Hikmah Republika Hari ini | Republika
21 Oct 2020, 08:42 WIB

Perkataan Terbaik

Setidaknya ada tiga ciri perkataan yang terbaik.

OLEH MUHAMMAD KOSIM

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (Muslim)'?" (QS Fushshilat [41]: 33).

Setidaknya ada tiga ciri perkataan yang paling baik. Pertama, perkataan yang menyeru kepada Allah SWT (da’a ilallah), menyeru orang untuk menyembah Allah SWT.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menyebut macam dan peringkat mereka. Pertama dan utama diduduki oleh Rasulullah SAW sebagai da’iyan ilallah (QS al-Ahzab [33]: 46). Disusul para ulama dan cendekiawan yang tulus dan mengamalkan ilmu terjun membimbing masyarakat. Sebagian ulama bahkan menyebut mu’adzin pun masuk kelompok ini, meski yang diajak hanya satu orang.

Terkait

Perkataan terbaik yang dapat menggiring dan mengingatkan orang untuk dekat pada Allah serta mengesakan-Nya. Pesannya mengandung kebenaran dan kebaikan, bukan justru perkataan penuh kebencian dan memecah belah umat.

Kedua, orang yang berkata paling baik itu yang beramal saleh. Ibn Katsir dalam tafsir al-Quran al-‘Azhim menjelaskan, perkataan terbaik itu lahir dari orang-orang yang melakukan sendiri apa yang dikatakannya secara konsekuen sehingga bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Maka ciri amal saleh itu melekat dalam diri sehingga setiap perkataan yang muncul bukan sebatas ucapan, tetapi dibuktikan dalam perbuatan. Karakter Mukmin ini yang dibutuhkan umat, menjadi panutan dan teladan.

Ketiga, menyatakan dirinya sebagai Muslim atau berserah diri kepada Allah. Mereka yang memiliki perkataan terbaik tidak menyembunyikan identitas keislamannya. Mereka tidak akan menggadaikan akidahnya dengan mengeluarkan perkataan dusta untuk menutupi keburukan, membela kelompok yang salah, atau demi keuntungan duniawi lainnya. 

Pada tiga ayat selanjutnya Allah SWT mengingatkan untuk melakukan tiga hal pula. Pertama, tolaklah (kejahatan itu) dengan cara lebih baik (QS Fushshilat [41]: 34). Jika ada yang memfitnah, jangan balas dengan fitnah. Mereka yang zalim harus dilawan, tetapi bukan dengan cara yang zalim pula.

Alquran pun mengingatkan setiap Mukmin agar tetap adil, meskipun kepada kaum yang dibenci (QS al-Maidah [5]: 8). Sebab, pada hakikatnya setiap manusia memiliki fitrah yang cenderung pada kebaikan.

Kedua, memiliki sifat sabar dan menginginkan keuntungan yang besar (QS Fushshilat [41]: 35). Tanpa kesabaran dan ketangguhan mental, seseorang akan mudah terpancing mengeluarkan perkataan keji dan buruk ketika menghadapi orang zalim. Maka bersabarlah dan ingatlah keuntungan besar yang akan dianugerahkan Allah kepadanya.

Ketiga, memohon perlindungan Allah dari godaan setan. Jika kejahatan manusia bisa berubah bila dihadapi dengan perilaku baik, maka kejahatan setan tidak demikian. Kejahatan setan bisa menggoda manusia untuk berlaku kasar, marah, egois, dan mengeluarkan perkataan yang tak pantas. Karena itu, bermohonlah kepada Allah agar tetap dilindungi dari tipu daya setan. Wallahu a’lam.


,
×