(Ilustrasi) Imam Hambali merupakan seorang ahli fikih terbesar dalam sejarah peradaban Islam. Keteladanan telah memancar dari dirinya sejak usia dini | NEEDPIX

Kisah

20 Sep 2020, 17:49 WIB

Teladan dan Karamah Imam Hambali

Semakin tumbuh mendewasa, pribadi Imam Hambali pun kian menunjukkan keteladanan.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal merupakan seorang ulama terpenting dalam sejarah peradaban Islam. Umat Islam di Tanah Air biasa menyebutnya sebagai Imam Hambali.

Dialah ahli fikih sekaligus peletak dasar Mazhab Hambali, yang saat ini banyak diikuti Muslimin di Jazirah Arab. Kontribusinya tidak hanya di disiplin keilmuan fikih, melainkan juga hadis, tafsir, dan lain-lain.

Ahmad bin Hanbal disebut-sebut hafal tak kurang dari satu juta hadis. Bagaimanapun, kepakaran tak membuat dirinya tinggi hati. Kehidupannya tetap bersahaja. Sang alim selalu berpenampilan sederhana.

Ia lahir di Salam, Baghdad, pada 164 H atau November 780 M —sumber lain mengatakan tempat lahirnya ialah Merv, Asia Tengah (sekarang Turkmenistan). Dalam usia relatif muda, Ibnu Hanbal sudah menghafal keseluruhan Alquran. Kecerdasannya membuat para guru dan pengajar kagum.

Imam Syafii memberikan kesan, “Setelah saya keluar dari Baghdad, tak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih saleh, dan lebih berilmu daripada Ahmad bin Hanbal.” Alim kelahiran Gaza, Palestina, tersebut menjuluki muridnya itu sebagai “imam dalam delapan bidang".

“Ahmad bin Hanbal adalah imam dalam hadis, imam dalam fikih, imam dalam bahasa, imam dalam ilmu Alquran, imam dalam kefakiran, imam dalam kezuhudan, imam dalam sifat wara', dan imam dalam sunnah,” tutur Imam Syafi'i. Suatu pengakuan yang tulus dari seorang guru kepada murid yang dibanggakannya.

Sejak masih bayi, Imam Ahmad bin Hanbal sudah menjadi yatim. Ia dibesarkan oleh sang ibu yang hidup seorang diri. Dilihat dari nasabnya, ia merupakan keturunan Suku Shayban.

Sejak belia, dirinya terkenal sebagai anak yang alim, bersih, dan senang menyendiri untuk larut dalam membaca buku-buku. Kecintaan dan rasa takutnya kepada Allah SWT telah terpatri dalam hati nurani tokoh ini sejak dini.

 
Sejak belia, dirinya terkenal sebagai anak yang alim, bersih, dan senang menyendiri untuk larut dalam membaca buku-buku.
 
 

Syahdan, sang paman, suatu hari memintanya menjadi seorang informan untuk khalifah. Ia diminta untuk menyerahkan dokumen berisi informasi sejumlah orang untuk diserahkan ke kantor khalifah. Meski masih anak-anak, Ahmad bin Hanbal tahu apa yang dilakukannya adalah hal yang bertentangan dengan nurani.

Suatu hari sang paman menanyakan dokumen itu. "Aku tak akan menyerahkan dokumen itu dan aku telah membuangnya ke laut," tutur Ahmad bin Hanbal. Sang paman pun dibuat takjub dengan sikap dan keberanian keponakannya itu.

"Anak kecil ini ternyata sangat takut kepada Allah. Lalu, bagaimana dengan kita?" ucap sang paman dengan perasaan malu karena anak kecil ternyata lebih takut kepada Sang Khalik dibanding dirinya.

Semakin tumbuh mendewasa, pribadi Ibnu Hanbal pun kian menunjukkan keteladanan. Di puncak kariernya, ia menjadi tempat bertanya kaum Muslimin, termasuk sesama alim ulama dan kalangan pejabat. Meskipun namanya sudah sedemikian masyhur, dirinya tetap tawadhu.

Pada waktu itu, Dinasti Abbasiyah menjadi kekhalifahan Islam. Sayang sekali, pemimpin saat itu Khalifah al-Ma’mun terlalu ekstrem menggandrungi filsafat. Sampai-sampai, pemerintahannya memaksakan pandangan tentang Alquran kepada seluruh rakyat. Bagi al-Ma'mun, Alquran adalah makhluk. Suatu pandangan yang bertentangan dengan ilmu Islam.

Tak sedikit ulama yang dipaksa untuk sepaham dengannya. Imam Ahmad bin Hanbal pun sempat diuji oleh sang khalifah. Bersama sahabatnya, Muhammad ibnu Nuh, sang imam menolak untuk sepaham dengan penguasa. Menurutnya, Alquran adalah kalamullah, bukan makhluk. Setelah itu, dengan zalimnya Khalifah al-Ma’mun memasukkan Imam Hambali ke dalam penjara.

Situasi berubah sejak Khalifah al-Mutawakkil berkuasa. Sang penguasa baru itu menghentikan perdebatan mengenai Alquran. Status Imam Hambali pun dipulihkan.

Dalam masa inilah, terjadi kisah yang cukup legendaris. Suatu ketika, Imam Hambali sedang mengajar di majelis. Tak disangka, datanglah serombongan utusan al-Mutawakkil. Mereka meminta sang imam agar bersedia menemuinya.

Setelah mengucapkan salam, mereka mengabarkan bahwa kerabat Khalifah al-Mutawakkil yang bernama Jariyah tak henti-hentinya meracau. Kuat dugaan, Jariyah kerasukan jin.

Maka dari itu, sang khalifah memohon kepada Imam Hambali untuk memberikan solusi. Setidaknya, minta didoakan agar Jariyah lepas dari gangguan makhluk halus itu.

Sesudah itu, Imam Hambali mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa. Usai bermunajat, sang imam mengambil sepasang sandalnya dan berkata kepada para utusan itu.

 
Usai bermunajat, sang imam mengambil sepasang sandalnya dan berkata kepada para utusan itu.
 
 

“Bawalah ini ke kediaman amirul mu'minin dan taruhlah sandal saya di sebelah kepala Jariyah. Kemudian, beri tahukan kepadanya (jin) bahwa Ahmad bin Hanbal menyuruhmu untuk pergi,” demikian tutur Imam Hambali.

Setelah itu, rombongan ini kembali ke istana untuk menemui Khalifah al-Mutawakkil. Amanat Imam Hambali pun disampaikan kepada sang raja. Sesuai anjuran sang imam, Khalifah lantas mengambil sandal pemberian tersebut dan menaruhnya di dekat kepala kerabatnya itu.

“Keluarlah dari tubuh saudaraku ini atau aku akan memukulmu dengan sandal ini sampai 70 kali!” seru al-Mutawakkil.

Tiba-tiba, jin menjawab melalui lisan Jariyah, “Sungguh, aku mendengar dan taat. Seandainya Ahmad bin Hanbal menyuruhku pergi dari Irak, aku pasti akan menuruti perintahnya. Sungguh, dia itu seorang hamba Allah yang taat kepada Tuhannya. Barangsiapa yang taat kepada Allah, maka kami akan takut kepadanya.”

Akhirnya, keluarlah jin tersebut dari tubuh Jariyah. Sang kerabat sultan kembali dalam sadar.


×