Komunitas Patjar Merah | Dok Patjar Merah
14 Sep 2020, 09:56 WIB

Mereka Enggan Terbelenggu Pandemi

Kita dituntut untuk berpikir 'out of the box' di masa pandemi ini.

Pandemi Covid-19 membuat perubahan besar dalam hidup seluruh warga dunia. Bermain, belajar, hingga bekerja pun menjadi serbaterbatas. Rumah pun menjadi satu tempat yang dianggap paling aman dan nyaman agar terhindar dari rantai penularan Covid-19.

Namun, berada di rumah terus menerus pun bukan hal mudah. Tak sedikit dari kita pun harus memutar otak lebih keras lagi agar bisa bertahan hidup di tengah pandemi. Sebab, banyak kegiatan pada akhirnya tak bisa dilaksanakan, sehingga berkarya pun menjadi terhambat.

Itu pula yang dihadapi para seniman. Mereka dituntut berpikir keras agar tetap mampu berkarya dan kreatif. “Sebenarnya, setiap orang semua itu sudah kreatif. Kreatif itu sudah ada bagi kita untuk digunakan. Termasuk mencoba hal baru, bereksperimen, membuat kesalahan, dan mulai bertanya, itulah tanda kita sudah memakai kreativitas tersebut,” jelas Co-Founder Bartega, Jazz Pratama.

Bartega merupakan sebuah organisasi kegiatan melukis sosial yang dibuat dengan tujuan mengajak semua orang dari berbagai latar belakang untuk bersosialisasi dan melukis bersama. Dia bersama dua orang temannya, mendorong banyak orang tak hanya untuk melukis, namun juga melakukan hal baru untuk melukis sesuatu yang berbeda-beda.

Terkait

Sejak 2017, Jazz mengadakan berbagai kegiatan di berbagai kafe, //co-working space//, bahkan hadir di tempat besar seperti National Museum of Singapore dalam sebuah pertemuan. Dia mengaku tak memiliki modal untuk membuat kegiatan dengan menyewa sebuah ruko.

Selain itu, Bartega juga pernah mengadakan kegiatan bertajuk “Bartega Seminart”. Acara itu  diadakan untuk mendorong peserta agar lebih kreatif dengan belajar dari orang-orang yang berasal dari industri yang berbeda-beda.

Misalnya, orang-orang yang berkecimpung di dunia seni, fesyen, media, makanan dan minuman. “Mereka masing-masing bertemu dan bertukar pikiran, serta kemudian mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di kehidupan sehari-hari,” kata Jazz.

Oleh karenanya, dia berharap, ketika para peserta datang untuk melukis, mereka tak hanya bisa belajar melukis. Melainkan ada nilai tambah lain yang bisa diambil, sehingga mereka menyadari ada sesuatu yang spesial setelah mereka mengikuti acara Bartega.

Sayangnya, lantaran pandemi, mereka tak bisa mengadakan acara yang melibatkan pertemuan langsung. Namun demikian, mereka tak berhenti sampai situ saja. “Jadi kami mundur ke belakang sejenak dan berpikir, kenapa kita melakukan Bartega. Kita mau memperkenalkan mengapa melukis bisa menjadi alat untuk lebih kreatif. Lalu, kita putuskan untuk melakukan semuanya dengan cara daring,” jelas Jazz.

Bartega pun mengadakan empat kali tutorial gratis melukis yang diadakan secara daring di Instagram. Mereka menunjukkan, dengan teknologi, kita masih bisa berkomunikasi dan menikmati manfaat dari melukis yang dilakukan di rumah saja.

Anak kecil dan orang dewasa pun terlibat dalam tutorial ini dengan tujuan mendorong untuk tetap kreatif dan produktif walaupun di rumah saja. Selain itu, Bartega juga memutuskan untuk membuat niaga elektronik sendiri yang menyediakan peralatan melukis yang bisa dibeli oleh masyarakat secara daring.

“Kami juga bekerja sama dengan artis ternama seperti Eko Nugroho, untuk memperdalam seni dan tetap produktif bagi semua orang meskipun mereka berbeda dan memiliki kreativitas masing-masing,” jelas Jazz.

 

Konser daring

Pandemi juga membuat acara tahunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Jazz Goes To Campus (JGTC) tahun ini tak dilaksanakan secara langsung. Tahun ini, para panitia yang berjumlah 298 orang itu harus menyelenggarakannya secara virtual yang diadakan pada 15-30 Mei lalu.

“Tahun ini, kita menemukan pandemi. Idenya adalah kita membuat “Jazz Goes to Connect”. Acara yang baru kita jalani Mei lalu secara periodik dari tanggal 16 sampai 30, puncaknya /live concert/ yang diadakan secara daring,“ kata Project Officer Jazz to Campus Naratama Raja Lubis.

Dia pun merasa beruntung acara yang pada akhirnya diselenggarakan secara daring itu bisa berjalan dengan lancar. Acara puncak pada 30 Mei lalu melibatkan sejumlah musisi seperti Fariz RM Trio, Rahmania Astrini, Vira Talisa, Alika Islamadina, Jazeed, dan pendiri JGTC sendiri yaitu Candra Darusman.

Dalam acara itu, dia berhasil mengumpulkan donasi dari penonton senilai Rp 104 juta, di mana dana yang terkumpul disalurkan untuk bantuan medis masa pandemi. Misalnya untuk persediaan medis seperti masker, baju pelindung diri, dan kacamata pengaman atau /goggles/.

Raja tak memungkiri banyak masalah dan tantangan yang muncul dalam proses pengadaan acara tahunan tersebut. Misalnya persiapan yang sangat cepat, pembiayaan dana yang terhambat, sistem /live streaming/, dan adanya ketidakpastian. “Banyak hal yang membuat kita harus berpikir di luar kotak,” kata Raja. 

Saatnya Bertindak dan Bersikap

Kesuksesan Festival Patjar Merah di berbagai kota membuat pemrakarsa sebuah festival literasi dan pasar buku Patjar Merah, Windy Ariestanty, semakin percaya diri untuk menyelenggarakan ajang serupa. Misi mereka sudah jelas. “Spiritnya bukan minat baca atau literasi yang rendah, tapi akses terhadap literasilah yang tidak merata,” jelas Windy.

photo
Komunitas Patjar Merah - (Dok Patjar Merah)

Festival Patjar Merah sebelumnya telah sukses dihelat di Yogyakarta, Malang, dan Semarang. Adanya festival ini mengundang hingga 40 ribu orang untuk datang bertukar pikiran mengenai bacaan buku dan saling berbagi informasi, sehingga membuat mereka dijuluki “sirkus keliling literasi” oleh media.

Namun, pandemi Covid-19 yang datang ke Indonesia memaksa Festival Patjar Merah di Kota Solo harus ditunda. Tak hanya itu, beberapa festival berikutnya yang direncanakan hadir di beberapa kota lain pada akhirnya ditunda sampai akhir 2020 mendatang.

Pandemi ini tak hanya berimbas pada penyelenggaraan Festival Patjar Merah. Toko-toko buku pun harus tutup, festival literasi harus menahan diri, dan penerbit pun harus merumahkan karyawan.  “Saat itulah kami berpikir untuk memulai Festival Patjar Merah virtual diselenggarakan. Pada awalnya kami jadwalkan pada Agustus 2020, kami majukan pada April 2020 lalu,” jelas dia.

photo
Komunitas Patjar Merah - (Dok Patjar Merah)

Acara yang memiliki persiapan hanya selama tiga pekan itu diadakan dengan agenda pasar buku virtual dan festival literasi yang terdiri atas kelas-kelas literasi yang diampu para penulis dan pegiat literasi yang berbayar. Menurut Windy, biaya itu akan membantu para penerbit yang saat ini tengah lesu.

Gotong royong itu berlanjut kepada penggalangan dana pengadaan beasiswa untuk para peserta yang tidak bisa mengikuti kelas-kelas literasi yang berbayar. Galang dana juga dilakukan dalam bentuk lelang puisi yang dibacakan oleh tokoh-tokoh yang hadir dalam festival

Dananya kemudian dialokasikan membantu berbagai macam kegiatan. Salah satunya adalah taman baca Pelangi yang berkontribusi pengiriman paket pembelajaran kepada anak-anak yang berada di Indonesia timur karena keterbatasan akses belajar seperti internet.

“Lainnya adalah kami membantu ‘Mama Jahit’ atau Majelis Mau Jahitin. Ini adalah kolaborasi para seniman dan para ibu-ibu penjahit di Yogyakarta untuk membuat APD (Alat Pelindung Diri) kepada tenaga kesehatan di seluruh Indonesia,” jelas dia.

Windy menyadari, kewajaran baru karena pandemi ini merupakan sebuah kepulangan. Patjar Merah kemudian fokus lagi kepada hal-hal yang sempat mereka tunda, yaitu Akademi Patjar Merah secara virtual. “Adanya pandemi membuat kita tersadar bahwa ini bukan waktunya mengeluh. Ini waktunya bertindak, bersikap, dan menunjukkan bersama-sama melakukan literasi,” jelas Windy.

photo
Komunitas Patjar Merah - (Dok Patjar Merah)

 

Jangan Biarkan Jiwa Terbelenggu

Keterbatasan bagi seorang seniman atau desainer berbasis di New York, Wahyu Ichwandardi dan istrinya yang juga seorang seniman, Dita, bukanlah sebuah hambatan. Mereka menganggap, keterbatasan merupakan sebuah peluang untuk menemukan sebuah hal baru, belajar hal baru, dan peluang untuk berbagi ke sesama mengenai apa yang dimiliki.

“Dari kecil, kami hidup dalam keterbatasan ekonomi. Otak kami dipaksa untuk terus berputar untuk bisa bertahan hidup, dan untuk merawat mimpi,” kata laki-laki yang akrab disapa Pinot itu.

Cara untuk bertahan hidup dengan cara kreatif dan merawat mimpi itu dibawa pasangan suami istri itu sampai mereka dewasa dan berkeluarga. Menurut Pinot, memiliki keterbatasan tak lantas membuat keluarganya menyerah. Sebaliknya, mereka mencari pintu-pintu dan celah untuk mencoba hal baru, agar bisa tetap hidup sehat jiwa serta raga.

Berkeluarga lalu merantau, memiliki banyak andil bagi pola pikir pasangan itu. Sebelum merantau ke New York, kota yang mereka tinggali saat ini, mereka sempat merantau terlebih dahulu di Kuwait.

Banyak halangan dan tantangan ketika mereka beserta dua anaknya tinggal di sana. Selain jauh dari orang tua di Indonesia, mereka juga memiliki akses yang terbatas saat tinggal di sana. “Ini seperti bermain gim bagi kami. Mengatur siasat dan strategi supaya bisa bertahan hidup. Di sana mau keluar pada saat musim panas, sangat panas bisa 52 derajat dan sejauh mata memandang, adalah pasir. Ini yang menjadi tantangan bagi kami,” jelas Dita.

Karena panasnya udara luar membuat mereka dan anak-anak mereka tidak bisa bermain, maka pasangan itu pada akhirnya membuat ‘taman bermain’ sendiri di tempat tinggalnya dengan berbagai macam bahan sederhana. Bahkan, mereka menghasilkan karya-karya unik dari eksperimen-eksperimen yang terus digali dan mengetahui batas kemampuan mereka.

Tetap kreatif dalam keterbatasan pun diterapkan pada saat mereka mendidik anak-anak mereka. Menurut Pinot, anak-anak harus terbiasa berpikir kreatif. Bukan hanya kreatif di bidang seni saja, namun juga kreatif dalam menyiasati keadaan dan mengatasi masalah.

Pada saat pandemi Covid-19, keduanya mengaku sama dengan yang lain, yaitu harus terkungkung di dalam rumah dan tidak bisa ke mana-mana. Pinot menegaskan, mungkin raga mereka yang boleh terkungkung, namun dia tak akan membiarkan jiwa mereka terbelenggu.

 
Raga mereka yang boleh terkungkung, namun tak akan membiarkan jiwa mereka terbelenggu.
 
 

Ada sejumlah keberuntungan yang masih bisa didapatkan pada saat pandemi saat ini. Pinot menuturkan, mereka beruntung masih bisa memasak, makan, masih bisa memenuhi kebutuhan dasar, dan masih ada internet di masa pandemi ini. “Rasanya tidak adil, kalau kami mengeluh. Maka dari itu, lebih baik kami bergerak, bukan untuk kami sendiri, tapi untuk orang lain, yaitu kepada orang-orang yang ada di lingkungan tempat kami tinggal,” kata Pinot.

Pergerakan itu, lanjut Dita, tak hanya dari materi, melainkan dari tenaga, kemampuan, dan keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama. Keluarga itu pun membuat masker kain bersama-sama secara sukarela dan menyumbangkannya kepada yang membutuhkan.

Pada awalnya, New York City sempat mengalami kelangkaan masker. Dita pun bergerak dan berinisiatif untuk membuat tutorial masker untuk level pemula yang direkam melalui video.

Hal itu ditujukan agar masyarakat tak mengalami ketergantungan kepada ketersediaan masker yang ada di pasaran. Mengingat masker pun diprioritaskan untuk dipakai oleh tenaga medis yang berada di garis depan dalam melawan pandemi ini.

Masker yang dibuat keluarga ini pun disumbangkan kepada organisasi atau perkumpulan dokter-dokter yang ada di New York sebagai alat darurat medis. Selain itu, masker juga disumbangkan untuk komunitas pekerja kreatif Amerika di Arizona.

Batas-batas fisik, kata Dita, bisa ditembus secara daring, sehingga tak ada halangan bagi keduanya untuk membantu organisasi yang ada di Tanah Air. Mereka bergerak dengan menyumbangkan desain-desain masker yang bisa dicetak pada masker.

Pasangan itu juga mengajak anak-anak untuk terlibat dalam pembuatan masker. Hal itu ditujukan agar mereka belajar untuk peduli dengan hal-hal di sekitar mereka.  “Mereja juga akan belajar dengan memakai masker yang artinya menghormati hak orang lain untuk tetap sehat,” jelas Dita.

Di masa pandemi ini, Pinot juga menjalani beberapa proyek yang juga melibatkan anak-anak mereka. Sebab, kegiatan bersama itu pada akhirnya membantu mereka untuk melewati masa-masa sulit. “Mereka belajar menyalurkan rasa bosan dan menyalurkan energi negatif menjadi sebuah karya. Karena kami berdua berkecimpung di seni, maka bahasa seni yang kami gunakan untuk membimbing mereka,” kata Pinot.

Salah satu karya yang berhasil mereka telurkan di masa pandemi adalah proyek video lirik milik band Twenty One Pilots. Proyek ini merupakan sebuah proyek yang mengusung kebersamaan keluarga di masa pandemi, sehingga Pinot pun melibatkan keluarganya untuk membuat video lirik salah satu lagu band itu.

Tentu, bekerja untuk sebuah band idola keluarga itu, terutama bagi anak-anak mereka, adalah sebuah pencapaian tersendiri. “Mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, maka akan memberikan hasil yang baik,” jelas Pinot.

Dita menambahkan, tantangan dalam keterbatasan bukan menjadi sebuah penghambat. Dengan mental yang siap dan kreativitas, ini akan menjadi peluang untuk belajar dan berkembang.

Pasangan itu berharap, dengan perjalanan yang penuh petualangan itu dapat memberikan bekal kepada ketiga anaknya kelak untuk tetap kuat secara mental dan kreatif dalam berkarya. “Jadi individu yang bermanfaat dan berguna bagi sekitarnya,” kata Pinot.

 
Mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, maka akan memberikan hasil yang baik.
Wahyu Ichwandardi
 


×