Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
21 Oct 2020, 07:57 WIB

Ijtihad Otoritas Ekonomi

Ekosistem otoritas ekonomi harus dapat menyerap aspirasi bangsa dan negara sebagai suatu tujuan.

OLEH ADIWARMAN KARIM

Tobias Adrian dan Ashraf Khan, peneliti Dana Moneter Internasional (IMF), dalam artikel mereka, “Central Bank Accountability, Independence, and Transparency” menyampaikan perlunya central bank transparency code yang baru untuk memastikan agar kemandirian bank sentral selalu dibarengi dengan transparansi dan akuntabilitas. Makin besar kemandirian makin besar pula tuntutan transparansi dan akuntabilitas.

Rumusan ini sebenarnya juga berlaku bagi otoritas ekonomi lainnya. Kewenangan selalu beriringan dengan transparansi dan akuntabilitas. Leigh Paulden, konsultan manajemen, dalam artikelnya “Accountability vs responsibility vs authority” menjelaskan pentingnya hal ini untuk menjaga keseimbangan ketiganya.  

Kewenangan yang besar tanpa tanggung jawab yang besar pula akan menimbulkan authority gap. Sebaliknya, tanggung jawab yang besar tanpa kewenangan yang besar akan menimbulkan power gap. Kewenangan dan tanggung jawab yang besar tanpa akuntabilitas yang besar akan menimbulkan empathy gap.

Terkait

George Loewenstein, profesor Universitas Carnegie Mellon, dalam penelitiannya, “Emotions in Economic Theory and Economic Behavior”, menjelaskan pentingnya faktor perasaan dalam perilaku ekonomi yang menimbulkan kesulitan memahami suatu masalah dari perspektif lain. Lebih mudah minta dipahami daripada memahami perspektif orang lain. Inilah empathy gap.

Carl Walsh, profesor Universitas California Santa Cruz, dalam artikelnya “Central Bank Independence”, menjelaskan dinamika hubungan kemandirian dan akuntabilitas suatu bank sentral. Stabilitas nilai mata uang dan inflasi tidak terpisahkan dari indikator makroekonomi lainnya.

Grilli, Masciandaro, dan Tabellini, profesor Universitas Bocconi, dalam artikel mereka “Political and monetary institutions and public financial policies in the industrial countries”, membagi kemandirian bank sentral menjadi political independence, yaitu kemandirian dari tekanan politik dan economic independence, yaitu kemandirian dari target-target ekonomi selain indikator moneter.

Guy Debelle dan Stanley Fischer, ahli bank sentral Australia dan AS, dalam artikel mereka, “How independent should a central bank be?”, menjelaskan dua aspek kemandirian bank sentral. Pertama, goal independence, yaitu kemandirian menentukan target tanpa intervensi langsung otoritas fiskal. Kedua, instrument independence, yaitu kemandirian memilih instrumen untuk mencapai target.

George Kopits, ekonom senior Hongaria, dalam artikelnya “Independent Fiscal Institutions” menjelaskan pentingnya otoritas fiskal juga memiliki kemandirian. Lisa von Trapp dan Scherie Nicol, peneliti OECD, dalam penelitian mereka “Designing effective independent fiscal institutions” merangkum mekanisme efektif kemandirian otoritas fiskal di 18 negara OECD.

Richard Hemming dan Philip Joyce dalam artikelnya, “The Role Fiscal Councils in Promoting Fiscal Responsibility”, kembali mengingatkan kita kewenangan fiskal harus dibarengi dengan tanggung jawab dan akuntabilitas.

Bukan saja otoritas moneter dan otoritas fiskal yang melihat perlunya kemandirian, otoritas lain yang berada dalam ekosistem otoritas ekonomi juga merasakan hal yang sama. Kemandirian memang memberikan fleksibilitas, efektivitas, dan efisiensi bagi masing-masing lembaga.

Dalam kerangka pikir ekosistem, kemandirian harus saling terhubung, melengkapi, dan menguatkan. Kemandirian tetap diperlukan untuk memudahkan lokalisasi masalah dan pembenahannya serta fokus pada peran masing-masing. Keterhubungan menjadi kunci keberhasilan ekosistem.

 
Kemandirian memang memberikan fleksibilitas, efektivitas, dan efisiensi bagi masing-masing lembaga.
 
 

Fritz Zurbrügg, ekonom Swiss, dalam artikelnya, “Fiscal and monetary policy: interdependence and possible sources of tension”, secara tepat merumuskan konsep “saling bergantung” sebagai pengganti konsep kemandirian absolut.

Manuel Gonzalez-Astudillo, ekonom the Fed, dalam artikelnya, “Monetary-Fiscal Policy Interactions: Interdependent Policy Rule Coefficients”, merumuskan perhitungan koefisien saling bergantung antara otoritas moneter dan fiskal. Dengan kerangka yang sama, kita dapat menghitung koefisien antara semua otoritas dalam ekosistem otoritas ekonomi.

Kathryn ME Dominguez, ekonom Universitas Michigan, dalam artikelnya, “Monetary Interdependence and Coordination”, mengingatkan pentingnya koordinasi dalam kebijakan ekonomi suatu negara. Bila koordinasi kurang, ini yang harus ditingkatkan. Bila keterhubungan kurang, ini yang harus diperbaiki. Dengan demikian, empathy gap dapat ditangani dengan baik.

Imam Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wa an-Nazha`ir, merumuskan kaidah “Apabila berkumpul sebab utama, dugaan sebab utama dan kenyataan langsung, didahulukan menangani kenyataan langsung itu”. Bila kenyataan langsung melemahnya ekonomi adalah Covid-19, penanganan Covid-19 menjadi prioritas.

Imam Suyuthi melanjutkan, “Dimaafkan suatu kesalahan cara mencapai maksud, tapi tidak dimaafkan pada yang menjadi maksud”. Bila mekanisme kerja yang belum baik, diperbaiki. Namun, mengubah tujuan karena kesalahan cara mencapainya tidak dibenarkan. Hal ini ibarat memanah terlebih dulu, baru menggambar targetnya.

 
Mempercepat jadwal sama mengecewakan dengan memperlambat jadwal. Malah mempercepat azan Maghrib akan membatalkan puasa. Segala sesuatu ada saatnya. Setiap zaman ada orangnya, setiap orang ada zamannya.
 
 

Ini bukan soal goal independence dan instrument independence, melainkan soal goal interdependence dan instrument interdependence. Ini bukan soal political independence dan economic independence, melainkan soal socio-political interdependence dan socio-economic interdependence. Ekosistem otoritas ekonomi harus dapat menyerap aspirasi bangsa dan negara sebagai suatu tujuan.

Menjadi sopir bus umum berbeda dengan sopir mobil pribadi. Sopir bus memiliki tujuan tertentu dengan jalur trayek tertentu. Penumpangnya banyak dan beragam. Dalam keadaan tertentu, sopir bus terpaksa mengambil jalur lain dan segera setelah halangan tidak ada, kembali ke jalur trayeknya. Sangat berbeda dengan sopir mobil pribadi yang bebas menentukan jalur, bahkan bebas mengubah tujuan.

Untuk memberikan kepastian dan kenyamanan, kendaraan umum juga berjadwal. Mempercepat jadwal sama mengecewakan dengan memperlambat jadwal. Malah mempercepat azan Maghrib akan membatalkan puasa. Segala sesuatu ada saatnya. Setiap zaman ada orangnya, setiap orang ada zamannya.

Imam Suyuthi mengingatkan, “Barang siapa yang mempercepat mendapatkan hak sebelum masanya, haram yang diperolehnya.” Telur ayam pun memerlukan kehangatan dan waktu untuk menetas. Menambah kehangatan agar lebih cepat menetas hanya membuatnya menjadi telur rebus.

Allah SWT berfirman, “Bersabarlah, sungguh janji Allah itu benar. Dan janganlah mereka menggelisahkan kamu.” 


,
×