Subroto | Daan Yahya/Republika
21 Oct 2020, 07:43 WIB

IP Kamu Berapa?

Hubungan narasumber dengan wartawan itu hanya sebatas mencari berita saja, jangan terlalu jauh.

SUBROTO, Jurnalis Republika

Narasumber  banyak macamnya. Ada yang pintar, sok pintar, atau memang tidak pintar. Ada yang  sombong, ada yang sombong sekali. Ada yang baik, ada yang biasa-biasa saja.

Wartawan harus membangun hubungan yang baik dengan narasumber yang bermacam-macam itu. Aku termasuk orang yang agak kaku dengan narasumber. Doktrin yang ku pegang, hubungan narasumber dengan wartawan itu hanya sebatas mencari berita saja. Jangan terlalu jauh.

Saat ditempatkan di desk ekonomi, area liputanku meliputi juga Kementrian Negara Pariwisata dan Seni Budaya. Saat itu menterinya adalah, sebut saja Mr M. Dia adalah seorang akademisi, ahli ekonomi. 

Terkait

Di kalangan wartawan, Mr M ini dikenal sebagai narasumber yang angkuh. Jika merasa tak senang, dia paling suka memojokkan wartawan.  Dia punya dua pertanyaan yang merendahkan wartawan. Pertama, Anda lulusan mana ? Kedua, IP (indeks prestasi) Anda berapa? Dia pikir profesi wartawan itu hanya  buat mahasiswa yang IP-nya jongkok saja.

Tak hanya wartawan yang tak suka dengan Mr M. Banyak pelaku industri pariwisata, bahkan pegawai Kementian Pariwisata yang tak suka dengan gayanya yang angkuh dan sering merendahkan orang lain.

 
Doktrin yang ku pegang, hubungan narasumber dengan wartawan itu hanya sebatas mencari berita saja. Jangan terlalu jauh.
 
 

Ketidaksukaan wartawan dengan Mr M bahkan pernah diekspresikan secara terbuka. Suatu hari ada seminar yang dihadiri oleh Mr M di  Gedung Sapta Pesona. Sebelumnya para wartawan yang ngepos di kementrian itu sudah bersepakat untuk mengerjainya.

Seperti biasa seusai acara seminar wartawan melakukan doorstop terhadap narasumber. Semua sudah siap. Kameramen, fotografer, dan wartawan berkumpul seolah-olah menunggu sang menteri.  

Mr M yang tidak tahu akan dikerjai berjalan ke arah kerumuman wartawan, siap untuk diwawancarai. Begitu sudah dekat, seperti dikomando, semua wartawan bubar mengejar narasumber lain. Tinggal Mr M sendiri. Terbengong-bengong. Mukanya terlihat memerah.

Aku tidak kenal secara pribadi dengan Mr M ini. Pihak humas kementrian  berkali-kali memohon agar Republika mewawancarai khusus sang menteri.  Karena merasa tak enak, akhirnya kusampaikan permintaan itu ke kantor.

Kantor setuju akan mewawancarai Mr M. Tim Republika terdiri dari redaktur Yosrizal Supriaji, fotografer Nonang MR, reporter Ratu Ratna Damayanti , dan aku. Yang akan ditanyakan adalah seputar perkembangan kepariwisataan Indonesia di tengah krisis moneter.

Saat wawancara, pertanyaan kami ajukan berganti-ganti. Tapi aku merasa jawaban-jawaban yang diberikan Mr M tidak logis. Misalnya, dia berjanji mendatangkan 20 juta wisatawan ke Indonesia. “Dalam kondisi normal saja jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia hanya 6 juta, bagaimana mungkin saat krisis moneter ini kita bisa mendatangkan 20 juta wisatawan ? Menurut saya itu tidak logis. Bagaimana strateginya Pak?” cecarku.

 
Aku sampaikan ke humas, bahwa kami  adalah wartawan, bukan anak buah menteri.
 
 

Tak diduga, Mr M tersinggung dengan pertanyaan itu. Mungkin dia tidak suka idenya dibantah oleh seorang reporter bau kencur. “Anda yang tidak logis,” cetusnya. 

Dia terus memberikan argumen. Aku tak mau kalah membalas argumennya dengan data-data yang kupunya. Dia terlihat makin jengkel. Mukanya memerah. Dan keluarlah pertanyaan andalannya yang memojokkan.

“Anda ini tidak paham-paham, IP  Anda berapa ?”

“Di atas tiga, Pak,” jawabku mantap.

Mr M  terlihat kaget. Kalau IP ku jongkok, sudah habislah dihinanya.

Tapi dia melajutkan dengan serangan kedua.“ Anda lulusan mana sih, gini aja nggak paham ?”

“UGM, Pak,” jawabku tenang.

Aku sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. Dan sudah siap jawabannya.

Dia makin kaget. Mungkin dia akan menundukkanku dengan pertanyaan lanjutan yang menghinakan.  Tapi kali ini dia kena batunya. Dia juga lulusan UGM. 

Mr M terlihat makin gusar. Suasana hening. Serba tidak enak. Seandainya cuma wawancara sendirian, sudah pasti aku tinggal pergi dia. 

Tapi untunglah Yosrizal yang lebih dewasa dan berpengalaman,  bisa mencairkan suasana.  Wawancara masih dilanjutkan. Aku tak lagi membantah apa yang disampaikan Mr M, kendati banyak hal yang menurutku tak masuk akal.

Beberapa hari setelah wawancara, pihak humas berkali-kali menanyakan kapan akan ditayangkan hasilnya. Aku sampaikan ke humas, bahwa kami  adalah wartawan, bukan anak buah menteri. Jadi Mr M jangan seenaknya memperlakukan orang lain.

Hasil wawancara itu akhirnya dimuat juga dalam tulisan kecil di rubrik Ihwal. Tidak dalam tulisan panjang seperti rencana sebelumnya. Yang mengagetkan, fotografer Nonang sengaja memasang foto Mr M  sebagai pelengkap tulisan itu dengan ekspresi lagi marah.  Di foto itu mata Mr M mendelik, kedua tangannya diangkat seakan hendak mencengkram orang  di depannya. 

Aku yakin Nonang  punya foto lain yang lebih bagus dan elegan.  Tapi dia kesal juga rupanya.

Tips wawancara dengan narasumber angkuh

- Pelajari materi yang akan diwawancara

- Ketahui tentang latar belakang narasumber  

- Pahami kebiasaan narasumber termasuk kesukaan dan ketidaksukaannya

- Baca buku-bukunya bila dia seorang akademisi

- Buatlah panduan pertanyaan

- Tidak boleh terlambat dari waktu yang dijanjikan

- Jangan mendebat narasumber kendati tidak setuju dengan pernyataannya

- Jangan lupa merekam dan mencatat isi wawancara


,
×