 42 Hari Perjalanan. "Lumayan ngebut, karena senang dan keasyikan sering lupa waktu sampai tengah malam mengerjakannya," lanjut Riniwaty.

Penulis yang saat ini mengaku sedang mengerjakan sebuah buku teks baru yang membahas komunikasi perusahaan itu mengatakan 42 Hari Perjalanan dia bagikan dalam bentuk link melalui e-mail atau surel. Surel ini akan dikirimkan setelah pembaca menghubungi Riniwaty. "Saya bagikan link kepada teman-teman lewat e-mail, jadi mereka mengakses ke drive saya di Google (melalui link itu)," ungkap Riniwaty.

Riniwaty pun menerima respons yang sangat bagus dari pembaca buku 42 Hari Perjalanan. Beberapa pembaca yang antusias turut menyebarkan tulisan karya Riniwaty ini kepada teman-temannya.

Seorang senior juga mengapresiasi karya Riniwaty ini dengan mengirimkan tulisan apresiasi yang panjang. Seorang teman bahkan mengirimkan dua buah masker batik yang dia jahit sendiri untuk Riniwaty sebagai bentuk apresiasi. "Respons pembaca sangat bagus ya, saya senang sekali," tutur Riniwaty.

 

Kehidupan Kaum Menak Priangan


×