Poster bergambar Presiden RRC Xi Jinping terpasang di rumah warga di Xujiashan, Ganluo County. | AP/Andy Wong
24 Sep 2020, 05:00 WIB

Covid dan Bipolaritas Dunia

Akankah bipolaritas AS-Cina ini terus meruncing kala pandemi Covid-19 belum berakhir?

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, tahun ini digelar dengan cara tak biasa. Biasanya, kepala negara dan kepala pemerintahan secara bergiliran hadir untuk menyampaikan pidato, tapi kali ini pemandangan itu tak terlihat lagi.

Sidang Umum ke-75 PBB digelar secara virtual. Masing-masing negara mengirimkan rekaman pidato kepala negara atau kepala pemerintahan ke Sekretariat Jenderal PBB di New York.

Rekaman pidato tersebut lalu ditayangkan ulang berdasarkan urutan yang telah ditentukan. Kondisi pandemi Covid-19 yang belum mereda menjadi pertimbangan sidang umum ini digelar secara daring.

Rangkaian pidato kepala negara atau kepala pemerintahan biasanya dijadwalkan setiap Selasa pekan ketiga September. Sesuai konsensus selama puluhan tahun, Brasil menjadi negara pertama yang menyampaikan pandangan di Sidang Umum PBB sejak 1949, kecuali pada 1952-1954 dan 1983-1984.

Terkait

 
Perang retorika pun mencuat. Pada era kiwari, isu Covid-19 muncul. Bermula dari pidato Presiden Donald Trump yang menyatakan, Cina mesti bertanggung jawab atas terjadinya pagebluk Covid-19.
 
 

Setelah presiden Brasil, dilanjutkan presiden AS. AS mendapatkan giliran kedua karena status sebagai tuan rumah sidang umum. Lazimnya, sidang umum sebelum-sebelumnya, pidato kepala negara atau kepala pemerintahan memunculkan pro kontra.

Perang retorika pun mencuat. Pada era kiwari, isu Covid-19 muncul. Bermula dari pidato Presiden Donald Trump yang menyatakan, Cina mesti bertanggung jawab atas terjadinya pagebluk Covid-19.

Trump menyudutkan Cina dengan menuding telah mengizinkan penerbangan ke luar Cina, tapi mengunci perjalanan di dalam negeri. Kebijakan ini, dituding Trump, yang akhirnya membuat virus korona menginfeksi dunia.

"Kita harus meminta pertanggungjawaban negara yang melepaskan wabah ini ke dunia, Cina," kata Trump, Selasa (22/9) waktu setempat.

Sasaran Trump tak hanya Cina, tapi juga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Lembaga kesehatan dunia ini dituding Trump terlalu berpihak pada Cina. Tudingan itu pun dibantah Direktur WHO Gabby Ster. WHO tak pernah berada di bawah kendali negara tertentu.

Cina pun jelas menolak pernyataan keras Trump. Duta Besar Cina untuk PBB, Zhang Jan, menyebut tuduhan Trump itu tak berdasar. Zhang balik meminta pertanggungjawaban AS atas kehilangan begitu banyak nyawa karena Covid-19.

Zhang juga menegaskan tuduhan 'virus Cina' sebagai kebohongan. Pernyataan Trump di kancah virtual global jelas bukan asal-asalan. Trump dikenal sebagai pribadi yang ceplas-ceplos, tapi ungkapannya di Sidang Umum PBB berimplikasi diplomatik.

Kekhawatiran selanjutnya, akankah polarisasi dua kutub AS-Cina ini terus meruncing kala pandemi Covid-19 belum menemukan titik peluruhan? Apakah persaingan AS-Cina membawa destabilisasi pada dunia?

Dalam sambutannya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, jelas-jelas menyatakan, dunia tidak boleh diserahkan kepada persaingan AS-Cina. Rivalitas kedua negara mulai dari perdagangan hingga teknologi bakal makin sengit.

 
Kekhawatiran selanjutnya, akankah polarisasi dua kutub AS-Cina ini terus meruncing kala pandemi Covid-19 belum menemukan titik peluruhan? Apakah persaingan AS-Cina membawa destabilisasi pada dunia?
 
 

Sekjen PBB, Antonio Guterres, mengungkapkan kegundahan serupa. Jika rivalitas ini kian meruncing, dunia bergerak ke arah yang sangat berbahaya. Dunia jelas tak akan punya masa depan bila kedua negara itu membelah dunia menuju keretakan besar. Masing-masing hanya memikirkan kepentingan negaranya.

Keretakan besar dunia makin menganga karena rivalitas mengarah pada persaingan ekonomi dan teknologi yang tidak sehat. Bukan tidak mungkin persaingan AS-Cina ini berujung pada konflik geostrategis dan militer. Mereka yang membangun PBB dari awal jelas mengetahui makna dari persatuan karena telah hidup melalui perang dan pandemi. Upaya bipolar yang mengarah pada konflik militer mesti dicegah dengan segala cara.

Mempersempit perbedaan adalah keniscayaan pada era pandemi ini. Dialog dan negosiasi harus diutamakan. Mendorong peningkatan kerja sama dan solidaritas global di segala sektor menjadi misi mulia. Pandemi Covid-19 tidak bisa diselesaikan dengan perang vaksin. Zero sum game bukanlah pilihan.

Pidato Presiden Joko Widodo di Sidang Umum PBB menjadi solusi. Keprihatinan pada saat pandemi Covid-19 harus disikapi dengan memperkuat kerja sama. Bersatu dengan menggunakan pendekatan yang saling menguntungkan.

Kerja sama penanganan Covid-19 semestinya terus diperkuat, baik dari sisi kesehatan maupun dampak ekonomi. Vaksin memang akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi, dengan memastikan semua negara memperoleh akses setara dengan harga yang murah.

Dunia yang damai, stabil, dan sejahtera lebih utama ketimbang rivalitas bipolar AS-Cina hanya demi supremasi imajinatif.


,
×