Muslim Khasmir berdoa di masjid, Jumat (2/10). India saat ini mencatatkan jumlah pasien Covid-19 terbanyak kedua di dunia. | EPA-EFE/FAROOQ KHAN
07 Oct 2020, 02:00 WIB

WHO: Korona Tulari 10 Persen Populasi Dunia

Mayoritas populasi dunia dinilai amat rentan terhadap Covid-19 dan dampak yang ditimbulkannya.

JENEWA -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, gambaran kasar menunjukkan 10 persen populasi di dunia terinfeksi Covid-19. Mayoritas populasi dunia dinilai amat rentan terhadap Covid-19 dan dampak yang ditimbulkannya.  

"Perkiraan terbaru kami kali ini adalah sekitar 10 persen dari populasi global mungkin terjangkit infeksi virus (korona) ini. Angkanya memang bervariasi tergantung negaranya, bervariasi dari daerah perkotaan hingga desa, serta bervariasi juga tergantung kelompoknya. Namun ini artinya, mayoritas besar warga di dunia masih tetap menghadapi risiko," kata Direktur Eksekutif WHO bidang Program Kedaruratan, Mike Ryan, Senin (5/10).

"Kita mengarah pada periode sulit. Penyakit ini masih terus menyebar," katanya.

Ryan mengatakan, saat ini wabah meningkat di sejumlah tempat di Asia Tenggara. Sedangkan kasus baru dan kematian juga terlihat bertambah di Eropa dan kawasan Timur Tengah di bagian timur. 

Terkait

Paparan ini disampaikan di hadapan Badan Eksekutif WHO di Jenewa, Swiss. Di sana, Amerika Serikat (AS) sempat secara tersirat mengatakan bahwa Cina "gagal" memberikan informasi yang akurat dan cepat tentang wabah ini. AS di bawah Presiden Donald Trump memang mengumumkan menarik diri dari WHO dan keputusan ini efektif berlaku mulai Juli 2021. 

Asisten Menteri Kesehatan AS Brett Giroir mengatakan, amatlah penting bagi 194 anggota WHO untuk secara rutin menerima "perkembangan terbaru dan segera, termasuk bahan referensi untuk panel ini atau misi lapangan mana pun, sehingga kita semua bisa terlibat dalam proses dan merasa yakin akan hasilnya."

Namun, Komisi Kesehatan Nasional Cina Zhang Yang mengatakan, "Cina selalu transparan dan bertanggung jawab memenuhi kewajiban internasionalnya." Ia menambahkan bahwa Cina terus berbagi informasi dengan semua level badan kesehatan di bawah PBB. 

Dalam perkembangan lain, Cina dilaporkan sedang mengupayakan agar vaksin virus korona yang diproduksi secara lokal ditinjau oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Upaya ini sebagai langkah membuatnya tersedia untuk penggunaan internasional. 

Ratusan ribu pekerja esensial dan kelompok lain yang dianggap berisiko tinggi di Cina telah diberi vaksin yang dikembangkan lokal meskipun uji klinis belum sepenuhnya selesai. 

Cina memiliki setidaknya empat vaksin eksperimental dalam tahap akhir uji klinis. Dua vaksin dikembangkan China National Biotec Group (CNBG) yang didukung pemerintah, dan dua sisanya masing-masing dari Sinovac Biotech SVA.O dan CanSino Biologics. Vaksin-vaksin tersebut telah diuji di sejumlah negara.

Singapura tawarkan insentif

Sementara, Singapura menawarkan insentif untuk mendorong warganya memiliki anak selama masa pandemi. Angka insentif yang ditawarkan masih belum diumumkan. Namun, insentif ini adalah tambahan baru selain sejumlah bonus yang sudah ada atas kelahiran anak.

Menurut laporan laman BBC, Selasa (6/10), Pemerintah Singapura khawatir bahwa stress dan kekhawatiran akibat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat warga Singapura enggan memiliki anak. 

Singapura termasuk negara yang memiliki tingkat kelahiran terendah di dunia. Sudah puluhan tahun negeri ini berupaya meningkatkan jumlah populasi mereka. 

"Kami menerima masukan bahwa Covid-19 menyebabkan sejumlah pasangan orang tua menunda rencana memiliki anak," ujar Deputi Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat, Senin (5/10). 

Sejumlah negara menunjukkan penurunan tingkat kelahiran semasa pandemik. Di Cina bahkan menunjukkan angka kelahiran berada di titik terendah dalam 70 tahun terakhir. 

Hal ini berbeda jauh dengan Filipina dan Indonesia. Di kedua negara ini angka kelahiran justru meningkat setelah masa lockdown

Sumber : Reuters/AP


×