Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
21 Oct 2020, 07:50 WIB

Konspirasi Angka-Angka

Angka-angka ini nyata, sama sekali bukan konspirasi.

OLEH ASMA NADIA

“Apa Mbak Asma punya saudara atau kenalan langsung yang positif Covid?”

“Terlalu dilebih-lebihkan.”

 “Jangan naif. Namanya juga permainan. Bisnis!”

Terkait

“Ini sepenuhnya konspirasi!”

Tidak sedikit pihak bicara senada. Sebagian besar dari mereka bukan ahli dan tidak memiliki rujukan. Kalau pun ada yang bermodal sedikit data, telah dicampur aduk dengan asumsi sesuka hati. Meski begitu, ketika pertama mendapat pertanyaan di atas saya harus menjawab jujur.

“Ya, memang sejauh ini tidak ada kenalan langsung yang menderita Covid-19.” Jawaban yang disambut sukacita, merasa pendapat yang mereka gaungkan beroleh pembenaran.

“Saya bilang apa, Mbak. Ini konspirasi!” Benarkah ini kesimpulan yang benar atas situasi demikian? Benak saya protes. Apakah karena kita tidak mengenal satu pun penderita AIDS maka penyakit tersebut tidak ada?

Dengan logika yang sama, apakah karena kita tidak kenal satu pun orang dari Islandia maka negara itu tidak ada? Ketika bantahan tersebut saya suarakan, mereka terdiam. Tidak membantah, tetapi tetap merasa pendapatnya benar.

Saya hanya khawatir, jika ada ibu yang menyepelekan fakta keberadaan korona, bagaimana keselamatan anak-anak mereka? Jika ada pemimpin mengabaikan keberadaan Covid-19, bagaimana nasib rakyatnya?

 
Sikap menganggap remeh atau menebarkan berita tanpa fakta, sama sekali tak membantu. Malah, meletakkan Indonesia pada titik lebih riskan. 
 
 

Sebagai orang tua, sebagai bagian masyarakat, saya tetap merasa setiap kita, punya keharusan menyerukan pentingnya menyeriusi keberadaan pandemi, terutama ketika zona merah betebaran di mana-mana.

Memang tidak banyak yang secara frontal berani meragukan ancaman Covid-19, tetapi dari perilaku mereka yang mengabaikan masker, berkumpul tanpa jaga jarak, berolahraga ramai-ramai, cukup menunjukkan banyaknya lapisan masyarakat yang masih menganggap remeh keberadaan korona.

Sungguh sulit dipercaya, sebenarnya, jika masih saja ada yang menyepelekan pandemi yang terjadi. Padahal, sudah mencatat rekor sebanyak 26.450.000 kasus di dunia, dengan kematian 872 ribu.

Di Tanah Air, lebih dari seratus dokter telah gugur. Belum terhitung dokter gigi ataupun perawat dan tenaga kesehatan (nakes) lain. Angka-angka ini nyata, sama sekali bukan konspirasi. Barangkali malah ada yang luput terdata.

Membayangkan, bagaimana perasaan para nakes melepas teman sejawat yang terjangkit virus ini dan berpulang, sungguh menghancurkan hati. Tetap saja, beberapa pihak yang keras kepala bergeming. Mengulang lagi pertanyaan di awal.

Apakah saya mengenal seseorang yang terkena korona? Pertanyaan yang sayangnya telah memiliki jawaban berbeda. Benar, dulu saya tidak mengenal satu pun. Namun, kini bukan cuma satu atau dua orang.

Bahkan, pada saat tulisan ini dibuat, seorang teman tengah melakukan isolasi mandiri beserta keluarga, setelah mengetahui mereka positif.

Seorang sahabat yang juga aktivis kemanusiaan, tengah berjuang di ICU setelah kondisinya terus memburuk. Menyisakan derai air mata di wajah istri dan putri tunggalnya. Seorang teman SMA, sekaligus dokter bedah jantung yang hebat, kondisinya tengah mengkhawatirkan hingga harus dibantu ventilator.

Mereka, barangkali tetap cuma angka-angka yang diramu isu konspirasi, bagi yang tidak mengenalnya. Akan tetapi bagi pasangan, anak-anak, orang tua, saudara, keluarga besar, sahabat, dan teman, mereka bukan angka. Mereka sosok berharga yang selamanya tak akan bisa tergantikan.

Pandemi di Tanah Air tercinta jauh dari mereda. Sikap menganggap remeh atau menebarkan berita tanpa fakta, sama sekali tak membantu. Malah, meletakkan Indonesia pada titik lebih riskan. Penting menyadari betapa terbatas pengetahuan kita sebagai manusia.

Terlepas hal-hal yang belum kita ketahui saat ini, dan mungkin jawabannya baru akan kita peroleh di masa depan, atau selamanya akan tetap menjadi misteri, tidak ada salahnya bersikap waspada dan hati-hati.

Silakan berasumsi sewenang-wenang selama ia hanya dibiarkan mengendap di kepala sendiri. Saya tidak berani! Pandemi ini bukan konspirasi! Apakah mereka harus menunggu kenalannya kena, baru percaya? 


,
×