Subroto | Daan Yahya/Republika
21 Oct 2020, 08:39 WIB

Menyamar Jadi Puspen TNI

Informasi background didapat melalui dokumen, wawancara, dan pengamatan

SUBROTO, Jurnalis Republika

Sampai awal-awal reformasi, liputan di Markas Besar (Mabes) TNI Cilangkap, masih penuh dengan aturan. Soal pakaian misalnya, tak boleh pakai jeans, tak boleh pakai t-shirt, dan untuk wanita harus memakai rok panjang. Jangan mimpi pakai sandal, sudah pasti diusir sebelum sampai lokasi acara.

Acara-acara juga banyak yang tertutup untuk wartawan. Padahal TNI saat itu masih menjadi pos penting. Setiap geliat di TNI adalah berita penting.  Informasinya banyak dicari.

Soal berpakaian aku merasa agak beruntung. Dulu aku lebih suka memakai celana bahan dibanding jeans. Baju pun biasanya lengan panjang yang digulung rapi dan dimasukkan ke dalam celana. Sandal? Tidaklah. Aku selalu bersepatu dan berkaus kaki saat liputan.

Terkait

Karena itu aku tak pernah keberatan dengan aturan berpakaian saat liputan di Mabes TNI. Bahkan gaya berpakaianku yang seperti ‘anak daerah’ ini, sering menguntungkan.

Ceritanya, suatu hari wartawan mendapat informasi bahwa Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur akan mengadakan buka bersama dengan para perwira di Mabes TNI.

 
Tanpa pikir panjang,  aku ikut barisan personel Puspen TNI. Menyamar bagian dari mereka. Tak terlalu peduli apa resikonya jika ketahuan. Nekad saja.
 
 

Mendengar kabar itu, menjelang sore wartawan sudah berkumpul  di tempat acara di Mabes TNI, Cilangkap.  Siapa tahu Gus Dur menyampaikan hal penting di hadapan perwira nanti saat buka bersama.

Sialnya, ternyata acara itu tak terbuka untuk umum. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Marsda Graito Usodo menjelaskan, atas pemintaan istana, acara tersebut tertutup bagi wartawan. Yang diperbolehkan masuk ke tempat acara hanya personel Puspen TNI, termasuk kameramen dan fotografer mereka.

Tentu saja wartawan menggerutu. Jauh-jauh datang ke Mabes TNI Cilangkap, eh, malah tak diperbolehkan liputan. Mau protes percuma. Yang akan dihadapi dua lapis, pihak Mabes TNI dan protokoler istana.  Kecil kemungkinan untuk bisa lolos jika memaksa masuk. Satu-persatu wartawan pun bubar.

Aku tak ikut langsung balik pulang. Sambil duduk aku berpikir keras bagaimana bisa masuk ke lokasi acara.   Kulihat empat personel Puspen TNI sudah berjalan siap menuju ke dalam ruangan.  

Aku perhatikan pakaian mereka. Seragam biru-biru. Kulirik baju  dan celana yang kupakai. Ahaa..  Kebetulan warnanya  koq persis sama dengan seragam yang dipakai personel Puspen TNI itu. 

Tanpa pikir panjang,  aku ikut barisan personel Puspen TNI. Menyamar bagian dari mereka. Tak terlalu peduli apa resikonya jika ketahuan. Nekad saja.

Aku berusaha  bersikap setenang mungkin. Empat personel Puspen TNI memasuki metal detector. Aku di urutan kelima. Mungkin karena sudah tahu rombongan Puspen TNI, protokoler istana tak memeriksa ID atau undangan mereka. Mereka hanya menyebut.‘Puspen”. Langsung masuk.

Giliran aku masuk. Petugas protokoler melirik.”Rombongan,” kataku sambil menunjuk keempat personel di depan.

Karena ‘seragam’  yang sama dengan personel Puspen TNI, petugas protokoler istana tak curiga sama sekali. Padahal jantungku berdetak tak karuan. Kalau ketahuan, bisa diintrograsi Paspampres karena menyusup ke acara presiden.

Lolos. Sambil senyum-senyum aku berjalan ke ruangan yang sudah ramai dengan undangan. Aku sengaja mencari tempat duduk di pojok agar tak menarik perhatian. Acara demi acara kuikuti. Sambutan Presiden Gus Dur kurekam diam-diam. 

Saat asyik menyimak pidato, tiba-tiba ada yang menepuk dari belakang. “Heh.” Aku menoleh, kaget bukan main. Kapuspen Graito Usodo duduk di belakangku. Matanya menyelidik.“Siapa yang ngasih izin masuk ?” tanyanya pelan. “Ini,” jawabku tersenyum sambil memegang ‘seragam’  Puspen yang kukenakan.

“Waduh,” keluhnya sambil menepuk jidat. Wajahnya masih kecut. Kami berdebat, pelan-pelan. Graito memintaku untuk keluar ruangan.Tapi aku bertahan, toh sudah mengikuti semua acara. Akhirnya kami bersepakat, demi kebaikan bersama aku tak memberitakan isi pertemuan itu. Rekaman kujadikan bahan informasi saja.

Aku melanjutkan mengikuti acara sampai selesai. Tapi tak lagi was-was ketahuan.  Walaupun tak bisa menulis berita dari pembicaraan dalam acara itu, tapi aku mendapatkan sejumlah informasi penting sebagai background  (data pendukung) untuk menulis di lain waktu.

Tips menggunakan bahan liputan sebagai background

Informasi background didapat melalui dokumen, wawancara, dan pengamatan.

Informasi background digunakan sebagai data penguat saja (data sekunder).

Tidak menyebutkan sumber secara jelas, biasanya menggunakan kata “ sumber yang dipercaya” atau “sumber resmi”.

Pihak kantor (biasanya redaktur) harus mengetahui siapa sebenarnya sumber yang dijadikan background.


,
×